Selasa, 27 Januari 2026

Jangan Sampai Amal Jadi Bodyguard yang Menghalangi Kita Masuk ke Hadirat Allah

Ada ironi dalam dunia spiritual yang jarang dibahas secara terbuka: kita sudah rajin ibadah, wirid tidak putus, tasbih sudah licin seperti batu kali… eh ternyata hati malah parkirnya jauh dari Allah.

Ibarat mau ketemu Raja, kita sudah datang pakai baju terbaik, wangi, sopan, tapi sibuk selfie di gerbang istana. Rajanya belum ditemui, tapi kita sudah update status: “Alhamdulillah, perjalanan spiritual luar biasa hari ini.”

Begitulah kira-kira pesan dari kajian tentang iradah (kehendak hati menuju Allah): jangan sampai amal malah jadi jarak.

Masalahnya Bukan Kurang Amal, Tapi Salah Arah GPS Hati

Banyak orang mengira problem spiritual itu karena kurang ibadah. Padahal seringnya bukan kurang… tapi kebanyakan “aku” di dalamnya.

Shalatnya khusyuk — tapi bangga.
Sedekahnya rutin — tapi berharap dilihat.
Zikirnya ribuan — tapi diam-diam merasa levelnya sudah naik kelas dari manusia biasa.

Secara lahir, kita bergerak ke arah Allah.
Secara batin, kita muter-muter di sekitar diri sendiri.

Ini seperti naik treadmill rohani: capek iya, keringat iya, tapi tetap di tempat.

Ilmu: Biar Ibadah Tidak Seperti Orang Belanja Tanpa Daftar

Pilar pertama iradah yang benar adalah ilmu. Bukan sekadar tahu dalil, tapi tahu siapa yang sedang kita tuju.

Tanpa ilmu, ibadah bisa berubah jadi kegiatan “self-healing religius”. Allah cuma jadi latar belakang, sementara tujuan utamanya: ketenangan batin pribadi™.

Kita zikir bukan karena rindu Allah, tapi karena stres kerja.
Kita tahajud bukan karena cinta, tapi karena overthinking.

Allah Maha Pengasih, tentu boleh kita datang dalam keadaan lemah. Tapi kalau Allah cuma dijadikan obat penenang jiwa, bukan tujuan cinta… itu seperti datang ke rumah orang cuma buat pakai WiFi-nya.

Cinta: Jangan Sampai yang Dicari Rasa, Bukan Yang Punya Rasa

Ini yang lebih halus jebakannya.

Orang bisa rajin ibadah karena cinta… tapi cinta pada perasaan setelah ibadah, bukan pada Allah.

Suka sensasi damainya.
Suka rasa harunya.
Suka pengalaman “spiritual vibes”-nya.

Begitu ibadah terasa kering? Langsung drop.
Begitu doa belum dikabulkan? Mulai manyun ke langit.

Cinta sejati itu tetap tinggal walau rasa manisnya dicabut.
Kalau cintanya asli, bahkan saat Allah “diam”, hati tetap berkata:
“Ya sudah, yang penting Engkau, bukan rasanya.”

Khalwah & Wirid: Bisa Jadi Tangga… Bisa Juga Jadi Panggung

Menyepi (khalwah) itu bagus. Zikir terus-menerus (dawam) itu indah.
Tapi… ego juga bisa ikut i’tikaf diam-diam.

Awalnya zikir biar dekat Allah.
Lama-lama zikir biar merasa spesial.

Awalnya menyepi biar hati bersih.
Lama-lama menyepi biar bisa bilang, “Saya lagi fase uzlah.”

Setan itu tidak selalu menyuruh kita maksiat.
Kadang dia cuma berbisik:
“Wah, hebat ya kamu sudah sejauh ini.”

Dan tamatlah keikhlasan.

Bahaya Paling Ngeri: Rajin Ibadah, Tapi Tidak Dipandang Allah

Ini bagian yang bikin merinding.

Bisa jadi seseorang rajin ibadah, ilmunya luas, omongannya lembut… tapi dalam “daftar perhatian Ilahi”, namanya tidak masuk prioritas.

Bukan karena amalnya salah.
Tapi karena hatinya lebih sibuk memandang dirinya sendiri.

Allah tidak melihat banyaknya gerakan kita, tapi arah hati kita.
Kalau hati sujud ke Allah, sedikit amal jadi bercahaya.
Kalau hati sujud ke ego, segunung amal bisa jadi… dekorasi rohani.

Jadi Harus Gimana Dong?

Santai. Islam bukan lomba jadi malaikat tercepat.

Yang penting bukan terlihat paling rajin, tapi paling jujur hatinya.

Coba sesekali tanya dalam doa:
“Ya Allah, ini aku beribadah karena Engkau… atau karena aku suka merasa jadi orang baik?”

Kalau jawabannya bikin tidak nyaman, itu bukan kegagalan.
Itu justru tanda Allah masih mengajak ngobrol.

Karena tujuan akhir perjalanan ini bukan jadi ahli zikir, bukan kolektor maqam, bukan pemburu karamah.

Tujuannya cuma satu: Allah.

Amal itu kendaraan.
Ilmu itu peta.
Cinta itu bensin.

Tapi kalau kita malah sibuk mengelap mobil, memamerkan peta, dan memuji kualitas bensin… ya wajar saja kalau tidak pernah sampai.

Intinya:
Jangan sampai amal jadi bodyguard yang gagah… tapi malah menghalangi kita masuk menemui Allah.

Wallahu a’lam — dan semoga kita dijauhkan dari drama rohani yang terlalu fokus pada peran figuran bernama “aku”.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.