Selasa, 20 Januari 2026

Ketika Santri Bertemu Silicon Valley: AI, Pesantren, dan Kitab Kuning yang Tidak Panik

Di negeri yang sering menganggap teknologi sebagai cucu durhaka tradisi, pesantren kerap diposisikan sebagai kakek sepuh yang masih setia menulis dengan kapur. Maka bayangan tentang Artificial Intelligence masuk ke pesantren biasanya langsung memicu imajinasi liar: santri berdialog dengan robot, kitab kuning berubah jadi PDF ber-LED, atau kiai digantikan oleh chatbot bernama “Gus-GPT”.

Untungnya, program AI Teaching Power yang dikabarkan NU Online justru membatalkan semua kecurigaan itu dengan tenang—tanpa ceramah panjang, apalagi demonstrasi. Kolaborasi antara Microsoft Elevate, NU Care Global, dan Kementerian Agama RI ini seperti mempertemukan tiga tokoh yang kelihatannya tak serasi: insinyur Silicon Valley, relawan sosial, dan birokrat bersongkok. Aneh? Justru di situlah letak keindahannya.

Program yang berlangsung dari November 2025 hingga Juni 2026 ini tidak sedang mengajari pesantren cara menjadi startup, melainkan bagaimana AI bisa jadi santri teladan: membantu, patuh etika, dan tidak sok pintar.

Buktinya? Muncul dua juara yang cukup menghibur akal sehat. Pertama, Januarianto Putra, guru madrasah yang awalnya menggunakan AI layaknya mesin fotokopi digital—untuk menyusun RPP. Tapi seperti santri yang naik kelas, AI kemudian diajak berpikir lebih dalam: membantu pembelajaran, memancing nalar kritis siswa, dan—ini penting—tidak ditelan mentah-mentah. Karena di kelasnya, AI bukan kitab suci baru, melainkan kitab bantu, lengkap dengan catatan kaki dan tanda tanya.

Kedua, Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, pesantren sepuh berdiri sejak 1930, yang membuktikan bahwa usia tua tidak identik dengan gaptek. Bayangkan: 39 dari 52 guru ikut program AI. Ini bukan sekadar partisipasi, ini sudah istighotsah digital. AI dipakai untuk administrasi, materi ajar, dan efisiensi kerja—tanpa menghapus tradisi. Kitab kuning tetap kuning, adab tetap adab, tapi now with better workflow.

Yang menarik, tulisan NU Online ini sebenarnya tidak sedang membanggakan piala. Ia sedang menyampaikan pesan halus tapi tegas:
👉 AI tidak datang untuk menggantikan guru, apalagi kiai.
Ia datang seperti santri senior: bantu-bantu, angkat galon, tapi tetap tahu diri.

Secara strategis, ini paduan unik: teknologi global bersalaman dengan kearifan lokal tanpa saling curiga. Secara etis, AI diperlakukan bukan sebagai mesin jawaban instan—karena kalau semua jawaban instan, ujian hidup bisa dibatalkan. Secara sosial-budaya, pesantren tidak lagi dipotret sebagai museum tradisi, melainkan laboratorium masa depan berbasis nilai. Bahkan secara politik-pendidikan, keterlibatan Kemenag menunjukkan bahwa negara akhirnya paham: transformasi digital paling efektif bukan lewat jargon, tapi lewat kepercayaan sosial.

Tentu, tantangan masih ada. Akses teknologi belum merata, infrastruktur belum selalu siap, dan etika AI tidak otomatis ikut terinstal seperti aplikasi bawaan. Tapi pesan besarnya jelas: pesantren tidak alergi pada masa depan. Mereka hanya menuntut satu hal—masa depan itu harus sopan.

Pada akhirnya, kisah ini memberi pelajaran penting bagi bangsa yang sering ribut soal “tradisi vs modernitas”. Pesantren menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus ribut, tidak perlu dramatis, dan tidak wajib membakar kitab lama. Cukup satu prinsip sederhana:
AI boleh pintar, tapi akhlak tetap juara.

Dan di situlah pesantren, dengan sarung dan wifinya, diam-diam sudah melangkah lebih dulu.

Sumber: https://nu.or.id/nasional/kolaborasi-microsoft-elevate-nu-care-global-lahirkan-teacher-of-the-batch-ai-teaching-power-1yfRM

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.