Selasa, 13 Januari 2026

Takwa yang Bangun Tidur Ikut Kita: Dari Absen Ritual ke Kesadaran yang Tidak Bisa Logout

Ketika Takwa Mirip Checklist Harian

Di zaman serba cepat ini, takwa sering kali diperlakukan seperti to-do list Google Keep: shalat—centang, puasa—centang, sedekah—centang. Setelah itu, kita merasa aman secara spiritual, lalu kembali mengomel di jalan, gelisah di media sosial, dan iri melihat story orang lain yang liburannya lebih estetik.

Untungnya, sebuah kajian bertajuk Menjelang Ma’rifah episode 33 datang seperti notifikasi penting: “Takwa itu bukan sekadar rutinitas, tapi kesadaran.” Bukan kesadaran ala motivator pagi hari, melainkan kesadaran bahwa Allah hadir—bahkan ketika kita sedang tidak ingin terlihat saleh.

Takwa: Bukan Sekadar Patuh, Tapi Sadar

Dalam kajian ini, takwa digambarkan bukan sebagai seragam wajib, melainkan fondasi rumah batin. Ada dua tipe penghuni rumah ini:

  1. Takwa awam, yang rajin menaati aturan tapi jiwanya masih sering kosong.

  2. Takwa khawas, yang bukan hanya patuh, tapi sadar siapa yang memerintah.

Ibarat pernikahan: takwa awam itu seperti menikah karena administrasi lengkap; takwa khawas menikah karena cinta dan kesadaran penuh—meski cicilan tetap ada.

Ayat QS. At-Talaq 2–3 pun dibedah dengan pisau tafsir sufistik. “Jalan keluar” (mahrajan) ternyata bukan sekadar lolos dari tanggal tua, tapi juga keluar dari penjara batin: dosa yang bikin sesak, syahwat yang lengket, dan ketergantungan berlebihan pada manusia—termasuk manusia bernama netizen.

Rezeki Tak Terduga: Bukan Selalu Transferan

Kajian ini agak berbahaya bagi mereka yang menganggap sedekah sebagai investasi berjangka pendek: setor hari ini, panen minggu depan. Karena ternyata, rezeki tak terduga itu bisa berupa ketenangan, keikhlasan, dan rasa cukup—hal-hal yang tidak bisa difoto untuk Instagram.

Ada sindiran halus tapi mengena: pencuri yang tidak membaca basmalah karena sadar sedang berbuat dosa justru lebih “waras” secara batin dibanding pejabat yang hartanya berlimpah tapi kesadarannya defisit. Pesannya jelas: takwa itu urusan hati, bukan lemari pakaian.

Takwa di Era Like, Share, dan Anxiety

Di era digital, takwa menjadi antivirus batin. Ia melindungi kita dari penyakit khas zaman now: kecanduan validasi, FOMO, dan perasaan gagal hanya karena hidup tidak seindah feeds orang lain.

“Jalan keluar dari ketergantungan pada makhluk” terasa sangat relevan ketika jumlah likes bisa menentukan mood seharian. Takwa mengajarkan satu hal revolusioner: nilai diri tidak ditentukan algoritma.

Janji hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) akhirnya terasa masuk akal. Kota boleh semakin modern, kafe semakin estetik, tapi tanpa takwa yang hidup, jiwa tetap sepi—sepi yang bahkan Wi-Fi tercepat pun tidak bisa mengobati.

Takwa yang Ikut Sampai Setelah Ramadhan

Pesan terakhir kajian ini sederhana tapi berat: takwa itu latihan seumur hidup, bukan target musiman. Ramadhan hanyalah training camp, bukan garis finish. Setelah itu, kesadaran harus tetap hidup—di kantor, di pasar, di jalan, bahkan saat kuota internet menipis.

Ukuran kesalehan pun direvisi total. Bukan lagi soal apa yang terlihat mata, tapi apa yang terus hadir di hati. Takwa yang hidup membebaskan manusia dari penjara nafsunya sendiri—penjara paling mewah, tapi paling menyesakkan.

Akhirnya, kita diingatkan: takwa bukan aksesori spiritual, melainkan kesadaran yang ikut bangun tidur, ikut bekerja, ikut gelisah, dan ikut tenang. Takwa yang seperti ini tidak ribut, tidak pamer, tapi diam-diam mengubah hidup.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.