Jumat, 23 Januari 2026

Korea Selatan dan AI: Ketika Robot Diminta Tahu Diri

Di saat dunia masih sibuk bertanya, “Ini suara manusia atau AI, ya?”, Korea Selatan sudah lebih dulu berkata tegas, “Tenang, nanti kami pasangi name tag.” Lahirlah AI Basic Act, sebuah undang-undang yang intinya sederhana namun revolusioner: kalau kamu mesin, ya ngaku mesin. Jangan sok manusia.

Undang-undang ini ibarat etika pergaulan digital. AI boleh canggih, boleh pintar, boleh bikin puisi galau tengah malam—tapi tetap harus sopan. Kalau sedang menyamar jadi manusia, wajib bilang dulu. Kalau bikin konten, apalagi deepfake, kasih tanda. Dunia sudah cukup lelah dengan drama sosial; tak perlu ditambah aktor digital yang berakting tanpa pemberitahuan.

Prinsip transparansi yang diusung Korea Selatan ini terasa seperti nasihat orang tua yang bijak: “Nak, boleh pintar, tapi jangan nipu.” Di zaman ketika wajah bisa ditukar, suara bisa dipalsukan, dan video bisa berbohong dengan resolusi 4K, hak untuk tahu apakah lawan bicara kita manusia atau algoritma mendadak naik kelas—dari etika sopan santun menjadi hak asasi digital.

Menariknya, Korea Selatan tidak latah melarang segalanya. Mereka memilih pendekatan berbasis risiko. Sepuluh sektor sensitif—mulai dari nuklir, kesehatan, hukum, sampai transportasi—diberi label “AI berdampak tinggi”. Artinya: di sini AI boleh membantu, tapi jangan sok jadi Tuhan. Manusia tetap harus pegang setir, apalagi kalau taruhannya nyawa dan keselamatan publik.

Lalu soal denda. Ah, ini bagian favorit dunia korporasi. Pelanggar bisa kena denda sampai 30 juta won. Jumlah yang cukup untuk membuat CEO mendadak rajin membaca regulasi, dan tim legal berhenti menganggap “terms and conditions” sebagai hiasan footer. Pesannya jelas: inovasi iya, sembrono jangan.

Regulasi ini juga jadi tamparan halus bagi dunia internasional. Ketika Uni Eropa masih sibuk berunding, Korea Selatan sudah lebih dulu menaruh papan nama: “Standar Tata Kelola AI, Silakan Mencontoh.” Dan tentu saja, negara-negara lain—termasuk Indonesia—bisa belajar bahwa mengatur teknologi bukan berarti memusuhi masa depan, melainkan menyiapkannya agar tidak berubah jadi film horor.

Pada akhirnya, AI Basic Act menunjukkan satu hal penting: masa depan tidak hanya milik mereka yang paling cepat berinovasi, tapi juga mereka yang paling dewasa mengatur diri. Korea Selatan seakan berkata pada dunia, “Silakan ciptakan AI sepintar apa pun, asal jangan lupa: yang harus dilindungi tetap manusia.”

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.