Di dunia geopolitik modern, ide perdamaian sering lahir bukan dari keheningan meditasi, melainkan dari cuitan media sosial. Maka tak heran jika gagasan Donald Trump tentang membentuk “Board of Peace” terdengar seperti judul acara realitas baru: “The Apprentice: Global Conflict Edition.” Bedanya, yang dipecat bukan kontestan, melainkan tatanan multilateralisme klasik ala PBB.
Trump, dengan ketidaksabarannya yang legendaris terhadap
proses rapat panjang dan resolusi yang dibaca tapi jarang ditaati, tampaknya
ingin dunia diatur seperti rapat direksi perusahaan: cepat, tegas, dan kalau
bisa diposting dulu baru dipikirkan belakangan. Namun persoalan menariknya
bukan pada dewan itu sendiri, melainkan pada satu pertanyaan krusial: siapa
yang paling “damai” di ruangan yang penuh jenderal, sanksi, dan kapal induk?
Anehnya—dan ini bagian yang membuat para analis perlu minum
kopi ekstra—jawabannya justru mengarah ke Xi Jinping.
Bayangkan adegannya: Trump datang dengan gaya deal
maker, Eropa membawa map NATO yang beratnya setara anggaran militer, Rusia
hadir dengan wajah lelah akibat perang atrisi yang tak kunjung tamat, dan Xi
Jinping duduk tenang seperti kepala desa yang sudah terlalu sering melihat
warganya bertengkar soal batas sawah. Di tengah kegaduhan itu, Xi justru tampak
sebagai figur paling “kalem”, setidaknya di atas kertas diplomasi.
Ini tentu ironi kelas dunia. Trump, yang mengklaim diri
sebagai pembawa damai, punya kebiasaan menjatuhkan sanksi ekonomi seperti kupon
diskon: cepat, massal, dan tanpa basa-basi. Inggris dan Prancis, meski
berbicara tentang nilai-nilai universal, tetap terikat janji setia pada
NATO—organisasi yang logonya saja sudah cukup membuat produsen senjata
tersenyum. Rusia? Ia datang ke dewan perdamaian sambil membawa luka perang yang
masih berdarah.
Sementara itu, China memilih pendekatan yang lebih… administratif.
Alih-alih mengirim tank, Beijing mengirim kontraktor. Alih-alih pangkalan
militer, mereka membangun pelabuhan. Lewat Belt and Road Initiative, China
seolah berkata: “Kami tidak menembak Anda. Kami hanya ingin membangun
jalan… yang kebetulan membuat Anda berutang 30 tahun.” Sebuah
pendekatan damai, tentu saja—dengan cicilan.
Secara resmi, China tetap memegang mantra sakti:
non-intervensi, dialog, dan pembangunan bersama. Ketegangan di Laut China
Selatan dan Taiwan memang membuat dunia mengernyit, tetapi secara retoris,
Beijing selalu tampil sebagai pihak yang paling rajin menyebut kata
“stabilitas”. Dan di dunia diplomasi, siapa pun yang paling sering menyebut
stabilitas biasanya sedang memegang kendali dengan sangat hati-hati.
Maka jika Board of Peace benar-benar
terbentuk, bisa jadi Xi Jinping justru keluar sebagai pemenang moral—bukan
karena China tanpa dosa, melainkan karena dosa-dosanya dibungkus dengan bahasa
pembangunan, bukan dentuman meriam. Saat AS dan sekutunya sibuk menghitung
biaya jet tempur, China menghitung ROI pelabuhan dan jalur kereta.
Pada akhirnya, dewan perdamaian versi Trump mungkin akan
mengajarkan satu hal penting: bahwa di abad ke-21, perdamaian bukan lagi soal
siapa yang paling kuat memukul meja, melainkan siapa yang paling sabar menunggu
lawan terikat kontrak. Dan jika itu definisinya, maka benar adanya—perdamaian
global masa depan mungkin tidak ditentukan oleh siapa yang paling sering
menembak, melainkan oleh siapa yang paling lihai menawarkan stabilitas… lengkap
dengan proposal pembangunan setebal kitab suci.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.