Selasa, 06 Januari 2026

Keabadian Mundur: Ketika Membaca Membuat Kita Tua Ribuan Tahun Sekaligus

Di tengah lautan notifikasi, video 15 detik, dan debat kolom komentar yang berakhir dengan “lu kok gitu sih?”, tiba-tiba muncul sebuah tweet pada Januari 2026 yang membuat banyak orang terdiam—atau setidaknya berhenti scroll selama tiga detik. Isinya menohok: “Pada usia 70, ia yang tidak membaca hanya menjalani satu kehidupan. Ia yang membaca akan hidup selama 5000 tahun. Membaca adalah keabadian secara terbalik.”

Kutipan yang dikaitkan dengan Umberto Eco ini langsung viral. Sebagian orang terharu, sebagian lagi tersindir, dan sebagian lainnya sibuk bertanya: “Ini beneran Eco nggak sih?”—sebuah pertanyaan penting, terutama bagi mereka yang jarang membaca buku tapi rajin mengecek keaslian kutipan.

Pesan Eco, jika kita tangkap tanpa panik, sebenarnya sederhana tapi kejam. Orang yang tidak membaca menjalani hidup seperti jalur KRL tanpa transit: berangkat, sampai, selesai. Pengalamannya ya itu-itu saja—kantor, rumah, grup WhatsApp keluarga, ulang lagi. Hidupnya linear, lurus, dan relatif bisa ditebak.

Sementara itu, orang yang membaca hidup seperti penumpang kereta lintas waktu. Pagi ini sarapan dengan Plato, siang debat dengan Al-Ghazali, sore menyaksikan tragedi Shakespeare, malam ditutup dengan novel detektif yang pembunuhnya ternyata bukan tukang kebun (kadang malah naratornya sendiri). Angka “5000 tahun” tentu bukan hitungan kalender, tapi ukuran betapa banyak zaman yang bisa ditumpangi tanpa perlu mesin waktu—cukup kursi, lampu, dan niat yang agak serius.

Bagian paling nakal dari kutipan ini ada pada istilah “keabadian secara terbalik.” Biasanya manusia ingin hidup selamanya ke depan: awet muda, umur panjang, bonus nyawa. Eco justru mengusulkan keabadian ke belakang. Bukan menunggu masa depan, tapi menyelam ke masa lalu. Membaca membuat kita akrab dengan orang-orang yang sudah wafat ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tapi pemikirannya masih cerewet di kepala kita sampai sekarang.

Sebagai seorang bibliofil akut dengan perpustakaan pribadi yang lebih mirip gudang logistik peradaban, Umberto Eco adalah contoh ekstrem dari manusia yang menua ke belakang. Ia hidup di abad pertengahan, Yunani kuno, Eropa modern, sekaligus Italia kontemporer—semuanya tanpa paspor. Novel The Name of the Rose sendiri terasa seperti bukti bahwa Eco tidak hanya membaca sejarah, tapi betah tinggal di sana.

Menariknya, viralnya tweet ini justru terjadi di era ketika membaca sering disalahpahami sebagai “caption panjang”. Algoritma lebih suka kita tahu sedikit tentang banyak hal, daripada banyak tentang satu hal. Maka wajar jika pesan Eco terasa seperti teguran lembut tapi pedih: bahwa pengetahuan instan sering kali membuat kita cepat tahu, tapi juga cepat lupa.

Perdebatan soal keaslian kutipan pun muncul. Namun seperti buku bagus yang tetap bermakna meski sampulnya sobek, esensi pesan ini tetap berdiri tegak. Bahkan mungkin inilah ironi paling manis: orang-orang yang meragukan kutipan itu terpaksa membaca, berdiskusi, dan mencari sumber—tanpa sadar sedang menjalankan “keabadian terbalik” itu sendiri.

Pada akhirnya, tweet ini adalah ajakan halus untuk merebut kembali waktu kita dari layar yang tak pernah kenyang. Setiap kali kita memilih membuka buku alih-alih sekadar menggulir tanpa tujuan, kita sedang memperpanjang hidup—bukan ke depan, tapi ke belakang. Kita menjadi lebih tua dari usia kita, lebih kaya dari pengalaman kita, dan sedikit lebih kebal terhadap kedangkalan zaman.

Jadi, jika suatu hari Anda merasa hidup terasa pendek, jangan buru-buru mencari resep awet muda. Cukup ambil buku. Siap-siap menua ribuan tahun—dengan cara yang paling menyenangkan. 📚🙂

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.