Minggu, 18 Januari 2026

Revitalisasi KKG: Ketika Guru Tidak Lagi Sekadar Absen, Tapi Agen Perubahan

Selama bertahun-tahun, Kelompok Kerja Guru (KKG) kerap dipersepsikan sebagai makhluk mitologis dalam dunia pendidikan: namanya sering disebut, rapatnya rutin dijadwalkan, tetapi manfaatnya kadang hanya terasa pada konsumsi dan daftar hadir. Di banyak tempat, KKG lebih mirip “arisan ilmiah”—datang, duduk, tanda tangan, pulang dengan sertifikat. Namun Januari 2026 di Kabupaten Tanggamus, Lampung, sejarah kecil mencoba ditulis ulang. LP Ma’arif PBNU bersama Save the Children melakukan sesuatu yang cukup berani: menyuntikkan nyawa baru ke tubuh KKG yang lama terbaring lelah.

Program revitalisasi ini bukan sekadar refreshing ala seminar hotel—bukan pula pelatihan yang membuat guru pulang dengan modul tebal tapi hati tipis. Ia hadir membawa misi besar: menjadikan KKG sebagai jantung perubahan, dan guru sebagai agen transformasi—akademik, sosial, bahkan ekologis. Singkatnya, guru tidak lagi sekadar pengajar materi, tetapi influencer peradaban (tanpa perlu endorse).

Sebanyak 40 guru dilatih dalam satu paket komplit: literasi, numerasi, perlindungan anak, GEDSI (Gender, Equality, Disability, Social Inclusion), hingga mitigasi perubahan iklim berbasis ekoteologi. Ini semacam paket hemat guru abad 21: dari menghitung pecahan hingga menjaga perasaan, dari membaca teks hingga membaca tanda-tanda alam. Kalau biasanya guru hanya dituntut “menghabiskan kurikulum”, kini mereka diajak “memahami kehidupan”.

Yang menarik, KKG tidak lagi diposisikan sebagai ruang administratif—tempat laporan dibacakan dengan nada datar—melainkan sebagai komunitas belajar yang hidup. Di sini, Merdeka Belajar tidak berhenti sebagai jargon di spanduk, tapi menjelma praktik: guru belajar dari guru, berdiskusi, bahkan (semoga) berbeda pendapat tanpa saling menyindir di grup WhatsApp.

Ekoteologi: Ketika Perubahan Iklim Bertemu Dalil

Inovasi paling mencolok dari program ini adalah masuknya ekoteologi dalam materi perubahan iklim. Biasanya, isu lingkungan diajarkan lewat grafik suhu, es mencair, dan beruang kutub yang terlihat semakin kurus. Kali ini, alam didekati lewat jalur yang lebih akrab bagi masyarakat religius: amanah Ilahi.

Pendekatan ini membuat lingkungan tidak lagi sekadar “objek IPA”, tetapi subjek moral. Menebang pohon bukan hanya soal erosi, tapi juga soal dosa ekologis. Membuang sampah sembarangan bukan cuma melanggar tata tertib sekolah, tapi juga mencederai titipan Tuhan. Dengan cara ini, menjaga bumi bukan sekadar tugas aktivis, melainkan bagian dari ibadah—dan ini jauh lebih ampuh daripada sekadar slogan “Go Green” yang dicetak di spanduk plastik.

Bagi guru dan siswa, ekoteologi memberi makna baru: bahwa iman dan ekosistem ternyata satu paket, bukan dua mata pelajaran terpisah. Alam pun naik pangkat—dari latar belakang foto study tour menjadi partner spiritual.

GEDSI dan Perlindungan Anak: Guru sebagai Penjaga, Bukan Penonton

Dimensi sosial program ini juga tak kalah serius. GEDSI dan perlindungan anak dimasukkan bukan karena tren, melainkan karena realitas. Sekolah, idealnya ruang aman, kadang justru menjadi tempat lahirnya diskriminasi halus dan kekerasan yang “tak disengaja”. Candaan yang merendahkan, hukuman yang melukai harga diri, atau pengabaian terhadap anak berkebutuhan khusus sering terjadi dengan dalih “sudah biasa”.

Melalui KKG yang direvitalisasi, guru diajak bercermin: bukan hanya mengoreksi jawaban siswa, tapi juga sikap sendiri. Guru tidak lagi cukup pintar menjelaskan materi, tapi juga dituntut peka, adil, dan empatik. Singkatnya, guru bukan hanya subject teacher, tapi juga human teacher.

Tantangan Klasik: Waktu, Energi, dan Administrasi

Tentu saja, tidak ada program ideal tanpa ujian. Tantangan terbesar revitalisasi KKG adalah keberlanjutan. Guru di Indonesia dikenal sebagai makhluk multitalenta: mengajar, mengisi raport, mengurus administrasi, mengikuti pelatihan, dan—kalau sempat—istirahat. Pertanyaannya sederhana tapi krusial: apakah guru masih punya waktu dan energi untuk menghidupkan KKG secara konsisten?

Belum lagi soal dukungan kebijakan dan anggaran. Tanpa sokongan pemerintah daerah dan kolaborasi multipihak, KKG berisiko kembali menjadi forum nostalgia—ramai di awal, sepi di tengah, lalu tinggal kenangan. Karena itu, program ini menuntut kerja bersama: LSM, ormas, pemerintah, dan komunitas pendidikan harus duduk satu meja, bukan saling lempar tanggung jawab.

Guru Baru untuk Zaman Baru

Jika berhasil dijaga nyalanya, revitalisasi KKG di Tanggamus berpotensi melahirkan tipe guru baru: guru yang piawai literasi-numerasi, sadar perlindungan anak, sensitif pada isu kesetaraan, dan ramah lingkungan berbasis nilai spiritual. Guru semacam ini bukan hanya pengajar, tapi penuntun—yang membekali murid dengan ilmu, empati, dan kompas moral.

Inilah agen perubahan sejati: bekerja sunyi di ruang kelas, tetapi dampaknya panjang ke masa depan.

Dari Absen ke Arah Perubahan

Revitalisasi KKG ini mengingatkan kita pada satu hal penting: transformasi pendidikan tidak lahir dari kurikulum megah semata, tetapi dari guru yang terus belajar dalam komunitas yang hidup. KKG yang dulunya identik dengan absen dan konsumsi, kini ditantang menjadi ruang gagasan dan gerakan.

Tantangan memang banyak, tetapi harapan juga nyata. Jika komitmen kolektif terjaga, model Tanggamus bisa menjadi inspirasi nasional—bahwa pendidikan yang manusiawi, adil, dan berkelanjutan itu mungkin, asal gurunya tidak dibiarkan berjalan sendirian.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, KKG tidak lagi ditanya, “Ada snack-nya apa?”, melainkan, “Gagasan barunya apa?” 😊

Sumber: https://lampung.nu.or.id/warta/program-kreasi-lp-ma-arif-pbnu-perkuat-kkg-guru-di-tanggamus-berbasis-literasi-dan-ekoteologi-71aO0

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.