Jumat, 23 Januari 2026

Bertahan Waras di Akhir Zaman: Antara Fitnah, WiFi, dan Kopi Hangat

Kita hidup di zaman yang ajaib. Dulu orang cari kebenaran harus naik gunung, masuk gua, atau minimal buka kitab tebal. Sekarang? Cukup buka grup WhatsApp keluarga. Dalam lima menit, kita bisa tahu bahwa:

  • Bumi datar,
  • Minum air es bikin jodoh menjauh,
  • Dan tetangga sebelah ternyata agen rahasia karena sering keluar malam beli cilok.

Selamat datang di era lautan fitnah, di mana hoaks lebih cepat dari cahaya, dan klarifikasi selalu datang… tiga hari terlambat.

Zaman Gelap, Tapi Layar Terang

Katanya ini zaman penuh kegelapan. Benar. Tapi anehnya, wajah kita tetap terang—karena sinar layar HP jam 2 pagi. Dulu orang takut Dajjal, sekarang yang lebih ditakuti itu:
“Terakhir dilihat 2 menit lalu tapi belum balas chat.”

Fitnah hari ini bukan cuma gosip ibu-ibu kompleks. Ia sudah naik level:

  • Dipakai buat menjatuhkan orang,
  • Dijadikan konten,
  • Bahkan bisa dimonetisasi.
    MasyaAllah, dosa sekarang ada fitur ads revenue-nya.

Orang jadi gampang marah, gampang percaya, tapi susah banget bilang,
“Eh, bentar… ini bener nggak sih?”

Hidup rasanya kayak berdiri di atas sabun colek yang lagi diinjak kambing: licin, goyah, dan penuh teriakan orang yang merasa paling benar.

Pegangan di Zaman Penuh Scroll

Dalam kondisi begini, nasihatnya sederhana tapi menampar pelan:
Cari orang yang jernih hatinya, bukan yang paling kencang suaranya.

Karena di zaman ini:

  • Yang bijak sering kalah viral,
  • Yang tenang kalah sama yang sensasional,
  • Yang benar sering kalah sama yang editannya bagus.

Maka disarankan untuk tidak ikut arus. Bukan berarti kabur ke gunung bawa termos, tapi belajar hidup agak minggir dari keributan.

Versi sederhananya:

Ngopi secukupnya.
Makan secukupnya.
Tidur secukupnya.
Zikir sebanyak-banyaknya.

Ini bukan gaya hidup rebahan religius, tapi strategi bertahan waras. Karena kadang menyelamatkan iman itu bukan dengan debat panjang, tapi dengan tidak ikut komentar.

Ingat: tidak semua status butuh pendapatmu. Kadang yang paling berpahala itu… scroll lalu istighfar.

Kebebasan Memilih… Termasuk Memilih Tidak Ikut Ribut

Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya. Mau ikut panas-panasan debat? Silakan. Mau jadi komentator segala isu? Monggo. Tapi ingat, setiap pilihan ada konsekuensinya.

Prestasi sejati di akhir zaman ini bukan:

  • Punya follower sejuta,
  • Paling cepat share berita,
  • Atau paling pedas bikin thread.

Prestasi sejati itu kalau hati tetap adem meski timeline panas.
Bisa tidur nyenyak tanpa kepikiran balas komentar orang yang fotonya pakai anime tapi bio-nya “pengamat peradaban”.

Kritik Sosial Rasa Zikir

Kalau dipikir-pikir, nasihat “menepi, sederhana, jaga hati” ini bukan cuma religius, tapi juga sindiran halus buat dunia modern.

Kita ini:

  • Kebanyakan informasi,
  • Kekurangan kebijaksanaan,
  • Kebanyakan opini,
  • Kekurangan refleksi.

Kita hafal teori konspirasi global, tapi lupa muhasabah lokal—yakni ke dalam diri sendiri.

Padahal mungkin masalah terbesar umat hari ini bukan kurang update, tapi kurang wudhu sebelum update status.

Jangan Kalah Sama Notifikasi

Di tengah dunia yang berisik, justru yang menyelamatkan itu keheningan.
Di tengah banjir opini, justru yang menenangkan itu zikir.
Di tengah fitnah yang ke mana-mana, justru yang menjaga kita… ya kita sendiri, kalau mau jaga hati.

Akhir zaman mungkin penuh kekacauan. Tapi setidaknya, kita masih bisa memilih:
mau jadi bensin yang bikin api makin besar,
atau jadi air wudhu yang bikin hati lebih dingin.

Kalau dunia makin ribut, mungkin itu tanda kita perlu lebih sering:
menutup aplikasi, membuka sajadah.

Dan percaya deh — iman itu seringkali lebih selamat bukan karena kita paling tahu segalanya, tapi karena kita tahu kapan harus bilang:
“Sudah ah… aku ngopi sambil zikir saja.” ☕✨
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.