Jumat, 16 Januari 2026

Screwtape Menghadiri Rapat Orang Tua Murid

Bayangkan setan senior Screwtape—penghasut veteran dari dunia bawah—tidak lagi menulis surat panjang untuk keponakannya, Wormwood. Dunia sudah terlalu efisien untuk surat-menyurat. Kini, ia mendapat penugasan baru yang jauh lebih strategis: menjadi pembicara tamu di rapat komite orang tua murid sebuah sekolah modern.

Ia datang mengenakan jas tweed, kacamata bulat, dan senyum akademis khas profesor Oxford yang salah naik portal dimensi.

“Saudara-saudara sekalian,” katanya sambil menyeruput teh hangat yang kadar gulanya jelas tidak sehat, “izinkan saya mengucapkan selamat. Prestasi Anda luar biasa. Visi infernal kami—eh, maksud saya, visi kemajuan pendidikan Anda—telah melampaui target Neraka… maksud saya, target nasional.”

Lampu diredupkan. Slide pertama PowerPoint muncul:

“MERAYAKAN MEDIOKRITAS: Panduan Menuju Surga bagi yang Paling Pemalas.”

Tepuk tangan terdengar.

Standar: Dulu Digoda, Sekarang Diturunkan

“Poin pertama: standar pendidikan,” ujar Screwtape dengan mata berbinar.
“Dulu kami di Neraka harus bekerja keras membujuk anak-anak untuk mencontek, malas belajar, dan membenci disiplin. Sekarang? Tidak perlu! Anda semua telah menemukan solusi jauh lebih elegan: turunkan saja standarnya.

Ia menampilkan contoh soal ujian akhir matematika:

Berapa jumlah jari Anda?
A) Lima
B) Cukup
C) Tidak relevan
D) Saya tersinggung dengan pertanyaan ini

“Hasilnya fantastis,” lanjutnya.
“Tidak ada murid gagal. Semua lulus. Semua juara. Semua punya ‘potensi’. Kebanggaan kosong tumbuh subur tanpa perlu godaan setan kelas menengah.”

Seorang ayah mengangguk puas.
“Akhirnya sekolah memahami keunikan anak saya.”

Trauma: Senjata Massal Paling Efektif

“Poin kedua,” kata Screwtape sambil berpindah slide, “trauma.”

Ia menghela napas penuh kekaguman.
“Konsep yang jenius. Dulu, guru memberi tugas sulit, lalu kami harus membisikkan: ‘Kamu bodoh, menyerahlah.’ Sekarang? Cukup beri label: ‘berpotensi traumatis.’

Menyuruh membaca buku tebal? Trauma.
Nilai merah? Trauma akut.
Kompetisi akademik? Kekerasan struktural.

“Dengan satu kata sakti, semua tantangan bisa dihapus. Hasilnya adalah generasi yang rapuh—seperti adonan kue yang belum dipanggang. Lembek, manis, dan sangat mudah dibentuk.”

Seorang ibu terisak haru sambil memeluk boneka emotional support owl.

Sekolah: Dari Temple of Learning ke Daycare Mewah

“Dan terakhir,” ujar Screwtape, “fungsi sekolah.”

Slide menampilkan ruang kelas penuh bantal empuk, bean bag, dan poster You Are Enough.

“Kenapa repot-repot jadi temple of learning? Jadikan saja daycare mewah. Fokus pada feeling, bukan thinking. Yang penting anak feel good, bukan be good—apalagi be great.”

Ia tersenyum tipis.
“Negara akan mengurus segalanya. Tidak perlu kelas menengah yang kritis dan mandiri itu. Mereka suka bertanya, menuntut standar, dan—yang paling mengganggu—berpikir sendiri.”

Tidak Perlu Memotong Bunga, Cukup Ratakan Tanah

Sebagai penutup, Screwtape berkata dengan nada bijak:

“Manusia dulu punya istilah tall poppy syndrome—memotong yang menonjol. Kini Anda tidak perlu repot. Cukup turunkan permukaan tanahnya.

“Tidak ada yang menonjol. Semua sama tinggi. Pendek. Nyaman. Dan—ini favorit kami—sangat mudah dikelola.”

Rapat ditutup dengan standing ovation.

Di parkiran, Screwtape mengirim pesan singkat ke atasannya di Neraka:

Laporan: Misi Mediokritas Global berjalan sukses.
Manusia melakukannya sendiri.
Kami hanya duduk manis dan sesekali bertepuk tangan.
Rekomendasi: Perbanyak trigger warning dan stiker “Partisipasi adalah Juara”.

Ia menghilang dalam kepulan asap, meninggalkan bau belerang samar—yang oleh para orang tua disangka sebagai aroma hand sanitizer edisi terbaru.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.