Senin, 26 Januari 2026

Dewan Perdamaian ala Trump: Ketika Meja Bundar Lebih Panas dari Medan Perang

Di dunia geopolitik modern, ide perdamaian sering lahir bukan dari keheningan meditasi, melainkan dari cuitan media sosial. Maka tak heran jika gagasan Donald Trump tentang membentuk “Board of Peace” terdengar seperti judul acara realitas baru: “The Apprentice: Global Conflict Edition.” Bedanya, yang dipecat bukan kontestan, melainkan tatanan multilateralisme klasik ala PBB.

Trump, dengan ketidaksabarannya yang legendaris terhadap proses rapat panjang dan resolusi yang dibaca tapi jarang ditaati, tampaknya ingin dunia diatur seperti rapat direksi perusahaan: cepat, tegas, dan kalau bisa diposting dulu baru dipikirkan belakangan. Namun persoalan menariknya bukan pada dewan itu sendiri, melainkan pada satu pertanyaan krusial: siapa yang paling “damai” di ruangan yang penuh jenderal, sanksi, dan kapal induk?

Anehnya—dan ini bagian yang membuat para analis perlu minum kopi ekstra—jawabannya justru mengarah ke Xi Jinping.

Bayangkan adegannya: Trump datang dengan gaya deal maker, Eropa membawa map NATO yang beratnya setara anggaran militer, Rusia hadir dengan wajah lelah akibat perang atrisi yang tak kunjung tamat, dan Xi Jinping duduk tenang seperti kepala desa yang sudah terlalu sering melihat warganya bertengkar soal batas sawah. Di tengah kegaduhan itu, Xi justru tampak sebagai figur paling “kalem”, setidaknya di atas kertas diplomasi.

Ini tentu ironi kelas dunia. Trump, yang mengklaim diri sebagai pembawa damai, punya kebiasaan menjatuhkan sanksi ekonomi seperti kupon diskon: cepat, massal, dan tanpa basa-basi. Inggris dan Prancis, meski berbicara tentang nilai-nilai universal, tetap terikat janji setia pada NATO—organisasi yang logonya saja sudah cukup membuat produsen senjata tersenyum. Rusia? Ia datang ke dewan perdamaian sambil membawa luka perang yang masih berdarah.

Sementara itu, China memilih pendekatan yang lebih… administratif. Alih-alih mengirim tank, Beijing mengirim kontraktor. Alih-alih pangkalan militer, mereka membangun pelabuhan. Lewat Belt and Road Initiative, China seolah berkata: “Kami tidak menembak Anda. Kami hanya ingin membangun jalan… yang kebetulan membuat Anda berutang 30 tahun.” Sebuah pendekatan damai, tentu saja—dengan cicilan.

Secara resmi, China tetap memegang mantra sakti: non-intervensi, dialog, dan pembangunan bersama. Ketegangan di Laut China Selatan dan Taiwan memang membuat dunia mengernyit, tetapi secara retoris, Beijing selalu tampil sebagai pihak yang paling rajin menyebut kata “stabilitas”. Dan di dunia diplomasi, siapa pun yang paling sering menyebut stabilitas biasanya sedang memegang kendali dengan sangat hati-hati.

Maka jika Board of Peace benar-benar terbentuk, bisa jadi Xi Jinping justru keluar sebagai pemenang moral—bukan karena China tanpa dosa, melainkan karena dosa-dosanya dibungkus dengan bahasa pembangunan, bukan dentuman meriam. Saat AS dan sekutunya sibuk menghitung biaya jet tempur, China menghitung ROI pelabuhan dan jalur kereta.

Pada akhirnya, dewan perdamaian versi Trump mungkin akan mengajarkan satu hal penting: bahwa di abad ke-21, perdamaian bukan lagi soal siapa yang paling kuat memukul meja, melainkan siapa yang paling sabar menunggu lawan terikat kontrak. Dan jika itu definisinya, maka benar adanya—perdamaian global masa depan mungkin tidak ditentukan oleh siapa yang paling sering menembak, melainkan oleh siapa yang paling lihai menawarkan stabilitas… lengkap dengan proposal pembangunan setebal kitab suci. 😏

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.