Kita hidup di zaman yang ajaib. Dulu orang cari kebenaran harus naik gunung, masuk gua, atau minimal buka kitab tebal. Sekarang? Cukup buka grup WhatsApp keluarga. Dalam lima menit, kita bisa tahu bahwa:
- Bumi
datar,
- Minum
air es bikin jodoh menjauh,
- Dan
tetangga sebelah ternyata agen rahasia karena sering keluar malam beli
cilok.
Selamat datang di era lautan fitnah, di mana hoaks lebih cepat dari cahaya, dan klarifikasi selalu datang… tiga hari terlambat.
Zaman Gelap, Tapi Layar Terang
Fitnah hari ini bukan cuma gosip ibu-ibu kompleks. Ia sudah
naik level:
- Dipakai
buat menjatuhkan orang,
- Dijadikan
konten,
- Bahkan bisa dimonetisasi.MasyaAllah, dosa sekarang ada fitur ads revenue-nya.
Hidup rasanya kayak berdiri di atas sabun colek yang lagi diinjak kambing: licin, goyah, dan penuh teriakan orang yang merasa paling benar.
Pegangan di Zaman Penuh Scroll
Karena di zaman ini:
- Yang
bijak sering kalah viral,
- Yang
tenang kalah sama yang sensasional,
- Yang
benar sering kalah sama yang editannya bagus.
Maka disarankan untuk tidak ikut arus. Bukan berarti kabur
ke gunung bawa termos, tapi belajar hidup agak minggir dari keributan.
Versi sederhananya:
Ini bukan gaya hidup rebahan religius, tapi strategi
bertahan waras. Karena kadang menyelamatkan iman itu bukan dengan debat
panjang, tapi dengan tidak ikut komentar.
Ingat: tidak semua status butuh pendapatmu. Kadang yang paling berpahala itu… scroll lalu istighfar.
Kebebasan Memilih… Termasuk Memilih Tidak Ikut Ribut
Setiap orang bebas memilih jalan hidupnya. Mau ikut
panas-panasan debat? Silakan. Mau jadi komentator segala isu? Monggo. Tapi
ingat, setiap pilihan ada konsekuensinya.
Prestasi sejati di akhir zaman ini bukan:
- Punya
follower sejuta,
- Paling
cepat share berita,
- Atau
paling pedas bikin thread.
Kritik Sosial Rasa Zikir
Kalau dipikir-pikir, nasihat “menepi, sederhana, jaga hati”
ini bukan cuma religius, tapi juga sindiran halus buat dunia modern.
Kita ini:
- Kebanyakan
informasi,
- Kekurangan
kebijaksanaan,
- Kebanyakan
opini,
- Kekurangan
refleksi.
Kita hafal teori konspirasi global, tapi lupa muhasabah
lokal—yakni ke dalam diri sendiri.
Padahal mungkin masalah terbesar umat hari ini bukan kurang update, tapi kurang wudhu sebelum update status.
Jangan Kalah Sama Notifikasi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.