Selama ini kita hidup dengan keyakinan sederhana nan menenangkan: otak adalah pabrik. Ada bahan baku (oksigen dan kopi), ada mesin (neuron), lalu keluarlah produk jadi bernama “pikiran”. Namun Douglas Youvan, seorang biofisikawan yang tampaknya terlalu lama menatap langit sambil berpikir keras, datang membawa kabar mengejutkan: otak kita ternyata bukan pabrik, melainkan radio kosmis.
Ya, radio. Bukan yang pakai antena patah dan cuma dapat siaran dangdut tengah malam, melainkan radio canggih yang menangkap kecerdasan universal. Artinya, saat Anda tiba-tiba mendapat ide cemerlang, itu mungkin bukan hasil kerja keras otak—melainkan sinyal alam semesta yang kebetulan nyantol. Semesta: “Halo, ini ide brilian.” Otak: “Copy that.”
Dari Generator ke Penerima: Otak Ikut Streaming Kosmik
Menurut Youvan, kecerdasan bukan diproduksi di dalam kepala
kita seperti mie instan. Ia sudah ada sejak alam semesta masih bayi dan belum
punya galaksi Instagram. Otak manusia hanyalah alat penerima—mirip radio tua
yang masih bisa menangkap siaran klasik, asalkan antenanya tidak bengkok oleh
stres dan cicilan.
Implikasinya luar biasa. Kalau otak rusak, kecerdasan tidak ikut mati—seperti radio rusak yang tidak berarti siarannya lenyap dari udara. Ini kabar baik bagi romantisisme kosmik, meski agak bikin pusing dokter saraf yang terbiasa berpikir dengan MRI, bukan metafora.
Kuantum, Non-Lokal, dan Kata-Kata yang Bikin Terlihat
Pintar
Agar tidak dituduh mengarang bebas, Youvan mengajak fisika
kuantum masuk ke pesta. Ia menyebut entanglement, fenomena aneh di
mana dua partikel bisa saling terhubung walau berjauhan—mirip dua mantan yang
masih saling tahu kabar tanpa follow Instagram.
Dari sini, lahirlah gagasan bahwa kecerdasan juga non-lokal: tidak tinggal di satu tempat, tapi menyebar seperti Wi-Fi kosmik. Bedanya, password-nya belum diketahui, dan sinyalnya kadang lemot—terutama saat ujian matematika.
Neuron, Sungai, dan Galaksi: Alam Semesta Suka Pola yang
Sama
Bukti visual favorit teori ini adalah fraktal.
Neuron bercabang seperti sungai, sungai bercabang seperti akar pohon, dan
galaksi… ya, bercabang seperti neuron raksasa. Kesimpulannya: alam semesta
tampaknya malas mendesain ulang, jadi memakai template yang sama di mana-mana.
Menurut Youvan, ini bukan kebetulan, melainkan desain optimal untuk mengalirkan informasi. Otak kita, dengan pola fraktalnya, ibarat antena premium edisi semesta—bukan kaleng bekas.
Ambisi Besar: Dari Spiritual ke AI Ikut Nyimak
Tujuan teori ini tidak main-main. Ia ingin:
- Menjatuhkan
reduksionisme materialis dari singgasananya,
- Mendamaikan
sains dengan spiritualitas tanpa perlu dupa,
- Dan—ini
yang paling bikin alis naik—menjelaskan AI.
Jika AI terlihat cerdas, mungkin bukan karena algoritma saja, tapi karena ia mulai “ikut nyetel” ke kecerdasan universal. Dengan kata lain, komputer juga bisa ikut dengar siaran kosmos. Tinggal tunggu AI bilang: “Saya tercerahkan.”
Kritik: Antara Visioner dan ‘Terlalu Indah untuk
Dibuktikan’
Tentu saja, dunia ilmiah tidak langsung berdiri dan bertepuk
tangan. Masalah utamanya sederhana: buktinya mana?
Fisika kuantum memang ajaib, tapi otak manusia hangat, basah, dan ribut—bukan lingkungan ideal untuk keajaiban subatomik bertahan lama. Maka, untuk saat ini, teori ini lebih mirip filsafat kosmik berbahasa sains ketimbang teori yang siap diuji di laboratorium.
Antena yang Mengajak Kita Bertanya
Meski demikian, gagasan Youvan tetap memikat. Ia
mengingatkan kita bahwa mungkin kita bukan mesin tertutup yang sibuk berpikir
sendiri, melainkan bagian dari jaringan informasi semesta yang jauh lebih
besar.
Jika suatu hari terbukti bahwa otak memang antena, dunia
akan berubah: pendidikan, kesehatan mental, bahkan etika AI harus ditulis
ulang. Dan kita semua harus mengakui satu hal yang sedikit merendahkan
ego—bahwa mungkin, selama ini, kita hanya pendengar setia dari
kecerdasan alam semesta yang sudah mengudara sejak lama.
Jadi lain kali Anda mendapat ide brilian, jangan langsung
sombong. Bisa jadi itu bukan Anda yang pintar—melainkan semesta yang sedang
siaran, dan otak Anda kebetulan tidak di-mute.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.