Ada ironi dalam dunia spiritual yang jarang dibahas secara terbuka: kita sudah rajin ibadah, wirid tidak putus, tasbih sudah licin seperti batu kali… eh ternyata hati malah parkirnya jauh dari Allah.
Ibarat mau ketemu Raja, kita sudah datang pakai baju terbaik, wangi, sopan, tapi sibuk selfie di gerbang istana. Rajanya belum ditemui, tapi kita sudah update status: “Alhamdulillah, perjalanan spiritual luar biasa hari ini.”
Begitulah kira-kira pesan dari kajian tentang iradah (kehendak hati menuju Allah): jangan sampai amal malah jadi jarak.
Masalahnya Bukan Kurang Amal, Tapi Salah Arah GPS Hati
Banyak orang mengira problem spiritual itu karena kurang ibadah. Padahal seringnya bukan kurang… tapi kebanyakan “aku” di dalamnya.
Ini seperti naik treadmill rohani: capek iya, keringat iya, tapi tetap di tempat.
Ilmu: Biar Ibadah Tidak Seperti Orang Belanja Tanpa Daftar
Pilar pertama iradah yang benar adalah ilmu. Bukan sekadar tahu dalil, tapi tahu siapa yang sedang kita tuju.
Tanpa ilmu, ibadah bisa berubah jadi kegiatan “self-healing religius”. Allah cuma jadi latar belakang, sementara tujuan utamanya: ketenangan batin pribadi™.
Allah Maha Pengasih, tentu boleh kita datang dalam keadaan lemah. Tapi kalau Allah cuma dijadikan obat penenang jiwa, bukan tujuan cinta… itu seperti datang ke rumah orang cuma buat pakai WiFi-nya.
Cinta: Jangan Sampai yang Dicari Rasa, Bukan Yang Punya Rasa
Ini yang lebih halus jebakannya.
Orang bisa rajin ibadah karena cinta… tapi cinta pada perasaan setelah ibadah, bukan pada Allah.
Khalwah & Wirid: Bisa Jadi Tangga… Bisa Juga Jadi Panggung
Dan tamatlah keikhlasan.
Bahaya Paling Ngeri: Rajin Ibadah, Tapi Tidak Dipandang Allah
Ini bagian yang bikin merinding.
Bisa jadi seseorang rajin ibadah, ilmunya luas, omongannya lembut… tapi dalam “daftar perhatian Ilahi”, namanya tidak masuk prioritas.
Jadi Harus Gimana Dong?
Santai. Islam bukan lomba jadi malaikat tercepat.
Yang penting bukan terlihat paling rajin, tapi paling jujur hatinya.
Karena tujuan akhir perjalanan ini bukan jadi ahli zikir, bukan kolektor maqam, bukan pemburu karamah.
Tujuannya cuma satu: Allah.
Tapi kalau kita malah sibuk mengelap mobil, memamerkan peta, dan memuji kualitas bensin… ya wajar saja kalau tidak pernah sampai.
Wallahu a’lam — dan semoga kita dijauhkan dari drama rohani yang terlalu fokus pada peran figuran bernama “aku”.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.