Jumat, 09 Januari 2026

Manusia Tanpa Dada: Ketika Moral Tinggal di Kolom Komentar

Di zaman sekarang, menjadi orang baik itu mudah. Cukup pakai kata “menurutku”, tambahkan emoji hati, lalu akhiri dengan “no offense ya”. Selesai. Moralitas pun sah. Kalau ada yang keberatan, berarti dia kurang compassionate. Inilah dunia yang, jauh sebelum Twitter, sudah diendus C.S. Lewis dengan hidung filsafatnya yang tajam: dunia manusia tanpa dada.

Tweet dari Athenaeum Book Club mengingatkan kita pada buku The Abolition of Man, sebuah karya yang isinya serius, tapi sayangnya justru makin terasa lucu karena terbukti benar. Lewis mengkritik masyarakat modern yang alergi pada kebaikan objektif, namun tergila-gila pada kesan baik hati. Kita tidak lagi bertanya “apakah ini benar?”, melainkan “apakah ini terasa baik?”. Dan jika terasa baik, meski menghancurkan akal sehat, maka dianggap mulia.

Lewis menyebut hasilnya sebagai men without chests: manusia yang kepalanya penuh data, perutnya penuh hasrat, tapi dadanya—tempat keberanian, kehormatan, dan naluri moral—kosong melompong. Mereka pintar, tapi tidak punya nyali. Rasional, tapi tak tahu untuk apa rasionalitas itu dipakai. Akibatnya, manusia modern mirip kalkulator canggih yang sensitif: cepat menghitung, mudah tersinggung.

Yang lucu (atau tragis), relativisme moral ini sering tampil dengan wajah paling ramah. Kata “belas kasih” berubah menjadi kartu sakti. Semua kebijakan, sensor, larangan, dan penghakiman bisa dibungkus dengan compassion. Tidak setuju? Berarti Anda kejam. Berani bertanya? Anda tidak empatik. Inilah belas kasih tanpa kompas, yang bisa mengarah ke mana saja—tergantung siapa yang memegang mikrofon.

Lewis meminjam Plato untuk menjelaskan apa itu “dada”. Bukan organ biologis, tentu saja, melainkan pusat jiwa yang menjembatani akal dan nafsu. Di sanalah keberanian tinggal. Tanpa dada, akal hanya jadi pelayan nafsu, bukan pemandu moral. Maka lahirlah generasi yang tahu segalanya tentang dampak karbon, tapi tak punya keberanian menolak kebijakan konyol. Tahu semua istilah keadilan sosial, tapi gemetar ketika harus membela kebenaran yang tidak populer.

Lewis bahkan menertawakan pendidikan modern yang mengajarkan bahwa kekaguman pada air terjun hanyalah perasaan subjektif. Air terjunnya tidak indah—kitalah yang merasa indah. Murid pun lulus dengan nilai bagus dan dada kosong: mereka bisa menganalisis keindahan, tapi tidak lagi merasakannya sebagai sesuatu yang patut dihormati. Ini pendidikan yang sukses mencetak manusia cerdas yang bingung mengapa hidup terasa hampa.

Di era sekarang, kritik Lewis terasa seperti ramalan yang bocor ke masa depan. Cancel culture berjalan di bawah panji kepekaan, teknologi berkembang atas nama kemanusiaan, dan algoritma mulai tahu apa yang “baik” untuk kita—tentu tanpa bertanya pada dada kita yang sudah lama dipensiunkan. Kita dilindungi, diatur, dan disensor demi kebaikan bersama, sementara keberanian moral dianggap barang berbahaya.

Akhirnya, peringatan Lewis bukanlah seruan untuk kembali ke masa lalu, melainkan ajakan untuk mengisi ulang dada kita. Bukan dengan kemarahan, tetapi dengan kehormatan. Bukan dengan sentimentalitas, tetapi dengan kebajikan yang berani. Tanpa itu, kita mungkin akan terus menjadi manusia yang sangat baik—baik hati, baik kata-kata, baik di bio media sosial—sambil pelan-pelan kehilangan keberanian untuk menjadi manusia yang benar.

Dan seperti yang sudah diperingatkan Lewis, ketika dada menghilang, yang tersisa bukanlah malaikat, melainkan manusia-manusia jinak yang siap dipimpin ke mana saja, selama pimpinannya terdengar cukup baik.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.