Di zaman ketika hampir semua hal diukur dengan usaha dan hasil, ibadah pun kerap ikut-ikutan jadi proyek. Salat rajin dianggap investasi, puasa sunnah seperti tabungan, dan sedekah—tentu saja—berharap dividen. Maka tidak heran jika banyak orang beribadah sambil melirik ke langit, memastikan: “Ini sudah cukup belum?”
Tasawuf datang membawa kabar yang agak mengejutkan sekaligus menenangkan: rida Ilahi bukan hadiah di akhir perjuangan, melainkan titik awalnya. Ia bukan hasil yang kita kejar, tetapi anugerah yang sudah bekerja diam-diam jauh sebelum kita sempat merasa rajin. Amal saleh, dalam pandangan ini, bukan magnet penarik rida, melainkan tanda bahwa rida itu sedang berlaku. Jika seseorang bisa taat, itu bukan semata karena ia hebat, melainkan karena ia sedang diberi izin.
Amal Saleh Bukan Alat Tukar
Selama ini, logika sebab-akibat duniawi sering terbawa ke urusan ibadah. Kita merasa: aku salat, maka aku diridai. Tasawuf justru membalik urutannya: karena diridai, maka aku salat. Ini kabar baik sekaligus kabar buruk bagi ego. Kabar baiknya, beban pembuktian berkurang. Kabar buruknya, klaim “aku sudah berusaha keras” jadi tidak terlalu relevan.
Di sinilah keikhlasan diuji. Ikhlas bukan sekadar tidak pamer, tapi juga tidak menuntut. Beribadah bukan karena ingin sesuatu, bahkan bukan semata ingin surga, melainkan karena menyadari bahwa Yang Disembah sama sekali tidak membutuhkan apa pun dari kita. Ibadah berubah dari transaksi menjadi pengakuan: bahwa kita ini bergantung, bukan pemberi jasa.
Takdir dan Plot Twist Kehidupan
Urusan takdir sering kali menjadi batu sandungan. Ada orang yang tampak rapi secara spiritual, namun akhir ceritanya mengejutkan. Ada pula yang tampak biasa, tetapi penutup hidupnya justru indah. Ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan bahwa akhir perjalanan bukan wilayah spekulasi manusia.
Masalahnya, nafsu tidak suka ketidakpastian. Ia ingin kepastian, jadwal, dan jaminan. Ketika hidup tidak sesuai harapan, muncullah protes batin: “Kenapa begini, padahal aku sudah begini?” Tasawuf menyebut nafsu sebagai penjara yang tampak nyaman. Bebasnya justru ada pada penyerahan: tawakal dan penyerahan total, bahkan sampai pada keberanian berdoa untuk dicukupkan tanpa sebab.
Tobat yang Tidak Percaya Diri Sendiri
Dalam lapisan tasawuf yang lebih dalam, bahkan tobat pun perlu dibersihkan. Bukan dari dosanya, tapi dari rasa bangga terhadap proses tobat itu sendiri. Ada saatnya seseorang perlu “bertobat dari tobatnya”—yakni dari keyakinan halus bahwa perubahan dirinya adalah kunci mutlak ampunan. Padahal, sebagaimana rida, ampunan pun adalah anugerah, bukan hasil teknik spiritual.
Di titik ini, spiritualitas kehilangan unsur pamer. Tidak ada lagi kebutuhan mencari pengalaman luar biasa atau pengakuan batin. Yang penting bukan sensasinya, melainkan ketepatan arah hati. Tasawuf menjadi disiplin akidah dan penyucian batin, bukan panggung keajaiban.
Bukan Alasan untuk Malas
Tentu saja, pemahaman ini bukan tiket rebahan. Justru sebaliknya. Jika ketaatan adalah tanda anugerah, maka menjaganya adalah bentuk syukur. Amal tetap dilakukan, bukan untuk memaksa langit, tetapi untuk menyelaraskan diri dengan kebaikan yang sedang bekerja.
Beribadah lalu menjadi aktivitas yang ringan. Tidak penuh kecemasan, tidak sibuk menghitung peluang diterima, dan tidak panik mengejar validasi spiritual. Seseorang taat karena ia sedang diberi kemampuan untuk taat—dan itu sendiri sudah cukup menjadi alasan.
Hidup Lebih Tenang, Ego Lebih Ringan
Secara psikologis, pandangan ini membebaskan. Tidak lagi terjebak pada logika output spiritual. Hidup dijalani dengan ikhtiar, diterima dengan ridha, dan ditutup dengan harapan baik—tanpa merasa harus mengendalikan segalanya. Bahkan kepahitan pun bisa diterima sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai tanda kegagalan iman.
Pada akhirnya, manusia belajar melihat dirinya secara proporsional: bukan sebagai penulis takdir, melainkan alat yang digerakkan. Dalam dunia yang lelah mengejar hasil, kesadaran ini terasa seperti berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari bahwa tidak semua hal harus dikendalikan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.