Selasa, 27 Januari 2026

PKB dan Seni Menyusun Kursi Sebelum Panggung Politik Dibuka

Di dunia politik Indonesia, ada satu kearifan lokal yang jarang diajarkan di bangku kuliah ilmu politik: jangan menunggu panggung berdiri untuk mulai rebutan kursi. PKB tampaknya memahami betul falsafah ini. Maka jauh sebelum tahun 2026 tiba, mereka sudah sibuk mengeluarkan Surat Keputusan (SK) kepengurusan wilayah periode 2026–2031. Sebuah langkah yang, bagi orang awam, tampak seperti terlalu rajin, tetapi bagi politisi, ini adalah tanda kewarasan yang patut dirayakan.

Pengumuman DPP PKB soal sosialisasi SK ini sejatinya bukan sekadar urusan stempel, map cokelat, dan foto bersama sambil mengacungkan jempol. Ini adalah deklarasi halus bahwa PKB ingin memastikan: tidak ada kader yang tersesat, tidak ada kepengurusan yang merasa “katanya saya ketua”.

Lapisan Pertama: Administrasi, Sang Pahlawan yang Sering Diremehkan

Pada tingkat paling dasar, sosialisasi SK ini adalah pengingat bahwa politik modern tidak bisa hanya mengandalkan kharisma dan spanduk. Harus ada dokumen resmi. Harus ada legalitas. Harus jelas siapa ketua, siapa sekretaris, dan siapa yang cuma rajin hadir tapi tidak tercantum di SK.

Ini menandakan PKB adalah partai yang percaya bahwa stabilitas dimulai dari kertas yang sah—bukan dari bisik-bisik grup WhatsApp. AD/ART dihormati, struktur ditegakkan, dan konflik internal dicegah sebelum sempat viral.

Lapisan Kedua: Menyamakan Frekuensi, Biar Tidak Salah Channel

Setelah urusan administrasi beres, masuklah ke tahap berikutnya: penyelarasan visi dan program. Ini penting, karena tanpa koordinasi, bisa saja DPP bicara soal strategi nasional sementara DPC masih sibuk memperdebatkan warna spanduk.

Sosialisasi program kerja ini ibarat menyamakan channel TV. Supaya pusat dan daerah tidak sedang menonton acara yang berbeda—yang satu debat politik, yang lain sinetron konflik internal. PKB tampaknya ingin memastikan bahwa semua kader, dari Jakarta sampai pelosok, sedang menonton acara yang sama: “Menuju 2026 dengan tertib dan kompak.”

Lapisan Ketiga: Akpolbang, Sekolah Politik Biar Tidak Asal Bicara

Bagian paling menarik tentu saja rencana Akpolbang. Ini semacam pesan tersirat: menjadi elite PKB tidak cukup hanya pandai pidato dan hafal jargon. Perlu kapasitas, nalar, dan—ini penting—integritas.

Dengan Akpolbang, PKB seolah berkata, “Kami tidak hanya mencetak kader yang tahan debat, tapi juga tahan godaan.” Sebuah harapan yang ambisius, tetapi patut diapresiasi di tengah politik yang sering lebih cepat mencetak baliho daripada pemikiran.

Langkah Jauh Hari: Antisipasi atau Parno (paranoid) yang Sehat?

Melakukan konsolidasi jauh sebelum masa kepengurusan dimulai bisa dibaca sebagai dua hal: perencanaan jangka panjang atau trauma masa lalu. Namun dalam politik, trauma sering kali melahirkan kebijakan yang lebih rapi.

Dengan langkah ini, PKB ingin masuk ke periode 2024–2029 tanpa drama internal. Tidak ada gugatan SK, tidak ada dualisme, tidak ada konferensi pers dadakan yang isinya saling klaim. Fokus pada politik eksternal, bukan ribut internal.

Gus Halim dan Pesan yang Tidak Perlu Terlalu Keras

Kehadiran Gus Halim Iskandar sebagai penyampai pesan juga memberi kesan bahwa komando tetap satu arah, meski disampaikan dengan bahasa sosialisasi, bukan instruksi militer. Disiplin dijaga, tetapi tetap dibungkus partisipasi.

Dan tentu saja, penyebaran informasi lewat media digital menandakan PKB sudah sadar bahwa zaman selebaran fotokopian sudah berlalu. Sekarang, legitimasi juga dibangun lewat timeline.

Politik Itu Pentas, dan PKB Sedang Menata Lampu

Pada akhirnya, pengumuman ini bukan cuma laporan kegiatan organisasi. Ia adalah gladi resik politik. PKB sedang memastikan panggungnya kokoh, lampunya menyala, dan para pemain tahu peran masing-masing sebelum tirai dibuka.

Karena dalam politik, sering kali yang kalah bukan yang kurang ide, melainkan yang panggungnya roboh sebelum pertunjukan dimulai. Dan PKB, tampaknya, memilih untuk menata panggung lebih awal—sebelum penonton datang dan sebelum kursi habis diperebutkan.

abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.