Selama ini, pemuliaan tanaman modern ibarat ajang pencarian bakat ala Indonesian Idol: yang dinilai cuma yang tampak di atas panggung. Daunnya lebar, buahnya besar, panennya cepat, tahan penyakit, dan kalau bisa, tidak rewel. Semua sorotan tertuju pada bagian atas tanaman—batang, daun, biji—sementara bagian bawahnya? Ah, itu urusan cangkul dan cacing.
Padahal, jauh di bawah tanah, sedang berlangsung sebuah
konferensi internasional tingkat tinggi. Akar tanaman sibuk mengirim sinyal
kimia, mikroba tanah antre membawa proposal kerja sama, dan semuanya berjalan
tanpa satu pun PowerPoint.
Tanaman, lewat fotosintesis, memproduksi gula. Tapi
alih-alih ditabung atau diinvestasikan ke startup klorofil,
20–40 persen gula itu malah “dibuang” ke tanah sebagai eksudat akar. Dari sudut
pandang akuntan, ini jelas pemborosan. Dari sudut pandang tanaman, ini strategi
rekrutmen kelas dunia.
Mikroba pun datang berbondong-bondong. Sebagai imbalan,
mereka menyediakan nutrisi langka, menjaga akar dari penyakit, dan membantu
tanaman tetap waras saat stres kekeringan. Singkatnya, tanaman tidak bekerja
sendirian—ia punya tim support.
Masalahnya, kemampuan tanaman menjadi HRD mikrobioma yang
andal ini ternyata sifat turunan. Namanya keren: Microbiome-Interactive
Traits (MITs). Sayangnya, MITs ini justru terpinggirkan oleh pemuliaan
modern. Mengapa? Karena dalam sistem pertanian serba pupuk dan pestisida,
tanaman tidak lagi perlu bersusah payah membujuk mikroba. Semua sudah
disediakan—ibarat anak kos yang hidup dari katering harian, ia lupa cara masak.
Akibatnya, generasi demi generasi tanaman unggul modern
kehilangan kemampuan berkomunikasi dengan mikroba. Akar-akar mereka jadi
pendiam, sinyal kimia makin pelan, dan mikroba pun malas datang. “Ngapain
repot-repot ke sini, toh pupuk pabrik sudah turun tiap musim,” begitu kira-kira
komentar bakteri.
Bukti-buktinya mulai mencuat. Jagung tradisional, misalnya,
masih rajin “menelpon” bakteri Pseudomonas—mikroba satpam yang doyan mengusir
jamur dan hama. Jagung modern? Teleponnya jarang diangkat. Di dunia kopi, ada
varietas yang dijuluki “super perekrut” bakteri pengikat nitrogen—bahkan
mikrobiomanya ikut menentukan rasa kopi di cangkir. Jadi kalau kopinya asam
atau fruity, bisa jadi itu ulah mikroba yang terlalu kreatif.
Di kebun jeruk yang dilanda penyakit citrus greening,
pohon-pohon yang bertahan ternyata bukan yang paling disemprot, melainkan yang
punya komunitas mikroba akar unik—semacam pasukan antivirus organik.
Dari sini kita belajar satu hal penting: memilih benih bukan
sekadar memilih tanaman, tapi memilih gaya kepemimpinan akar. Ada
tanaman yang otoriter dan bergantung pada pupuk, ada yang demokratis dan pandai
membangun koalisi mikroba.
Jika kita terus mengabaikan percakapan rahasia di bawah
tanah ini, pertanian akan makin tergantung pada input eksternal—seperti manusia
yang lupa cara beradaptasi karena terlalu nyaman. Maka, masa depan pertanian
regeneratif menuntut perubahan paradigma: bukan hanya memuliakan tanaman yang
“tampak hebat”, tetapi juga yang pandai bergaul dengan dunia mikroba.
Dengan menyalakan kembali kemampuan tanaman untuk
berbicara—dalam bahasa kimia—kepada mikroorganisme tanah, kita bukan hanya
menumbuhkan tanaman yang tangguh, tapi juga ekosistem yang hidup. Dan siapa
sangka, masa depan pangan dunia mungkin ditentukan oleh obrolan kecil antara
akar dan bakteri yang selama ini kita anggap cuma “tanah biasa”.
abah-arul.blogspot.com. Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.