Sabtu, 17 Januari 2026

Pajak Kekayaan di California: Ketika Dompet Jadi Medan Ideologi

Di California, segala sesuatu bisa menjadi besar, dramatis, dan sinematik—termasuk urusan pajak. Jika biasanya negara bagian ini dikenal sebagai rumah para superhero Marvel dan miliarder teknologi yang memakai kaus oblong, kini ia juga menjadi lokasi film terbaru berjudul “Wealth Tax: The Beginning of the End.” Trailer-nya sudah beredar luas di media sosial, lengkap dengan narasi berat dan musik mencekam: “Hari ini orang kaya, besok… Anda.”

Para pengkritik pajak kekayaan, terutama dari mazhab konservatif-libertarian, tampil bak pemandu wisata sejarah yang sangat pesimistis. Mereka menunjuk tahun 1913 seperti menunjuk batu nisan. “Lihat,” kata mereka, “pajak penghasilan dulu cuma untuk 1% teratas. Sekarang? Bahkan beli mi instan pun rasanya sudah kena pajak.” Logikanya sederhana dan licin seperti lantai kamar mandi: kalau hari ini negara diizinkan memungut pajak dari yang superkaya, besok negara akan nongkrong di depan rumah kelas menengah sambil berkata, ‘Tenang, cuma sebentar kok.’

Argumen berikutnya lebih horor lagi: pajak atas aset, bukan penghasilan. Ini seperti ditagih makan malam padahal belum masuk restoran. Bayangkan seorang pendiri startup yang hartanya masih berupa saham dan mimpi. Valuasi perusahaannya melambung, tapi uang tunainya pas-pasan. Negara datang sambil mengetuk pintu: “Selamat, Anda kaya di atas kertas. Sekarang silakan jual sedikit masa depan Anda untuk bayar pajak.” Di titik ini, pajak tak lagi terasa seperti kewajiban warga negara, melainkan seperti subscription fee untuk tetap memiliki barang sendiri.

Lalu muncullah nubuat besar: Eksodus Besar dari California. Dalam versi ini, para pengusaha akan berbondong-bondong kabur ke Texas dan Florida, membawa koper berisi modal, inovasi, dan hoodie startup. Silicon Valley berubah jadi Silicon Kenangan. Mesin inovasi macet, ekonomi lesu, dan semua orang—termasuk pendukung pajak—akhirnya ikut merasakan akibatnya. Moral ceritanya jelas: kalau Anda terlalu keras memeras jeruk, jangan kaget kalau jeruknya pindah ke kebun tetangga.

Agar kisah ini makin greget, bumbu ideologis pun ditaburkan. Istilah “langkah Bolshevik sejati” dilontarkan seolah-olah setiap formulir pajak dilengkapi palu dan arit. Pajak kekayaan digambarkan bukan sebagai kebijakan demokratis, melainkan sebagai adegan pembuka revolusi. Negara digambarkan seperti karakter antagonis yang selalu lapar dan tak pernah kenyang—hari ini minta sedikit, besok minta lebih, lusa minta kunci rumah.

Namun, di balik semua alarm merah dan metafora kiamat, ada satu hal yang sengaja ditinggalkan di pinggir panggung: alasan mengapa pajak kekayaan itu diusulkan. Soal ketimpangan ekstrem, layanan publik yang megap-megap, dan negara yang butuh dana untuk tetap berjalan. Tapi dalam narasi ini, argumen tersebut jarang diberi dialog—mungkin karena film ini memang bergenre thriller, bukan dokumenter.

Pada akhirnya, perdebatan pajak kekayaan di California bukan sekadar soal angka dan anggaran, melainkan soal imajinasi kolektif. Satu kubu membayangkan masa depan di mana negara semakin gemuk dan dompet warga semakin kurus. Kubu lain membayangkan keadilan sosial yang akhirnya mendapat sumber dana. Dan di tengah-tengahnya, warga California hanya bertanya satu hal sederhana: “Ini pajak buat siapa hari ini—dan giliran saya kapan?”

Karena di California, seperti di Hollywood, yang paling menakutkan bukanlah monster di layar, melainkan sekuel-nya.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.