Rabu, 07 Januari 2026

Menjadi Mulia dengan Cara Dihina: Seni Tersenyum Saat Ego Kesandung

Dalam hidup ini, ada tiga hal yang hampir pasti kita alami: lupa password, salah kirim chat, dan… dihina orang. Yang terakhir ini biasanya datang tanpa aba-aba, tanpa salam, dan tanpa diskon emosi. Begitu dihina, refleks kita pun bekerja cepat: jantung berdebar, tangan gatal, dan otak langsung membuka arsip lama berjudul “Semua Kesalahan Dia Sejak SD”.

Namun sebuah tulisan spiritual hadir membawa kabar mengejutkan—lebih mengejutkan daripada notifikasi mantan menikah: marah karena hinaan justru tanda kita belum sepenuhnya jadi manusia. Loh? Bukannya marah itu manusiawi? Ternyata, menurut tulisan ini, marah karena hinaan bukan bukti kemanusiaan, melainkan bukti ego kita masih megang mikrofon.

Tulisan ini mengajak kita naik kelas: dari makhluk reaktif menjadi makhluk reflektif. Jika masih panas saat dihina, itu pertanda kesadaran kita sedang cuti. Yang aktif justru “nafsu amarah”, makhluk batin yang hobi membesar-besarkan diri sendiri sambil mengecilkan orang lain. Ego ini rapuh tapi suaranya lantang—mirip toa masjid yang salah setting volume.

Lalu datanglah koreksi kosmik yang cukup menohok tapi elegan: azan tidak pernah menyebut nama kita. Setiap hari yang diteriakkan tetap “Allahu Akbar”, bukan “Aku Akbar”, apalagi “Saya Paling Benar”. Ini adalah tamparan metafisik yang halus tapi telak. Kalau memang kita sebesar yang kita kira, minimal sekali saja azan menyebut nama kita. Tapi tidak. Alam semesta konsisten: kita kecil, Allah Maha Besar.

Dari sudut pandang jagat raya, manusia ini hanyalah titik debu yang hobi tersinggung. Jadi sebenarnya, dihina itu bukan kejadian luar biasa—yang luar biasa justru kalau tidak ada yang menghina sama sekali. Maka tulisan ini menyarankan sesuatu yang terdengar seperti prank spiritual: bersyukurlah saat dihina.

Ya, bersyukur. Karena orang yang menghina itu—tanpa sadar dan tanpa niat baik—sedang membantu kita diet ego. Mereka seperti pelatih gym batin yang galak tapi efektif. Setiap hinaan adalah beban latihan dalam jihad akbar: melawan diri sendiri. Di mata manusia kita mungkin dianggap “siapa itu?”, tapi di langit kita bisa jadi “oh, itu yang sabar banget”.

Secara psikologis, ini masuk akal. Hinaan hanya menyakitkan kalau mengenai bangunan harga diri yang dibangun dari pujian orang. Kalau fondasinya rapuh, satu komentar saja bisa merobohkan. Tapi kalau fondasinya akal budi, kita bisa berkata dalam hati: “Oh, ini cuma suara eksternal, bukan update firmware jiwa.”

Tentu saja, tulisan ini tidak mengajak kita menjadi karpet masjid—diinjak-injak tapi diam saja. Marah pada ketidakadilan tetap penting. Membela diri dari fitnah tetap perlu. Pesannya bukan “terimalah semua hinaan”, tapi kelolalah dampaknya. Jangan sampai satu komentar membuat kita kehilangan kendali, akal, dan password kesabaran.

Pada akhirnya, tulisan ini mengajak kita naik level spiritual: dari “aku yang tersinggung” menjadi “hamba yang sadar diri”. Sebuah perjalanan sunyi tapi mulia—dari merasa direndahkan manusia, menuju merasa diperhatikan Tuhan.

Dan mungkin, setelah itu, setiap kali dihina, kita tidak lagi berkata,
“Kurang ajar!”
melainkan dalam hati berbisik,
“Terima kasih… ego saya baru saja dikikis.”
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.