Kalau ada daftar “momen ketika manusia nyaris mengalahkan takdir,” penemuan insulin pasti masuk tiga besar—setelah penemuan kopi dan tombol mute di aplikasi rapat daring.
Sebelum 1922, bangsal diabetes anak itu bukan bangsal rumah sakit. Lebih mirip ruang tunggu menuju bab terakhir kehidupan. Diabetes tipe 1 saat itu adalah vonis yang kejam: tidak ada obat, tidak ada harapan, hanya diet ketat ala “makan boleh, tapi jangan enak” yang ujung-ujungnya tetap gagal. Dokter sudah berusaha, orang tua sudah berdoa, tapi hasilnya sering sama: tubuh anak makin lemah, koma, lalu… selesai. Sunyi, berat, dan menyayat.
Lalu masuklah tiga ilmuwan dengan vibe “kami kurang tidur tapi penuh harapan”: Frederick Banting, Charles Best, dan James Collip. Mereka datang bukan membawa mantra, bukan juga air suci, tapi ekstrak pankreas yang sudah dimurnikan. Kedengarannya tidak dramatis, ya? “Halo, kami bawa cairan organ yang disaring.” Tapi justru di situlah letak plot twist terbesar abad itu.
Ketika insulin pertama kali disuntikkan ke Leonard Thompson—seorang anak yang sudah di ambang koma—yang terjadi bukan sekadar perubahan angka di catatan medis. Itu seperti adegan film yang biasanya kita tuduh “ah, lebay”. Anak yang tadinya sekarat mulai membaik. Lalu pasien lain menyusul. Bangsal yang sebelumnya penuh napas berat dan doa lirih berubah jadi tempat orang tua menangis—tapi kali ini karena lega. Kalau sains punya momen mic drop, ini salah satunya.
Tentu saja, para ilmuwan ini bisa saja berkata, “Wah, ini besar. Siapkan yacht.” Tapi yang mereka lakukan justru kebalikan dari gaya hidup miliarder startup. Mereka menjual paten insulin ke Universitas Toronto dengan harga simbolis: satu dolar per orang. Satu. Dolar. Bahkan kalau dikonversi ke rupiah zaman sekarang, masih kalah sama harga kopi kekinian ukuran tanggung.
Pesan mereka sederhana dan menohok: obat yang menyelamatkan nyawa tidak boleh jadi barang mewah. Insulin, bagi mereka, bukan ladang cuan—tapi amanah kemanusiaan. Di titik ini, Banting dan kawan-kawan naik level: dari ilmuwan jenius menjadi pahlawan moral. Mereka bukan cuma memecahkan teka-teki biologis, tapi juga lulus ujian etika dengan nilai A+.
Sayangnya, kalau para penemu insulin bisa time travel ke abad 21 dan melihat harga insulin di beberapa negara, kemungkinan besar mereka akan berkata, “Lho, kok begini ending-nya?” Di sinilah kisah heroik itu berubah jadi bahan sindiran global. Penemuan yang diniatkan untuk semua orang, dalam praktik modern, kadang tersangkut di labirin paten, pasar, dan markup yang bikin dompet ikut hipoglikemia.
Kisah insulin akhirnya terasa seperti dongeng ilmiah dengan pesan moral yang sangat jelas: sains itu kuat, tapi hati nurani harus lebih kuat lagi. Tanpa empati, laboratorium bisa berubah jadi pabrik angka. Dengan empati, tabung reaksi bisa jadi jembatan antara hidup dan mati.
Insulin mengajarkan kita bahwa keajaiban tidak selalu turun dari langit dengan cahaya dan musik latar. Kadang ia datang dari ruang lab yang berantakan, ilmuwan yang rambutnya belum sempat disisir, dan keputusan gila nan mulia untuk berkata, “Cukup satu dolar saja. Sisanya, biar dunia yang hidup.”
Dan jujur saja, di dunia yang sering ribut soal valuasi, saham, dan cuan kuartal keempat, kisah ini terasa seperti suntikan kecil—bukan ke lengan, tapi ke hati nurani kita bersama.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.