Hidup, jika disederhanakan secara tidak ilmiah, adalah rangkaian kejadian tak terduga yang sering datang tanpa permisi. Hari ini kita cemas soal penuaan (keriput muncul lebih rajin daripada gaji), besok kita kesepian di tengah malam sambil menatap langit-langit kamar, lusa kita patah hati, dan di sela-selanya dunia tampak seperti dikelola oleh panitia dadakan yang lupa membaca buku panduan. Dalam situasi semacam ini, Marguerite Yourcenar datang membawa solusi yang terdengar terlalu tenang untuk dunia yang ribut: belajar.
Menurut Yourcenar, belajar adalah “satu-satunya hal yang
tidak pernah gagal” dan obat mujarab bagi kegundahan jiwa. Ini bukan sekadar
nasihat ala guru BP yang berdiri di depan kelas dengan wajah serius, melainkan
filosofi bertahan hidup tingkat lanjut. Saat segala hal di luar sana
berantakan, belajar adalah aktivitas yang masih bisa kita lakukan tanpa perlu
izin siapa pun—bahkan tanpa Wi-Fi, meski tentu dengan sedikit penderitaan
tambahan.
Pertama-tama, belajar berfungsi seperti pengalih perhatian
paling elegan yang pernah diciptakan manusia. Ketika pikiran mulai sibuk
memutar ulang kegagalan hidup seperti playlist galau tengah malam, belajar
datang sebagai DJ yang mengganti lagu: “Sudah, cukup mikir
mantan, sekarang kita pelajari asal-usul kata ‘melankolia’.” Dengan tenggelam
dalam buku, bahasa asing, atau keterampilan baru, kecemasan yang tadinya liar
perlahan duduk manis. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena pikiran
sedang sibuk dan berkata, “Nanti saja sedihnya, aku lagi mikir.”
Kedua, pengetahuan adalah satu-satunya harta yang
benar-benar anti-maling. Dompet bisa raib, cinta bisa menguap,
reputasi bisa remuk oleh satu unggahan yang disalahpahami. Tapi apa yang sudah
kita pelajari—entah filsafat, sejarah, atau cara memasak mi instan dengan
elegan—tidak bisa dirampas. Pengetahuan menetap di kepala dengan santai,
seperti penyewa kos yang tidak pernah bayar tapi juga tidak mau pergi. Dalam
situasi paling buruk sekalipun, ia tetap menemani, memberi rasa “setidaknya aku
tahu sesuatu”.
Pemikiran Yourcenar ini akrab dengan filsafat Stoa, yang
pada intinya berkata: “Dunia memang kacau, tapi pikiranmu masih wilayah
kedaulatanmu.” Kita tidak bisa mengendalikan usia, nasib, atau komentar orang
di media sosial, tetapi kita bisa memilih untuk terus belajar. Dengan begitu,
kita bukan sekadar korban keadaan, melainkan individu yang tetap tumbuh—meski
sambil mengeluh sedikit, tentu saja. Belajar menjadi bentuk perlawanan sunyi:
tidak dramatis, tidak heroik, tapi konsisten dan sangat manusiawi.
Pada akhirnya, ajakan Yourcenar terdengar sederhana, hampir
terlalu sederhana untuk zaman yang suka solusi instan. Namun justru di situlah
kekuatannya. Belajar bukan hanya soal menambah informasi, melainkan cara
merawat kewarasan. Ia adalah benteng jiwa yang dibangun bukan dari tembok,
melainkan dari rasa ingin tahu. Selama kita masih mampu belajar—tentang dunia,
tentang orang lain, atau tentang diri sendiri—kita belum sepenuhnya kalah.
Maka, ketika dunia terasa runtuh, cinta berantakan, dan masa
depan tampak seperti halaman kosong yang lupa dicetak, ingatlah nasihat
Yourcenar: belajarlah. Karena mungkin kita tidak bisa memperbaiki
dunia hari ini, tetapi setidaknya kita bisa memperbaiki isi kepala. Dan kadang,
itu sudah cukup heroik.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.