Di kota-kota kita, ada satu jenis pohon yang nasibnya mirip figuran sinetron: selalu ada, tapi jarang diperhatikan. Ia tumbuh di pinggir jalan, sudut gang, bahkan dari retakan tembok yang seharusnya hanya bisa ditumbuhi lumut dan kenangan pahit proyek bangunan. Pohon itu bernama kersen—atau talok—yang sering dicap sebagai pohon liar murahan.
Murahan di sini tentu bukan karena harga kayunya, melainkan karena ia tumbuh tanpa izin, tanpa proposal, dan tanpa seremoni penanaman oleh pejabat. Ia hadir begitu saja. Terlalu sederhana untuk dipuji, terlalu bandel untuk dimusnahkan. Padahal, justru di situlah letak kehebatannya.
Ilmu Titen: Observasi Tanpa PowerPoint
Orang Jawa sejak lama sudah curiga: “Pohon ini kok aneh, ya?” Dalam Ilmu Titen, kersen diamati sebagai pohon peneduh yang tidak pilih-pilih nasib. Tanah kering? Bisa. Lahan bekas proyek gagal? Bisa. Pinggir selokan? Masih bisa.
Tanah di sekitarnya lama-lama jadi lebih gembur, burung datang tanpa diundang, serangga berdatangan tanpa formulir registrasi. Orang dulu mencatat ini dengan mata dan kesabaran—tanpa laboratorium, tanpa jurnal bereputasi internasional. Dan lucunya, sains modern datang belakangan sambil berkata, “Eh, ternyata benar.”
Secara ilmiah, akar kersen bekerja seperti jaring pengaman tanah, tajuknya memecah hantaman hujan, dan daun gugurnya rajin berubah menjadi pupuk. Kersen itu seperti pegawai lapangan yang kerja rangkap: tukang pengikat tanah, peredam hujan, sekaligus penyedia pupuk organik gratis.
Tanaman Pelayan yang Tidak Pernah Minta THR
Dalam dunia konservasi, kersen disebut tanaman pionir atau tanaman pelayan. Bahasa manusianya: ia datang lebih dulu, bereskan masalah, lalu memberi kesempatan tanaman lain tampil rapi.
Di lahan kritis, kersen berperan sebagai early stabilizer. Ia menyiapkan panggung sebelum pohon keras naik kelas. Dalam sistem agroforestri, ia memberi naungan, menurunkan suhu, dan menyumbang serasah sebagai pupuk. Cabai dan empon-empon pun tumbuh nyaman di bawahnya—seolah berkata, “Untung ada kersen, kalau tidak kami gosong.”
Belum lagi jasanya memanggil burung dan serangga polinator. Tanpa pestisida mahal, tanpa slogan “pertanian berkelanjutan”, kersen sudah lebih dulu mempraktikkannya.
Bukan Superhero, Tapi Tahu Diri
Meski banyak jasa, kersen bukan solusi untuk semua problem lingkungan. Ia tidak dirancang untuk menahan longsor kelas berat. Untuk lereng curam, ia perlu bantuan vetiver atau bambu. Dan justru di sini kersen terlihat dewasa: tahu batas kemampuan, tidak sok jadi pahlawan tunggal.
Dalam ekologi, seperti dalam hidup, setiap makhluk punya niche. Tidak semua harus jadi bintang utama. Ada yang cukup jadi penopang sistem—dan itu sudah luar biasa.
Belajar Rendah Hati dari Pohon yang Diremehkan
Pada akhirnya, kersen mengajarkan satu hal penting: yang paling berguna sering kali yang paling diremehkan. Ia mudah tumbuh, minim perawatan, tidak banyak menuntut, tetapi manfaatnya berlapis-lapis.
Ia menjadi jembatan sunyi antara kearifan lokal dan sains modern, antara petani sederhana dan konsep keberlanjutan global. Maka, lain kali melihat kersen tumbuh di sela trotoar, jangan buru-buru menyebutnya pohon liar.
Bisa jadi, di sanalah alam sedang bekerja paling
cerdas—tanpa rapat, tanpa anggaran, tanpa pengakuan.
Dan mungkin, di dunia yang semakin rusak ini, pahlawan
sejati memang tidak selalu tampil gagah—kadang hanya berbuah kecil, manis, dan
jatuh ke tanah begitu saja. 🌱
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.