Pada Januari 2026, sebuah peristiwa langka terjadi di semesta pesantren Indonesia. Bukan rukyatul hilal, bukan bahtsul masail soal hukum WiFi tetangga, melainkan peluncuran Gerakan Pesantren Cakap AI oleh RMI PBNU. Dunia pesantren—yang selama ini identik dengan kitab kuning, sarung, dan jadwal ngaji ba’da Subuh—resmi menyapa kecerdasan buatan. AI pun kaget: “Loh, saya disambut pakai akhlak?”
Targetnya tidak main-main: 40.000 santri dan pengajar. Ini bukan sekadar pelatihan klik-klik PowerPoint atau cara login Microsoft 365 tanpa lupa password, tapi sebuah eksperimen besar: bagaimana teknologi paling mutakhir di dunia bisa hidup rukun dengan tradisi pesantren yang usianya lebih tua dari sebagian negara modern. Singkatnya, ini adalah usaha serius agar pesantren tetap relevan tanpa harus berubah jadi startup berkopyah.
Al-Akhdu bi al-Jadid al-Ashlah, Tapi Jangan Lupa Adab
Pelatihan AI ini punya tiga pilar: literasi AI, pedagogi digital, dan lisensi Microsoft 365 gratis. Santri pun kini akrab dengan kata prompt, bukan cuma taqrib. Namun, pesan utamanya bukan soal software, melainkan soal sikap. KH Hodri Arief mengingatkan prinsip klasik pesantren: al-akhdu bi al-jadid al-ashlah—ambil yang baru kalau memang lebih baik. Artinya, AI boleh masuk, asal tidak nyelonong ke kamar kiai tanpa salam.
Gus Yahya kemudian menaikkan level diskusi. Di tengah dunia AI yang larinya lebih cepat dari niat baik manusia, dan regulasi global yang masih seperti kitab jilid satu tapi jilid duanya belum dicetak, pesantren dipanggil naik ke panggung dunia. Bukan sebagai penonton kagum, melainkan sebagai penjaga moral. Kalau algoritma mulai bingung membedakan hoaks dan hikmah, pesantren diharapkan bisa berdehem: “Sebentar, ini niatnya apa?”
Santri Cakap Digital, Tapi Tetap Tahu Batas
Misi gerakan ini sebenarnya sederhana tapi berat: mencari jalan tengah. Di satu sisi, santri harus melek teknologi—bisa pakai AI untuk riset, ekonomi kreatif, bahkan bantu memahami kitab. Di sisi lain, ada kesadaran bahwa teknologi tanpa etika itu seperti sepeda motor tanpa rem: cepat, tapi bikin deg-degan.
Maka lahirlah cita-cita mulia: santri berakhlak digital. Santri yang tahu bahwa AI itu alat, bukan wali; asisten, bukan guru mursyid. Santri yang bisa bertanya ke chatbot, tapi tetap tabayyun sebelum share. Pesantren pun diposisikan sebagai pemasok modal sosial: tempat di mana nilai, adab, dan kehati-hatian diwariskan untuk dunia maya yang sering lupa daratan.
Peluang Besar, Tantangan Juga Tidak Kecil
Potensinya memang menggoda. Bayangkan AI membantu analisis kitab kuning, simulasi ilmu falak, atau manajemen pesantren yang lebih rapi. Kolaborasi dengan Microsoft membuka harapan baru: semacam wakaf digital, di mana pahala mengalir lewat lisensi resmi, bukan software bajakan.
PBNU bahkan berani masuk percakapan global soal etika AI—sejajar dengan Vatikan. Sebuah pemandangan menarik: dua lembaga agama tua, sama-sama mengingatkan dunia teknologi yang masih muda agar tidak kebablasan.
Namun tantangannya juga nyata. Infrastruktur pesantren di pelosok belum tentu siap. Etika AI tidak bisa berhenti di seminar—harus turun jadi kurikulum yang operasional. Risiko misinformasi, bias algoritma, dan kekhawatiran “AI kok rasanya sekuler” perlu dijawab dengan sabar dan konkret. Dan tentu saja, mengelola 40.000 peserta pasca-pelatihan bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan satu tombol refresh.
Pesantren sebagai Laboratorium Peradaban
Pada akhirnya, Gerakan Pesantren Cakap AI bukan sekadar proyek teknologi. Ia adalah deklarasi filosofis: bahwa pesantren tidak anti-zaman, tapi juga tidak silau zaman. Dari benteng tradisi, pesantren perlahan berubah menjadi laboratorium peradaban—tempat iman, ilmu, dan inovasi diuji hidup bersama.
Kalau berhasil, pesantren akan melahirkan generasi yang bukan hanya pandai menyusun prompt, tetapi juga paham niat. Bukan hanya bisa mengoperasikan algoritma, tetapi juga berani bertanya: “Ini membawa maslahat atau mudarat?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.