Selasa, 20 Januari 2026

Ringan Tapi Kok Berat? Kundera, Cinta, dan Hidup yang Cuma Sekali tapi Bikin Pusing

Judul The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera sejak awal sudah seperti status WhatsApp orang galau filsafat: “Ringan, tapi kok nggak kuat?” Biasanya yang ringan itu mudah dibawa—kantong plastik, komitmen sementara, atau janji kampanye. Tapi Kundera justru bilang: justru karena hidup ini terlalu ringan, ia jadi tak tertanggungkan. Ini bukan salah timbangan, tapi salah eksistensi.

Novel ini bukan sekadar cerita cinta di Eropa Timur, melainkan semacam seminar filsafat yang menyamar jadi drama rumah tangga, lengkap dengan perselingkuhan, mimpi buruk, pawai politik, dan pertanyaan klasik: “Sebetulnya hidup ini mau diapain?”

Hidup Cuma Sekali: Selamat Datang di Dunia Tanpa Tombol “Undo”

Kundera membuka novel dengan ide berat—secara harfiah—dari Nietzsche: eternal return. Bayangkan kalau hidup kita terulang terus seperti lagu TikTok yang diputar tanpa bisa discroll. Salah pilih pasangan? Ulang. Salah status? Ulang. Salah ideologi? Ulang sampai kiamat. Dalam kondisi ini, hidup jadi sangat berat, karena setiap keputusan punya konsekuensi kekal.

Tapi tenang, kata Kundera, kabar buruknya: hidup tidak begitu. Hidup ini cuma sekali. Tidak ada versi beta, tidak ada revisi, tidak ada director’s cut. Dan justru di sinilah masalahnya. Karena cuma sekali, semua jadi terasa kebetulan, tanpa pembanding, tanpa kepastian makna. Hidup menjadi ringan, terlalu ringan—seperti opini netizen yang hilang besok pagi.

Ironisnya, kebebasan total ini malah bikin cemas. Kita bebas memilih apa saja, tapi setelah memilih, tidak ada jaminan itu benar. Dan tidak ada edisi ulang untuk memperbaiki.

Empat Tokoh, Empat Cara Salah Menjalani Hidup

Kundera tidak berkhotbah; ia memperagakan. Lewat empat tokoh, ia menunjukkan bahwa hidup ini memang sulit—entah dijalani dengan ringan atau berat.

Tomas: Bebas Itu Enak, Sampai Hati Orang Ikut Teriris

Tomas adalah dokter bedah jenius dan atlet nasional dalam cabang olahraga menghindari komitmen. Ia mencintai istrinya, Tereza, tapi juga mencintai hampir semua perempuan lain—secara filosofis, tentu saja. Baginya, seks dan cinta itu dua file berbeda, tidak perlu disimpan dalam satu folder.

Masalahnya, dunia nyata tidak mengenal fitur “pisahkan perasaan”. Dan kebebasan Tomas yang ringan itu pelan-pelan berubah menjadi beban—bukan di pundaknya, tapi di hati Tereza.

Tereza: Ketika Cinta Butuh Bobot dan Kesetiaan

Tereza percaya tubuh dan jiwa itu satu paket, bukan bundling promo. Maka setiap perselingkuhan Tomas terasa seperti gempa batin. Ia ingin cinta yang utuh, berat, dan serius—lengkap dengan rasa sakitnya.

Dalam dunia Kundera, Tereza adalah pengingat bahwa tidak semua orang kuat hidup tanpa pegangan. Kadang kita butuh beban, asal itu beban yang kita pilih sendiri.

Sabina: Pengkhianatan sebagai Gaya Hidup

Sabina adalah seniman, pengembara, dan spesialis kabur sebelum hubungan jadi serius. Prinsip hidupnya sederhana: kalau sudah mapan, segera tinggalkan. Ayah? Tinggalkan. Negara? Tinggalkan. Kekasih? Tinggalkan. Ideologi? Jangan sampai sempat tumbuh.

Tapi setelah terlalu lama berjalan tanpa arah, Sabina mulai curiga: jangan-jangan kebebasan total itu bukan surga, melainkan ruang hampa ber-AC.

Franz: Idealis yang Salah Tangkap

Franz ingin hidup bermakna. Ia ikut demonstrasi, pawai, dan gerakan moral, berharap menemukan bobot eksistensial. Sayangnya, ia jatuh cinta pada Sabina dengan harapan yang keliru—seperti membaca puisi avant-garde tapi berharap ending bahagia ala sinetron.

Politik dan Kitsch: Ketika Dunia Harus Terlihat Indah, Walau Bohong

Kundera lalu menyerang musuh bersama: kitsch. Ini bukan sekadar seni norak, tapi ideologi yang menolak melihat sisi gelap manusia. Dunia versi kitsch harus bersih, seragam, dan optimistis—tanpa air mata, tanpa keraguan, tanpa “hal-hal menjijikkan”.

Dalam rezim totaliter, kitsch dipakai untuk menyatukan massa. Dalam demokrasi, kitsch muncul sebagai slogan, citra, dan feed media sosial yang selalu bahagia. Semua menawarkan dunia sempurna—asal kita sepakat untuk tidak bertanya terlalu dalam.

Sabina membenci kitsch karena ia tahu: begitu kita menolak realitas yang tidak nyaman, kita sedang membangun penjara baru.

Pelajaran Terakhir: Hidup Ini Ringan, Tapi Jangan Asal Melepaskan

Pada akhirnya, Kundera tidak memberi jawaban praktis seperti buku motivasi. Ia tidak bilang “pilih yang berat” atau “nikmati yang ringan”. Ia hanya menunjukkan bahwa keduanya sama-sama berbahaya jika dipeluk secara ekstrem.

Kebahagiaan Tomas dan Tereza—yang singkat dan sederhana—muncul justru ketika mereka memilih satu sama lain, sadar bahwa pilihan itu fana, tidak sempurna, dan tidak bisa diulang. Bobotnya bukan paksaan, tapi kesediaan.

Penutup: Selamat Datang di Hidup Tanpa Ulangan

The Unbearable Lightness of Being adalah pengingat yang agak kejam tapi jujur: hidup ini ringan karena cuma sekali. Tapi justru karena itu, pilihan kita penting—bukan karena abadi, melainkan karena tak bisa diulang.

Dan mungkin, kata Kundera sambil tersenyum tipis, kebijaksanaan hidup bukan soal menghilangkan beban, melainkan memilih beban yang layak ditanggung, meski kita tahu pada akhirnya semua akan selesai, senyap, dan tak meninggalkan catatan kaki apa pun di semesta.

Ringan? Ya.
Tak tertanggungkan? Kadang.
Tapi tetap harus dijalani—karena skip intro juga tidak tersedia.

abah-arul.blogspot.com. Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.