Selasa, 27 Januari 2026

Belajar: Tameng Jiwa, Vitamin Otak, dan Cara Elegan Melawan Galau

Hidup, jika disederhanakan secara tidak ilmiah, adalah rangkaian kejadian tak terduga yang sering datang tanpa permisi. Hari ini kita cemas soal penuaan (keriput muncul lebih rajin daripada gaji), besok kita kesepian di tengah malam sambil menatap langit-langit kamar, lusa kita patah hati, dan di sela-selanya dunia tampak seperti dikelola oleh panitia dadakan yang lupa membaca buku panduan. Dalam situasi semacam ini, Marguerite Yourcenar datang membawa solusi yang terdengar terlalu tenang untuk dunia yang ribut: belajar.

Menurut Yourcenar, belajar adalah “satu-satunya hal yang tidak pernah gagal” dan obat mujarab bagi kegundahan jiwa. Ini bukan sekadar nasihat ala guru BP yang berdiri di depan kelas dengan wajah serius, melainkan filosofi bertahan hidup tingkat lanjut. Saat segala hal di luar sana berantakan, belajar adalah aktivitas yang masih bisa kita lakukan tanpa perlu izin siapa pun—bahkan tanpa Wi-Fi, meski tentu dengan sedikit penderitaan tambahan.

Pertama-tama, belajar berfungsi seperti pengalih perhatian paling elegan yang pernah diciptakan manusia. Ketika pikiran mulai sibuk memutar ulang kegagalan hidup seperti playlist galau tengah malam, belajar datang sebagai DJ yang mengganti lagu: “Sudah, cukup mikir mantan, sekarang kita pelajari asal-usul kata ‘melankolia’.” Dengan tenggelam dalam buku, bahasa asing, atau keterampilan baru, kecemasan yang tadinya liar perlahan duduk manis. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena pikiran sedang sibuk dan berkata, “Nanti saja sedihnya, aku lagi mikir.”

Kedua, pengetahuan adalah satu-satunya harta yang benar-benar anti-maling. Dompet bisa raib, cinta bisa menguap, reputasi bisa remuk oleh satu unggahan yang disalahpahami. Tapi apa yang sudah kita pelajari—entah filsafat, sejarah, atau cara memasak mi instan dengan elegan—tidak bisa dirampas. Pengetahuan menetap di kepala dengan santai, seperti penyewa kos yang tidak pernah bayar tapi juga tidak mau pergi. Dalam situasi paling buruk sekalipun, ia tetap menemani, memberi rasa “setidaknya aku tahu sesuatu”.

Pemikiran Yourcenar ini akrab dengan filsafat Stoa, yang pada intinya berkata: “Dunia memang kacau, tapi pikiranmu masih wilayah kedaulatanmu.” Kita tidak bisa mengendalikan usia, nasib, atau komentar orang di media sosial, tetapi kita bisa memilih untuk terus belajar. Dengan begitu, kita bukan sekadar korban keadaan, melainkan individu yang tetap tumbuh—meski sambil mengeluh sedikit, tentu saja. Belajar menjadi bentuk perlawanan sunyi: tidak dramatis, tidak heroik, tapi konsisten dan sangat manusiawi.

Pada akhirnya, ajakan Yourcenar terdengar sederhana, hampir terlalu sederhana untuk zaman yang suka solusi instan. Namun justru di situlah kekuatannya. Belajar bukan hanya soal menambah informasi, melainkan cara merawat kewarasan. Ia adalah benteng jiwa yang dibangun bukan dari tembok, melainkan dari rasa ingin tahu. Selama kita masih mampu belajar—tentang dunia, tentang orang lain, atau tentang diri sendiri—kita belum sepenuhnya kalah.

Maka, ketika dunia terasa runtuh, cinta berantakan, dan masa depan tampak seperti halaman kosong yang lupa dicetak, ingatlah nasihat Yourcenar: belajarlah. Karena mungkin kita tidak bisa memperbaiki dunia hari ini, tetapi setidaknya kita bisa memperbaiki isi kepala. Dan kadang, itu sudah cukup heroik. ðŸ“š✨

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.