Kamis, 29 Januari 2026

Dunia dalam Dekapan Kucing: Ketika Manusia Diperbudak dengan Sukarela

Ada dua jenis manusia di dunia ini: yang mengaku memelihara kucing, dan yang sudah jujur mengakui bahwa merekalah yang dipelihara kucing. Anny Duperey tampaknya termasuk golongan kedua—golongan tercerahkan—yang sadar bahwa kucing bukan sekadar hewan berbulu lucu, melainkan makhluk filsuf berkumis yang hidupnya jauh lebih tertata secara batin daripada pemiliknya.

Mari kita bahas perlahan, sambil pura-pura tidak terganggu oleh kucing yang duduk di atas keyboard, karena tentu saja dia merasa rapat Zoom Anda kurang penting dibanding ekornya.

Kucing dan Keinginan Akan Kedamaian (Alias: Kabur dari Drama)

Kata Duperey, pecinta kucing adalah pencari ketenangan. Masuk akal. Di dunia yang penuh notifikasi, deadline, dan grup WhatsApp keluarga yang tak pernah tidur, kucing hadir sebagai makhluk yang hidup dengan prinsip: kalau tidak penting, tidur saja.

Lihatlah kucing rebahan di sudut ruangan. Dunia mungkin sedang krisis ekonomi, politik memanas, dan Anda belum bayar listrik, tapi dia tetap tidur dengan pose seperti lukisan Renaissance. Damai. Penuh keyakinan. Seolah berkata,
“Masalahmu bukan masalahku. Tapi terima kasih sudah menyediakan bantal berbentuk sofa.”

Pecinta kucing mengagumi ini. Mereka melihat kucing sebagai guru spiritual level dewa:

  • Meditasi? Tidur 14 jam.

  • Mindfulness? Fokus penuh pada suara bungkus makanan.

  • Detoks sosial? Menghilang tanpa penjelasan.

Dan anehnya, kita tidak tersinggung. Kalau manusia yang mengabaikan kita begitu, sudah jadi status galau. Tapi kalau kucing? Kita malah bilang, “Ih gemas banget, dia lagi butuh me time.”

Kemandirian Kucing dan Ilusi Hubungan Setara

Kucing juga terkenal independen. Dia datang kalau mau, pergi kalau bosan, dan memandang Anda dengan tatapan yang berkata, “Aku menghargai keberadaanmu… sebagai staf logistik.”

Pecinta kucing menyebut ini hubungan yang sehat dan dewasa. Tidak posesif. Saling menghargai ruang. Tidak saling mengekang.

Padahal kalau diterjemahkan jujur, hubungan ini mirip:

  • Anda: selalu siap, penuh perhatian, menunggu pesan.

  • Kucing: seen doang.

Tapi kita tetap bangga. “Kucingku tuh nggak manja.”
Iya, benar. Dia bukan manja. Dia bangsawan. Anda rakyat jelata yang kebetulan boleh tinggal di wilayah kekuasaannya.

Namun justru di situlah letak romantismenya. Pecinta kucing diam-diam lelah dengan hubungan yang ribet, penuh tuntutan, dan drama “kamu berubah ya”. Kucing tidak pernah bilang begitu. Dia hanya menatap Anda datar, lalu muntah di karpet sebagai bentuk ekspresi emosional. Jujur. Autentik. Tanpa pasif-agresif.

Sisi Kekanak-kanakan yang Diselamatkan oleh Kumis

Nah, bagian paling manis dari pengamatan Duperey: pecinta kucing itu diam-diam tidak mau tumbuh besar sepenuhnya.

Buktinya jelas. Orang dewasa waras tidak akan:

  • Mengajak ngobrol makhluk yang jawabannya selalu “meong”

  • Memuji pup dengan nada bangga

  • Mengambil 47 foto pose tidur yang sama

Tapi pecinta kucing melakukannya dengan bahagia.

Saat melihat kucing mengejar titik cahaya laser, sesuatu dalam diri kita ikut lompat-lompat. Ada bagian jiwa kecil yang bersorak, “Iya! Kejar! Itu musuh bebuyutanmu!” Padahal itu cuma refleksi sendok.

Kucing memberi kita izin untuk tetap kagum pada hal remeh:

  • Bayangan di dinding

  • Kardus kosong (lebih menarik dari mainan mahal)

  • Sinar matahari di lantai yang mendadak jadi tempat suci untuk rebahan

Di tengah hidup orang dewasa yang isinya cicilan dan kolesterol, kucing adalah portal ke dunia di mana kebahagiaan bisa datang dari kotak bekas sepatu.

Jadi Siapa Sebenarnya yang Diselamatkan?

Kita sering merasa sedang merawat kucing: memberi makan, membersihkan litter box, mengantar ke dokter hewan sambil panik seperti orang tua baru.

Tapi mungkin, seperti kata Duperey secara halus, kucinglah yang merawat bagian terdalam diri kita:

  • Bagian yang lelah dan butuh sunyi

  • Bagian yang ingin bebas tanpa selalu menjelaskan diri

  • Bagian kecil dalam diri yang masih bisa tertawa melihat ekor sendiri

Jadi ketika seseorang duduk diam membelai kucing di sore hari yang tenang, itu bukan cuma momen lucu penuh bulu beterbangan. Itu adalah terapi eksistensial murah meriah—dibayar dengan tuna kaleng dan harga diri yang perlahan hancur setiap kali dipanggil hanya saat jam makan.

Dan anehnya… kita bahagia.

Karena di dunia yang sering terasa terlalu keras, dipilih—meski cuma sebagai pembuka kaleng makanan—oleh seekor kucing yang anggun dan sok acuh, rasanya seperti kehormatan spiritual tingkat tinggi.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.