Jumat, 30 Januari 2026

Warisan Tersembunyi di Bawah Tanah: Ketika Akar Tanaman Jadi HRD Mikrobioma

Selama ini, pemuliaan tanaman modern ibarat ajang pencarian bakat ala Indonesian Idol: yang dinilai cuma yang tampak di atas panggung. Daunnya lebar, buahnya besar, panennya cepat, tahan penyakit, dan kalau bisa, tidak rewel. Semua sorotan tertuju pada bagian atas tanaman—batang, daun, biji—sementara bagian bawahnya? Ah, itu urusan cangkul dan cacing.

Padahal, jauh di bawah tanah, sedang berlangsung sebuah konferensi internasional tingkat tinggi. Akar tanaman sibuk mengirim sinyal kimia, mikroba tanah antre membawa proposal kerja sama, dan semuanya berjalan tanpa satu pun PowerPoint.

Tanaman, lewat fotosintesis, memproduksi gula. Tapi alih-alih ditabung atau diinvestasikan ke startup klorofil, 20–40 persen gula itu malah “dibuang” ke tanah sebagai eksudat akar. Dari sudut pandang akuntan, ini jelas pemborosan. Dari sudut pandang tanaman, ini strategi rekrutmen kelas dunia.

Eksudat akar adalah iklan lowongan kerja:
“Dicari mikroba rajin, tahan banting, mampu mengikat nitrogen, bersedia melawan patogen. Gaji: gula premium, bonus asam organik.”

Mikroba pun datang berbondong-bondong. Sebagai imbalan, mereka menyediakan nutrisi langka, menjaga akar dari penyakit, dan membantu tanaman tetap waras saat stres kekeringan. Singkatnya, tanaman tidak bekerja sendirian—ia punya tim support.

Masalahnya, kemampuan tanaman menjadi HRD mikrobioma yang andal ini ternyata sifat turunan. Namanya keren: Microbiome-Interactive Traits (MITs). Sayangnya, MITs ini justru terpinggirkan oleh pemuliaan modern. Mengapa? Karena dalam sistem pertanian serba pupuk dan pestisida, tanaman tidak lagi perlu bersusah payah membujuk mikroba. Semua sudah disediakan—ibarat anak kos yang hidup dari katering harian, ia lupa cara masak.

Akibatnya, generasi demi generasi tanaman unggul modern kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan mikroba. Akar-akar mereka jadi pendiam, sinyal kimia makin pelan, dan mikroba pun malas datang. “Ngapain repot-repot ke sini, toh pupuk pabrik sudah turun tiap musim,” begitu kira-kira komentar bakteri.

Bukti-buktinya mulai mencuat. Jagung tradisional, misalnya, masih rajin “menelpon” bakteri Pseudomonas—mikroba satpam yang doyan mengusir jamur dan hama. Jagung modern? Teleponnya jarang diangkat. Di dunia kopi, ada varietas yang dijuluki “super perekrut” bakteri pengikat nitrogen—bahkan mikrobiomanya ikut menentukan rasa kopi di cangkir. Jadi kalau kopinya asam atau fruity, bisa jadi itu ulah mikroba yang terlalu kreatif.

Di kebun jeruk yang dilanda penyakit citrus greening, pohon-pohon yang bertahan ternyata bukan yang paling disemprot, melainkan yang punya komunitas mikroba akar unik—semacam pasukan antivirus organik.

Dari sini kita belajar satu hal penting: memilih benih bukan sekadar memilih tanaman, tapi memilih gaya kepemimpinan akar. Ada tanaman yang otoriter dan bergantung pada pupuk, ada yang demokratis dan pandai membangun koalisi mikroba.

Jika kita terus mengabaikan percakapan rahasia di bawah tanah ini, pertanian akan makin tergantung pada input eksternal—seperti manusia yang lupa cara beradaptasi karena terlalu nyaman. Maka, masa depan pertanian regeneratif menuntut perubahan paradigma: bukan hanya memuliakan tanaman yang “tampak hebat”, tetapi juga yang pandai bergaul dengan dunia mikroba.

Dengan menyalakan kembali kemampuan tanaman untuk berbicara—dalam bahasa kimia—kepada mikroorganisme tanah, kita bukan hanya menumbuhkan tanaman yang tangguh, tapi juga ekosistem yang hidup. Dan siapa sangka, masa depan pangan dunia mungkin ditentukan oleh obrolan kecil antara akar dan bakteri yang selama ini kita anggap cuma “tanah biasa”.

abah-arul.blogspot.com. Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.