Di California, segala sesuatu bisa menjadi besar, dramatis, dan sinematik—termasuk urusan pajak. Jika biasanya negara bagian ini dikenal sebagai rumah para superhero Marvel dan miliarder teknologi yang memakai kaus oblong, kini ia juga menjadi lokasi film terbaru berjudul “Wealth Tax: The Beginning of the End.” Trailer-nya sudah beredar luas di media sosial, lengkap dengan narasi berat dan musik mencekam: “Hari ini orang kaya, besok… Anda.”
Para pengkritik pajak kekayaan, terutama dari mazhab konservatif-libertarian,
tampil bak pemandu wisata sejarah yang sangat pesimistis. Mereka menunjuk tahun
1913 seperti menunjuk batu nisan. “Lihat,” kata mereka, “pajak penghasilan dulu
cuma untuk 1% teratas. Sekarang? Bahkan beli mi instan pun rasanya sudah kena
pajak.” Logikanya sederhana dan licin seperti lantai kamar mandi: kalau hari
ini negara diizinkan memungut pajak dari yang superkaya, besok negara akan
nongkrong di depan rumah kelas menengah sambil berkata, ‘Tenang, cuma sebentar
kok.’
Argumen berikutnya lebih horor lagi: pajak atas aset, bukan penghasilan. Ini
seperti ditagih makan malam padahal belum masuk restoran. Bayangkan seorang
pendiri startup yang hartanya masih berupa saham dan mimpi. Valuasi
perusahaannya melambung, tapi uang tunainya pas-pasan. Negara datang sambil
mengetuk pintu: “Selamat, Anda kaya di atas kertas. Sekarang silakan jual
sedikit masa depan Anda untuk bayar pajak.” Di titik ini, pajak tak lagi terasa
seperti kewajiban warga negara, melainkan seperti subscription fee untuk tetap
memiliki barang sendiri.
Lalu muncullah nubuat besar: Eksodus Besar dari California. Dalam versi ini,
para pengusaha akan berbondong-bondong kabur ke Texas dan Florida, membawa
koper berisi modal, inovasi, dan hoodie startup. Silicon Valley berubah jadi
Silicon Kenangan. Mesin inovasi macet, ekonomi lesu, dan semua orang—termasuk
pendukung pajak—akhirnya ikut merasakan akibatnya. Moral ceritanya jelas: kalau
Anda terlalu keras memeras jeruk, jangan kaget kalau jeruknya pindah ke kebun
tetangga.
Agar kisah ini makin greget, bumbu ideologis pun ditaburkan. Istilah “langkah
Bolshevik sejati” dilontarkan seolah-olah setiap formulir pajak dilengkapi palu
dan arit. Pajak kekayaan digambarkan bukan sebagai kebijakan demokratis,
melainkan sebagai adegan pembuka revolusi. Negara digambarkan seperti karakter
antagonis yang selalu lapar dan tak pernah kenyang—hari ini minta sedikit,
besok minta lebih, lusa minta kunci rumah.
Namun, di balik semua alarm merah dan metafora kiamat, ada satu hal yang
sengaja ditinggalkan di pinggir panggung: alasan mengapa pajak kekayaan itu
diusulkan. Soal ketimpangan ekstrem, layanan publik yang megap-megap, dan
negara yang butuh dana untuk tetap berjalan. Tapi dalam narasi ini, argumen
tersebut jarang diberi dialog—mungkin karena film ini memang bergenre thriller,
bukan dokumenter.
Pada akhirnya, perdebatan pajak kekayaan di California bukan sekadar soal angka
dan anggaran, melainkan soal imajinasi kolektif. Satu kubu membayangkan masa
depan di mana negara semakin gemuk dan dompet warga semakin kurus. Kubu lain
membayangkan keadilan sosial yang akhirnya mendapat sumber dana. Dan di
tengah-tengahnya, warga California hanya bertanya satu hal sederhana: “Ini
pajak buat siapa hari ini—dan giliran saya kapan?”
Karena di California, seperti di Hollywood, yang paling menakutkan bukanlah
monster di layar, melainkan sekuel-nya.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.