Dunia komputasi modern awalnya tampak sederhana: siapa prosesornya paling cepat, dia menang. Namun kini perlombaan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih eksistensial—bukan lagi soal berapa gigahertz, melainkan berapa semesta yang Anda pakai untuk menghitung. Dalam babak terbaru ini, Google memperkenalkan chip kuantum bernama Willow, sebuah mesin yang bukan hanya membuat superkomputer konvensional minder, tetapi juga membuat filsuf, fisikawan, dan penulis fiksi ilmiah serempak mengangguk serius sambil berkata, “Sebentar… ini maksudnya bagaimana?”
Secara teknis, kabarnya Willow mampu menyelesaikan sebuah komputasi rumit dalam waktu kurang dari lima menit. Masalah yang sama, jika diserahkan kepada superkomputer klasik tercanggih, diperkirakan selesai dalam 10 septiliun tahun. Angka ini begitu besar sehingga otak manusia otomatis berhenti menghitung dan memilih strategi bertahan hidup: tertawa kecil sambil bertanya, “Itu masih satuan waktu atau sudah mantra?” Sebagai perbandingan, usia alam semesta “hanya” sekitar 13,8 miliar tahun—artinya superkomputer klasik akan selesai jauh setelah bintang-bintang pensiun dan galaksi masuk masa pensiun dini.
Inilah yang disebut Google sebagai supremasi kuantum: momen ketika komputer klasik tidak lagi kalah cepat, tetapi kalah secara prinsip. Bukan soal upgrade RAM atau ganti kipas pendingin, melainkan karena dari awal ia memang tidak diundang ke pesta ini. Willow bukan berlari lebih cepat; ia berlari di lintasan yang berbeda, dengan hukum fisika sebagai wasit yang sudah berpihak sejak awal.
Namun, kejenakaan sesungguhnya baru dimulai ketika pencapaian teknis ini ditarik ke wilayah metafisika. Beberapa tokoh, termasuk dari internal Google, dengan wajah serius dan slide presentasi rapi, menghidupkan kembali Interpretasi Banyak Dunia. Menurut pandangan ini, komputer kuantum bisa begitu cepat karena ia diam-diam meminjam tenaga komputasi dari alam semesta paralel. Jadi, ketika Willow menghitung, ia tidak bekerja sendirian—ia bekerja bersama ribuan versi dirinya di semesta lain yang sama-sama sedang lembur.
Dalam analogi populer: bit klasik itu seperti saklar lampu—nyala atau mati. Qubit, sebaliknya, adalah saklar yang nyala dan mati sekaligus, sampai Anda menengoknya. Dengan 100 qubit, ada 2¹⁰⁰ kemungkinan keadaan. Bagi pendukung Many-Worlds, ini bukan sekadar angka di papan tulis, melainkan bukti bahwa setiap kemungkinan itu benar-benar terjadi di cabang realitas yang berbeda. Artinya, Willow tidak sekadar menghitung—ia mendeligasikan tugas ke multiverse. Manajemen proyek level kosmik.
Tentu saja, tidak semua fisikawan nyaman dengan ide bahwa chip Google telah membuka portal antarsemesta. Banyak yang memilih penjelasan lebih kalem: semua itu bisa dijelaskan lewat matematika mekanika kuantum standar—superposisi, keterikatan, dan ruang Hilbert berdimensi tinggi. Bagi mereka, multiverse hanyalah metafora yang terlalu bersemangat, semacam brosur pariwisata kosmos yang dibuat agar publik terkesima. Tapi di sinilah letak kecerdikan narasi: Google bukan sekadar menjual chip, melainkan menjual rasa takjub eksistensial.
Di luar debat kosmiknya, Willow tetap punya implikasi yang sangat membumi. Ia berpotensi merevolusi simulasi molekul untuk penemuan obat, mengoptimalkan logistik dan kecerdasan buatan, serta—ini bagian yang membuat pakar keamanan berkeringat—mengancam sistem enkripsi yang selama ini kita anggap sakral. Jadi, sambil para filsuf mendiskusikan realitas paralel, para insinyur keamanan sibuk bertanya, “Password kita masih aman, kan?”
Pada akhirnya, Willow adalah mesin yang aneh tapi jujur: sebuah chip silikon yang membuat kita mempertanyakan hakikat alam semesta. Ia bukan hanya alat hitung, melainkan cermin yang memantulkan keterbatasan pemahaman kita. Apakah Willow benar-benar meminjam tenaga dari semesta lain, atau sekadar memanfaatkan keanggunan matematika kuantum yang belum sepenuhnya kita cerna, satu hal jelas—kita telah memasuki era di mana komputer tidak hanya menjawab soal, tetapi juga balik bertanya: “Sebenarnya, realitas itu apa?”
Dan mungkin di suatu semesta paralel, versi lain dari kita sedang membaca esai ini, sambil berkata, “Chip Google hebat, tapi esainya lebih cepat bikin pusing.”
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.