Kamis, 15 Januari 2026

Hati yang Bening: Ketika Penyakit Tak Bisa Diperiksa dengan Tensimeter

Di zaman serba digital ini, manusia sudah sangat akrab dengan istilah check-up. Kolesterol dicek, gula darah dipantau, tekanan darah diawasi seperti nilai rapor anak. Sayangnya, ada satu organ vital yang kerap luput dari perhatian medis: hati. Bukan hati ayam, apalagi hati mantan—melainkan hati batin yang sering kali lebih sakit daripada badan, tetapi tetap merasa sehat karena tidak bisa difoto rontgen. 

Sebuah nasihat sederhana mengajak kita menyadari satu ironi klasik: manusia rajin mengobati flu, tetapi membiarkan iri dan dengki kronis tanpa resep. Padahal, iri, dengki, dan sombong adalah penyakit berat—bedanya, tidak bikin demam, tetapi pelan-pelan menggerogoti nilai amal. Gejalanya pun khas: ketika melihat orang lain sukses, dada terasa sesak, namun mulut tetap bisa tersenyum sambil berkata, “Alhamdulillah ya…” dengan nada yang entah kenapa terdengar berat.

Analogi yang digunakan sebenarnya sangat masuk akal: penyakit jasmani perlu diagnosis sebelum minum obat, maka penyakit hati pun demikian. Masalahnya, banyak orang menolak diagnosis batin. Hatinya sudah penuh kerak, tetapi merasa bening karena rajin melakukan ritual dan unggah kegiatan baik di media sosial. Ibadah tetap jalan, zikir tetap ada, tetapi rasanya hambar—seperti kopi tanpa gula, tanpa kopi, dan tanpa niat.

Di titik inilah kebiasaan manusia modern tersentil halus. Amal baik sering kali tidak lagi semata-mata untuk nilai spiritual, melainkan untuk konsumsi publik. Sedekah perlu dokumentasi, doa perlu caption, dan keikhlasan sering kalah oleh engagement. Akibatnya, hati semakin buram, sementara kamera justru makin jernih. Ironisnya, kita lebih takut dicap “tidak peduli” oleh manusia daripada dinilai “tidak tulus” oleh nurani sendiri.

Penyembuhan penyakit hati ternyata tidak selalu nyaman. Salah satu latihan yang dianjurkan justru terkesan ekstrem: melatih diri untuk tidak selalu merasa paling benar, paling layak dihormati, atau paling penting. Ego perlu diturunkan dengan sengaja, bukan menunggu dijatuhkan keadaan. Seperti terapi fisik, prosesnya bisa terasa sakit di awal, tetapi menyelamatkan dalam jangka panjang. Sayangnya, banyak orang lebih siap dihina secara tidak sengaja daripada merendahkan diri secara sadar.

Obat utama penyakit hati sebenarnya terdengar klasik: mengingat kefanaan, memperbaiki diri, dan menjaga kesadaran batin. Mengingat kematian bukan untuk membuat hidup suram, melainkan agar sadar bahwa waktu terbatas dan kesombongan adalah investasi paling merugikan. Sebab, setinggi apa pun gengsi, akhirnya semua akan pulang dalam ukuran yang sama: dua kali satu meter.

Metafora hati sebagai kaca bening pun terasa relevan. Hati yang bersih mampu memantulkan realitas apa adanya. Sebaliknya, hati yang buram membuat segalanya tampak salah—kecuali diri sendiri. Dari sinilah lahir kebiasaan menyalahkan keadaan, orang lain, bahkan cuaca, padahal sumber keruhnya ada di dalam dada.

Pada akhirnya, refleksi ini mengajak kita berhenti sejenak dari kebisingan luar dan mulai melakukan service ke dalam. Di tengah dunia yang semakin canggih, ternyata solusi ketenangan tetap sederhana: membersihkan hati. Tidak perlu aplikasi berbayar, tidak butuh sinyal kuat—cukup kejujuran pada diri sendiri.

Sebab, hanya dengan hati yang bening, ibadah kembali terasa ringan, hidup terasa lapang, dan kita tidak perlu sibuk membuktikan apa pun. Cukup menjalaninya. Dan kalau pun hati masih kotor, setidaknya kini kita sadar: penyakit hati itu nyata, meski tidak bisa dicek di laboratorium.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.