Di dunia politik Indonesia, ada satu kearifan lokal yang jarang diajarkan di bangku kuliah ilmu politik: jangan menunggu panggung berdiri untuk mulai rebutan kursi. PKB tampaknya memahami betul falsafah ini. Maka jauh sebelum tahun 2026 tiba, mereka sudah sibuk mengeluarkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan wilayah periode 2026–2031. Sebuah langkah yang, bagi orang awam, tampak seperti terlalu rajin, tetapi bagi politisi, ini adalah tanda kewarasan yang patut dirayakan.
Pengumuman DPP PKB soal sosialisasi SK ini sejatinya bukan
sekadar urusan stempel, map cokelat, dan foto bersama sambil mengacungkan
jempol. Ini adalah deklarasi halus bahwa PKB ingin memastikan: tidak ada kader
yang tersesat, tidak ada kepengurusan yang merasa “katanya saya ketua”.
Lapisan Pertama: Administrasi, Sang Pahlawan yang Sering
Diremehkan
Pada tingkat paling dasar, sosialisasi SK ini adalah
pengingat bahwa politik modern tidak bisa hanya mengandalkan kharisma dan
spanduk. Harus ada dokumen resmi. Harus ada legalitas. Harus jelas siapa ketua,
siapa sekretaris, dan siapa yang cuma rajin hadir tapi tidak tercantum di SK.
Ini menandakan PKB adalah partai yang percaya bahwa
stabilitas dimulai dari kertas yang sah—bukan dari bisik-bisik grup WhatsApp.
AD/ART dihormati, struktur ditegakkan, dan konflik internal dicegah sebelum
sempat viral.
Lapisan Kedua: Menyamakan Frekuensi, Biar Tidak Salah
Channel
Setelah urusan administrasi beres, masuklah ke tahap
berikutnya: penyelarasan visi dan program. Ini penting, karena tanpa
koordinasi, bisa saja DPP bicara soal strategi nasional sementara DPC masih
sibuk memperdebatkan warna spanduk.
Sosialisasi program kerja ini ibarat menyamakan channel TV.
Supaya pusat dan daerah tidak sedang menonton acara yang berbeda—yang satu
debat politik, yang lain sinetron konflik internal. PKB tampaknya ingin
memastikan bahwa semua kader, dari Jakarta sampai pelosok, sedang menonton
acara yang sama: “Menuju 2026 dengan tertib dan kompak.”
Lapisan Ketiga: Akpolbang, Sekolah Politik Biar Tidak Asal
Bicara
Bagian paling menarik tentu saja rencana Akpolbang. Ini
semacam pesan tersirat: menjadi elite PKB tidak cukup hanya pandai pidato dan
hafal jargon. Perlu kapasitas, nalar, dan—ini penting—integritas.
Dengan Akpolbang, PKB seolah berkata, “Kami tidak hanya
mencetak kader yang tahan debat, tapi juga tahan godaan.” Sebuah harapan yang
ambisius, tetapi patut diapresiasi di tengah politik yang sering lebih cepat
mencetak baliho daripada pemikiran.
Langkah Jauh Hari: Antisipasi atau Parno (paranoid) yang Sehat?
Melakukan konsolidasi jauh sebelum masa kepengurusan dimulai
bisa dibaca sebagai dua hal: perencanaan jangka panjang atau trauma masa lalu.
Namun dalam politik, trauma sering kali melahirkan kebijakan yang lebih rapi.
Dengan langkah ini, PKB ingin masuk ke periode 2024–2029
tanpa drama internal. Tidak ada gugatan SK, tidak ada dualisme, tidak ada
konferensi pers dadakan yang isinya saling klaim. Fokus pada politik eksternal,
bukan ribut internal.
Gus Halim dan Pesan yang Tidak Perlu Terlalu Keras
Kehadiran Gus Halim Iskandar sebagai penyampai pesan juga
memberi kesan bahwa komando tetap satu arah, meski disampaikan dengan bahasa
sosialisasi, bukan instruksi militer. Disiplin dijaga, tetapi tetap dibungkus
partisipasi.
Dan tentu saja, penyebaran informasi lewat media digital
menandakan PKB sudah sadar bahwa zaman selebaran fotokopian sudah berlalu.
Sekarang, legitimasi juga dibangun lewat timeline.
Politik Itu Pentas, dan PKB Sedang Menata Lampu
Pada akhirnya, pengumuman ini bukan cuma laporan kegiatan
organisasi. Ia adalah gladi resik politik. PKB sedang memastikan panggungnya
kokoh, lampunya menyala, dan para pemain tahu peran masing-masing sebelum tirai
dibuka.
Karena dalam politik, sering kali yang kalah bukan yang
kurang ide, melainkan yang panggungnya roboh sebelum pertunjukan dimulai. Dan
PKB, tampaknya, memilih untuk menata panggung lebih awal—sebelum penonton
datang dan sebelum kursi habis diperebutkan.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.