Jumat, 16 Januari 2026

Allah Mahabaik, Tapi Bukan Customer Service 24 Jam

 

Belajar Tenang dari Jalal dan Jamal

Ketika Tuhan Dianggap Terlalu Baik

Banyak orang mengenal Allah seperti mengenal paket promo: penuh diskon, bonus, dan cashback rahmat. Allah dipersepsikan serba lembut, penuh senyum, dan jarang marah. Masalah muncul ketika hidup tiba-tiba “error”: usaha bangkrut, doa belum approved, atau rencana hidup mentok seperti sinyal di lift. Di titik ini, sebagian orang mulai bertanya lirih (atau nyaring):
“Allah kok gini, sih?”

Di sinilah kajian Al-Hikam mengingatkan kita dengan sopan tapi tegas: Allah itu Mahapenyayang, iya. Tapi bukan berarti Dia selalu menepuk pundak kita sambil berkata, ‘Tidak apa-apa, lanjutkan saja.’

Dua Sisi Kasih Sayang: Lembut dan Tegas

Allah memiliki sifat jamaliyah (indah, lembut, menenangkan) dan jalaliyah (agung, tegas, mengguncang). Keduanya bukan bertentangan, tapi saling melengkapi—seperti orang tua yang kadang memeluk, kadang mencabut kabel Wi-Fi.

Nikmat, kelancaran, dan keberhasilan adalah wujud Allah yang berkata,
“Silakan, lanjutkan perjalananmu.”

Sementara kegagalan, musibah, dan keterhentian hidup adalah cara Allah berkata,
“Berhenti sebentar. Kita perlu bicara.”

Masalahnya, manusia sering ingin Allah hanya tampil sebagai jamaliyah saja. Neraka dianggap terlalu ekstrem, kegagalan dianggap tidak pantas bagi orang baik, dan ujian dianggap salah alamat. Padahal, Allah tidak pernah salah kirim paket kehidupan.

Orang Arif: Tidak Lebay Saat Senang, Tidak Drama Saat Susah

Orang yang arif—kata para bijak—adalah orang yang tidak terlalu terbang saat senang dan tidak terlalu ambruk saat susah. Sebab ia sadar:
hari ini dipuji, besok diuji;
hari ini ditolong, besok ditolongkan lewat masalah.

Al-Qur’an bahkan hanya mengizinkan satu jenis kegembiraan:
bergembira karena Allah dan rahmat-Nya,
bukan karena saldo naik, pengikut bertambah, atau status sosial naik kelas.

Karena apa?
Saldo bisa bocor.
Follower bisa unfollow.
Status bisa turun.
Tapi Allah tidak pernah pensiun.

Su’udzon dan Ujub: Dua Virus Spiritual

Ada dua penyakit hati yang sering menyamar sebagai kesalehan.

Pertama, su’udzon kepada Allah.
Setan senang membuka arsip dosa masa lalu kita, lalu berbisik,
“Kamu itu sudah rusak. Ngapain berharap?”

Padahal Nabi Adam justru naik derajat bukan karena tak pernah salah, tapi karena berprasangka baik kepada Allah meski baru saja jatuh.

Kedua, ujub—merasa kagum pada diri sendiri.
Ini penyakit yang tampak sopan tapi mematikan.
Iblis bukan jatuh karena kurang ibadah, tapi karena terlalu percaya diri.

Pesannya sederhana tapi menohok:
lebih baik menangis karena dosa daripada tersenyum karena amal.

Dosa yang Menyelamatkan, Amal yang Menyesatkan?

Paradoksnya begini:
Ada dosa yang mendekatkan kepada Allah—jika disertai taubat dan rendah hati.
Ada amal yang menjauhkan—jika disertai kesombongan.

Hati yang remuk karena sadar dosa sering lebih jujur di hadapan Allah daripada hati yang rapi karena merasa suci.
Maka jangan heran jika sebagian orang “baik-baik saja” secara ibadah, tapi jauh secara rasa.

Allah tidak tertarik pada CV spiritual,
Dia melihat kerendahan hati di baliknya.

Makrifat di Zaman Media Sosial

Di era pencitraan, kesuksesan harus dipamerkan dan kegagalan harus disembunyikan. Bahkan kesalehan pun kadang dikurasi seperti konten.

Di sinilah pemahaman jalal dan jamal menjadi terapi jiwa.
Ia membuat kita tahan banting:
tidak mabuk pujian,
tidak tenggelam dalam cacian.

Makrifat bukan membuat hidup bebas masalah,
tapi membuat masalah tidak lagi merampas ketenangan.

Tuhan Tidak Pernah Salah Peran

Allah kadang hadir sebagai pelukan,
kadang sebagai dorongan keras dari belakang.
Keduanya adalah kasih sayang—hanya beda rasa.

Dengan memahami jalaliyah dan jamaliyah, hidup tidak lagi ditafsirkan secara emosional, tapi secara spiritual.
Nikmat menjadi ujian syukur.
Musibah menjadi pelajaran makrifat.

Dan pada akhirnya, kita belajar satu hal penting:
Allah tidak selalu membuat hidup mudah, tapi selalu membuatnya bermakna.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.