Richard Feynman sering dipajang di etalase sejarah sebagai jenius premium edisi terbatas. Rambut awut-awutan, bongos di tangan, rumus fisika kuantum di kepala—lengkap sudah paket mitologi intelektualnya. Namun tulisan yang kita bahas ini dengan santai menurunkan Feynman dari altar ke ruang kelas, lalu berkata: “Tenang, dia juga manusia. IQ-nya 125. Tidak pakai DNA alien.”
Di sinilah paradoks Feynman dimulai. Jika jenius itu identik
dengan IQ superlangit, maka Feynman seharusnya hanya jadi “anak pintar yang
rajin”. Tapi nyatanya, ia malah menjadi ikon kecerdasan abad ke-20. Lalu
rahasianya apa? Apakah ia punya chip rahasia di otak? Tidak. Ia hanya punya
kebiasaan yang jarang: jujur saat bingung.
Ayah Feynman sejak kecil sudah merusak masa depan Feynman
sebagai penghafal juara. Ketika anak-anak lain bangga bisa menyebut nama burung
dalam bahasa Latin, ayahnya berkata, “Itu bukan tahu. Itu cuma tahu nama.”
Sejak saat itu, Feynman alergi terhadap orang yang berkata, “Ini jelas,”
padahal tidak bisa menjelaskan ulang tanpa powerpoint dan jargon impor.
Baginya, kata “jelas” sering berarti, “Saya juga sebenarnya belum
paham, tapi mari kita berpura-pura.”
Tulisan ini lalu dengan elegan menampar mitos IQ sebagai
penentu tunggal kecerdasan. Fokusnya digeser dari berapa pintar kamu menjadi apa
yang kamu lakukan ketika tidak paham. Dan di sinilah Teknik Feynman masuk:
jika kamu tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa sederhana, berarti
otakmu sedang cosplay sebagai orang paham. Diagnosisnya sederhana, efeknya
menyakitkan.
Lebih pedas lagi, tulisan ini secara halus menyindir sistem
pendidikan kita. Sekolah sering memproduksi lulusan dengan spesialisasi “hafal
definisi tanpa tahu fungsi”. Kita tahu nama-nama konsep, tapi begitu ditanya
“kenapa” atau “bagaimana”, otak langsung buffering. Feynman justru melakukan
sebaliknya: ia menganggap menghafal sebagai level tutorial paling bawah—seperti
membaca resep tanpa pernah memasak.
Fenomena psikologis seperti Dunning-Kruger Effect ikut
diseret ke meja bedah. Ilusi kefasihan membuat kita merasa pintar hanya karena
akrab dengan istilah. Feynman, anehnya, tidak nyaman dengan rasa “terlalu
lancar”. Jika sesuatu terasa mulus tanpa perlawanan mental, ia justru curiga.
Baginya, kebingungan adalah alarm kebakaran intelektual: tanda bahwa ada bagian
otak yang belum berfungsi sebagaimana mestinya.
Puncak argumen tulisan ini adalah metakognisi—kemampuan
berpikir tentang cara kita berpikir. Feynman bukan sekadar fisikawan, ia adalah
pengawas internal otaknya sendiri. Saat kebanyakan orang sibuk memamerkan
jawaban, Feynman sibuk bertanya, “Aku tahu ini… atau cuma merasa tahu?” Sebuah
pertanyaan sederhana yang bisa mengguncang ego siapa pun.
Akhirnya, tulisan ini bukan sekadar tentang Feynman,
melainkan tentang pembebasan kolektif. Ia mengatakan bahwa jenius bukan status
eksklusif, melainkan kebiasaan. Bukan bakat langit, tapi disiplin membumi.
Kejeniusan sejati tidak terletak pada kecepatan bicara atau kemewahan istilah,
melainkan pada keberanian berkata, “Saya belum paham—ayo kita bongkar.”
Maka warisan terbesar Feynman mungkin bukan diagram atau
persamaan, melainkan satu pesan demokratis: otak manusia tidak perlu disembah,
cukup dilatih. Dan langkah pertama menuju kecerdasan luar biasa ternyata sangat
sederhana—berhenti berpura-pura paham.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.