Dalam urusan ibadah, ternyata niat baik saja tidak cukup. Kalau niat baik itu ibarat bensin, maka ilmu adalah setirnya. Tanpa setir, mobil tetap melaju—sayangnya ke parit. Pesan inilah yang dengan penuh kasih sayang (dan sedikit gertakan metafisik) disampaikan seorang Kiai dalam ceramah berjudul “Kesalahan Mengamalkan Dzikir Taubat”. Judulnya saja sudah seperti papan peringatan di tikungan tajam: Hati-hati, salah zikir bisa nyungsep.
Cerita dimulai dengan dialog ringan antara Kiai dan seorang jamaah bernama Dito. Dari obrolan yang tampaknya santai ini, pelan-pelan kita diajak masuk ke dunia sufistik yang penuh istilah berat, tetapi disampaikan dengan analogi yang sangat membumi—bahkan kadang terlalu membumi sampai menyentuh dompet.
Sang Kiai berkisah tentang seorang jamaah yang selama setahun rajin bersedekah, mandi taubat rutin, dan berzikir tanpa libur, namun hasil akhirnya sungguh antiklimaks: ekonomi justru makin megap-megap. Sementara itu, sang Kiai sendiri hanya butuh dua minggu taubat “yang benar” untuk melihat tanda-tanda rezeki datang. Dua minggu. Lebih cepat dari masa promo marketplace.
Di sinilah titik krusialnya terungkap. Jamaah tersebut ternyata melakukan apa yang disebut “zikir hakikat” dengan metode kreatif: satu butir tasbih dihitung sebagai satu nikmat, tanpa jelas nikmat yang mana. Ini mirip laporan keuangan dengan pos “lain-lain” yang jumlahnya fantastis, tapi ketika diaudit… semua bingung. Menurut Kiai, praktik ini bukan hanya keliru, tapi sudah masuk kategori self-deception spiritual: menipu diri sendiri sambil berharap Tuhan tidak teliti.
Analogi Kiai sungguh kuat. Taubat yang benar, katanya, seperti bayi baru lahir: belum bisa apa-apa, tapi semua orang senang, mendekat, dan memberi hadiah. Bayi versi default setting. Sebaliknya, taubat yang salah akan menghasilkan efek sebaliknya—bayi metaforis yang bahkan malaikat pun ogah menggendong. Ini bukan soal bayi sungguhan, tentu saja, tapi gambaran betapa energi spiritual itu, menurut sang Kiai, punya “aroma” yang bisa salah racik.
Akar dari semua masalah ini, kata Kiai, adalah putusnya sanad. Sanad adalah jalur resmi keilmuan—semacam SIM spiritual. Tanpa sanad, orang bisa saja beribadah dengan semangat luar biasa, tapi seperti pengendara tanpa SIM: yakin bisa nyetir, tapi rawan ditilang realitas. Membuat praktik ibadah versi sendiri, menurut ceramah ini, bukan inovasi—melainkan sabotase diri.
Ceramah ini punya banyak kelebihan. Bahasanya sederhana, analoginya dekat dengan keseharian masyarakat, dan solusinya terasa praktis. Ia memberi harapan bahwa taubat yang benar bukan hanya membersihkan hati, tetapi juga—bonusnya—bisa berdampak pada kelancaran hidup. Paket lengkap: spiritual dan duniawi, satu amalan, dua manfaat.
Namun, tentu saja, ada sisi yang perlu disikapi dengan senyum kritis. Ceramah ini lebih banyak bertumpu pada kisah dan pengalaman pribadi ketimbang dalil tekstual. Ungkapan seperti “iblis bisa masuk badan karena salah zikir” bisa dimaknai secara simbolik, tapi jika dipahami mentah-mentah, berpotensi membuat orang takut salah niat sampai gemetar sebelum berdoa. Selain itu, mengaitkan kegagalan ekonomi semata-mata dengan kesalahan ritual bisa terdengar seperti menyederhanakan persoalan hidup yang jelas-jelas lebih kompleks—dari manajemen usaha sampai kondisi pasar.
Meski begitu, sebagai potret dakwah digital kontemporer, ceramah ini sangat representatif. Ia menjawab kegelisahan masyarakat yang ingin cepat dekat dengan Tuhan, tapi kadang lupa bahwa jalan pintas spiritual sering berujung jalan buntu. Pesan tentang pentingnya sanad, guru, dan kerendahan hati dalam beribadah tetap relevan—bahkan mendesak—di tengah banjir konten keagamaan yang serba instan.
Akhirnya, refleksi ini mengingatkan kita bahwa ibadah bukan laboratorium eksperimen bebas. Zikir, apalagi yang bersifat khusus, bukan ajang trial and error. Ketulusan harus berjalan seiring dengan ilmu, dan semangat harus dibimbing oleh otoritas keilmuan yang sah. Kalau tidak, kita bisa saja rajin beribadah, tapi salah alamat—seperti mengirim paket taubat ke rumah sendiri, lalu heran mengapa balasannya tak kunjung datang.
Singkatnya, dalam mencari cahaya spiritual, jangan asal menyalakan lampu. Bisa jadi itu bukan lampu, tapi senter rusak yang malah bikin kita tersandung.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.