Jumat, 09 Januari 2026

Kebijaksanaan dari Neraka: Ketika Lelucon Mengirim Seseorang ke Gulag

Ada zaman ketika bercanda tidak butuh penonton, cukup satu amplop dan satu perangko—lalu delapan tahun penjara. Aleksandr Solzhenitsyn membuktikan bahwa di Uni Soviet, humor adalah olahraga ekstrem. Satu lelucon kecil tentang Stalin, ditulis dalam surat pribadi, cukup untuk mengubah seorang kapten artileri menjadi atlet angkat beton beku di Gulag. Dari sinilah kita belajar pelajaran pertama: di negara totaliter, komedi lebih berbahaya daripada senjata api, karena peluru bisa meleset, tapi arsip negara tidak pernah lupa.

Dari sudut pandang rezim, Solzhenitsyn jelas melakukan dosa besar: berpikir, lalu menuliskannya. Hukuman delapan tahun bukan sekadar koreksi perilaku, melainkan kursus intensif “cara berhenti menjadi manusia”. Di kamp kerja paksa, ia diajari agar tidak berbicara, tidak mengingat, dan—jika memungkinkan—tidak pernah ada. Namun, seperti ironi yang terlalu kental untuk ditolak, justru di tempat yang dirancang untuk memusnahkan kesadaran itulah Solzhenitsyn mendapatkan kejernihan. Ia bahkan sampai pada kesimpulan yang terdengar seperti humor hitam tingkat lanjut: “Terima kasih, penjara.” Jarang ada orang yang menulis surat terima kasih kepada neraka karena telah memberi pencerahan batin.

Masalahnya, Solzhenitsyn punya kebiasaan buruk lain yang lebih berbahaya daripada bercanda: mengingat. Ketika menulis berarti mati, ia memilih metode yang nyaris mistis—menghafal buku. The Gulag Archipelago hidup seperti jin ilegal di dalam kepalanya, berpindah-pindah dari satu neuron ke neuron lain, dijaga oleh jaringan teman yang juga berperan sebagai “hard disk manusia”. Jika negara punya arsip rahasia, Solzhenitsyn punya arsip mental. Bedanya, arsip negara disegel, arsip ini berdoa agar tidak lupa.

Ketika buku itu akhirnya terbit, dunia tersedak. Ternyata Gulag bukan sekadar kesalahan teknis Stalin yang lupa update sistem, melainkan fitur bawaan sejak awal. Teror bukan bug, tapi desain. Solzhenitsyn seperti teknisi brutal yang membongkar mesin negara di depan publik dan berkata, “Ini memang begini dari pabriknya.” Negara yang dibangun di atas kebohongan tentu tidak suka ketika kebohongan itu diberi indeks, catatan kaki, dan kesaksian kolektif.

Namun sumbangan terbesarnya bukan hanya pada sejarah, melainkan pada psikologi manusia. Ia menolak cerita nyaman bahwa penjahat itu selalu orang lain. Menurutnya, garis antara baik dan jahat tidak lewat kantor polisi atau gedung partai, melainkan lewat dada kita masing-masing. Ini kabar buruk bagi semua orang, karena berarti tidak ada yang bisa sepenuhnya cuci tangan. Dalam logika ini, rezim totaliter bukan monster asing, melainkan akumulasi kecil dari kepatuhan sehari-hari: mengangguk saat ragu, diam saat tahu salah, dan mengulang kebohongan karena “semua juga begitu”.

Maka, tindakan paling revolusioner versi Solzhenitsyn terdengar sepele dan sangat tidak heroik: berhenti ikut berbohong. Tidak perlu poster, tidak perlu yel-yel, cukup menolak mengucapkan kalimat yang kita tahu palsu. Di dunia di mana kebohongan sudah menjadi bahasa resmi, kejujuran berubah status menjadi aktivitas subversif. Jujur bukan lagi soal moral, tapi soal keberanian—dan kadang soal umur panjang.

Ironisnya, setelah selamat dari Gulag, Solzhenitsyn justru membuat Barat bingung. Ia tidak otomatis jatuh cinta pada liberalisme, malah mengkritik materialisme dan kemanjaan spiritual. Seolah ingin berkata, “Totalitarianisme memang neraka, tapi jangan kira pusat perbelanjaan adalah surga.” Ini membuat warisannya tidak rapi, tidak bisa dipajang sebagai poster motivasi satu warna. Tapi justru di situlah nilainya: ia menolak menjadi ikon yang jinak.

Di zaman disinformasi, buzzer, dan kebohongan yang disampaikan dengan desain grafis menarik, pesan Solzhenitsyn terdengar makin relevan dan makin tidak nyaman. Ketika kita mengulang kebohongan yang kita tahu palsu demi kenyamanan sosial, sebenarnya kita sedang membantu membangun sel—bukan dengan tembok beton, melainkan dengan kata-kata.

Kisah ini akhirnya bukan tentang Gulag semata, melainkan tentang ingatan sebagai bentuk pembangkangan. Bahwa sesuatu yang rapuh, subjektif, dan mudah lupa justru bisa mengguncang kekuasaan yang tampak kokoh. Solzhenitsyn mengingatkan kita—dengan cara yang pahit tapi jujur—bahwa neraka paling efektif bukan yang dipaksakan dari luar, melainkan yang kita rawat sendiri lewat kebohongan kecil yang terus kita anggap sepele.

Dan mungkin, pelajaran paling jenaka sekaligus tragis dari semuanya adalah ini: jika suatu hari bercanda terasa terlalu berbahaya, bisa jadi masalahnya bukan pada leluconnya, melainkan pada sistem yang takut pada satu kalimat jujur.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.