Dalam sebuah video sederhana—yang durasinya kalah jauh dibanding drama Korea, tapi maknanya bisa bikin mikir semalaman—seorang kyai memberikan nasihat kepada muridnya tentang perjalanan spiritual. Awalnya kabar baik: amaliah jalan terus, istikomah terjaga. Tapi seperti hidup pada umumnya, kabar baik itu tidak datang sendirian. Ia ditemani satu paket bonus: ujian.
Kyai itu seolah berkata, “Nak, kalau hidupmu mulus-mulus saja, jangan GR dulu. Bisa jadi kamu belum benar-benar jalan.” Karena, kata beliau, jalan menuju Allah itu bukan jalan tol, apalagi tol fungsional. Lebih mirip jalan desa habis hujan: becek, naik-turun, dan kadang bikin sandal hilang satu.
Untuk menjelaskan ini, kyai memakai analogi yang sangat ramah bagi kaum rebahan: lari jarak jauh. Bukan sprint 100 meter yang bikin dada dibusungkan di awal, tapi marathon yang di kilometer ke-30 bikin orang bertanya pada diri sendiri, “Aku ngapain sih ikut beginian?” Begitulah istikomah. Bukan soal heboh di awal, tapi bertahan saat semangat sudah pulang duluan.
Lalu datanglah penjelasan tentang asal-usul ujian. Ternyata, ujian itu tidak langsung datang dari luar seperti debt collector. Ia dimulai dari dalam diri sendiri: nafsu. Nafsu makan, nafsu belanja, nafsu ingin terlihat sederhana tapi pakai “sederhana versi mahal”. Di sinilah mujahadah an-nafs dimulai—perjuangan menundukkan ego yang, sayangnya, tidak pernah ikut pengajian tapi paling vokal.
Kalau ujian internal ini lolos, level berikutnya terbuka. Lingkungan mulai ikut campur. Dari rumah tangga: istri yang cerewet, anak yang demam pas tanggal tua. Naik level ke tetangga: parkir sembarangan, nyetel dangdut jam lima pagi. Naik lagi: satu kampung. Dan puncaknya—ujian sosial yang bikin orang bertanya, “Kenapa kok semua orang kayaknya kompak ngetes kesabaranku?”
Menurut kyai, ini justru kabar baik. Semakin berat ujiannya, semakin besar potensinya. Seperti angkat beban: kalau bebannya ringan, ototnya cuma segitu-gitu saja. Allah, kata kyai, tidak sedang menghukum. Ia sedang “menarik” hamba-Nya naik kelas, meski kadang tanpa pemberitahuan resmi.
Lalu dibukalah rahasia besar di balik ujian—rahasia yang kalau diterjemahkan ke bahasa kekinian kira-kira begini:
-
Ujian itu elevator spiritual. Naik cepat, tapi harus siap pintunya nutup mendadak.
-
Ujian itu laboratorium. Kita bukan objek penderita, tapi mahasiswa kehidupan—meski sering tidak sadar sedang ujian.
-
Ujian itu gym jiwa. Awalnya pegal, tapi lama-lama kuat. Asal jangan kabur di hari pertama.
-
Ujian itu sertifikat tak tertulis. Kalau sudah lulus, tiba-tiba banyak orang curhat ke kita. Itu tanda: kamu sudah naik status dari “bagian masalah” menjadi “tempat bertanya”.
Secara tidak langsung, kyai ini sedang melakukan dakwah tasawuf versi digital: ringan, membumi, dan tidak bikin orang merasa harus jadi wali dulu untuk paham. Di tengah masyarakat yang lelah oleh ekonomi, sosial, dan notifikasi HP, pesan ini terasa relevan: ujian bukan error sistem, tapi fitur bawaan perjalanan spiritual.
Pada akhirnya, kyai menutup nasihatnya dengan ajakan salat Isya. Sebuah penegasan penting: setinggi apa pun refleksi, ujungnya tetap sajadah. Karena spiritualitas tanpa ibadah itu seperti teori berenang tanpa pernah nyemplung—kelihatannya paham, tapi panik saat benar-benar tenggelam.
Maka, jika hidup terasa berat akhir-akhir ini, bisa jadi Anda tidak sedang sial. Bisa jadi Anda sedang naik tangga. Memang capek, memang ngos-ngosan. Tapi seperti kata kyai itu—di setiap anak tangga ujian, Allah sedang menyiapkan ketinggian baru. Tinggal satu pertanyaan: kita mau naik sambil ngeluh, atau naik sambil belajar?
abah-arul.blogspot.com., Januari 2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.