Di sebuah hotel mewah Jakarta Selatan—tempat lampu kristal lebih berkilau daripada masa depan mantan—PBNU meluncurkan sesuatu yang namanya terdengar seperti gabungan startup Silicon Valley dan pesantren: Nahdlatul Ulama Harvest Maslaha (NHM). Ini bukan nama menu diet halal, melainkan platform investasi syariah global. Singkatnya: ini momen ketika tasbih dan tabel Excel akhirnya duduk satu meja.
Kalau dulu orang mengenal NU lewat tahlilan, qunut, dan
diskusi kitab kuning yang bikin jidat berkerut, sekarang NU juga masuk ruang
rapat yang isinya grafik naik-turun dan istilah seperti portfolio
diversification. Dari “Allahu Akbar” ke “Return on Investment” tanpa
kehilangan wudhu. Sebuah lompatan peradaban yang bahkan mungkin bikin malaikat
pencatat amal buka LinkedIn.
NHM hadir dengan misi mulia: menjembatani spiritualitas,
ekonomi, dan globalisasi. Kalau biasanya jembatan menghubungkan dua pulau, ini
jembatan menghubungkan iman dan imbal hasil. Bukan sekadar cari untung,
tapi cari berkah. Jadi kalau grafik naik, alhamdulillah. Kalau turun? Tetap
alhamdulillah, tapi sambil evaluasi manajemen risiko.
Gus Yahya menegaskan bahwa investasi syariah itu amanah.
Artinya, bukan cuma soal profit, tapi juga tanggung jawab moral. Ini semacam
pengingat halus bahwa uang itu boleh berkembang, asal akhlaknya tidak menyusut.
Sementara Andrew Tan melihat Indonesia sebagai ladang subur: populasi Muslim
terbesar dunia dan Generasi Z yang jumlahnya banyak, kritis, dan kalau tidak
dijelaskan dengan baik, bisa menyerang lewat thread panjang di media sosial.
Data pasar keuangan Islam global yang tumbuh pesat bikin NHM
terasa seperti masuk lomba lari yang hadiahnya bukan medali, tapi triliunan
dolar. Proyeksi nilainya mencapai hampir lima triliun dolar. Angka yang kalau
ditulis pakai nol semua bisa bikin kursor laptop ikut lelah. NU tampaknya
melihat peluang ini sambil berkata, “Kalau umat bisa ikut arus ekonomi global
tanpa kehilangan arah kiblat, kenapa tidak?”
Struktur NHM juga menarik: kolaborasi antara manajemen
investasi internasional dan pengawasan syariah Indonesia. Ini seperti
pernikahan antara analis Wall Street dan kiai pesantren. Yang satu jago membaca
pasar, yang lain jago membaca niat. Keduanya sepakat pada satu hal: jangan
sampai ada yang gharar, baik dalam akad maupun akhlak.
Tentu jalannya tidak akan semulus karpet hotel bintang lima.
Mengelola dana global sambil tetap setia pada prinsip syariah itu seperti
menari sambil membawa nampan teh panas: harus seimbang, fokus, dan jangan
goyang berlebihan. Salah langkah sedikit, bisa tumpah—dan yang tumpah bukan
cuma teh, tapi kepercayaan.
Belum lagi persaingan dengan Malaysia dan Timur Tengah yang
sudah lama jadi pusat keuangan syariah. Ibarat masuk liga profesional, NU bukan
cuma harus jago ngaji, tapi juga jago negosiasi, audit, dan presentasi
PowerPoint yang tidak bikin audiens tertidur sebelum slide ketiga.
Lalu ada Generasi Z. Mereka ini unik: mau investasi yang
halal, tapi juga harus ramah lingkungan, adil sosial, transparan, dan kalau
bisa punya desain aplikasi yang estetik. Mereka ingin dunia selamat, dompet
selamat, dan feed Instagram tetap rapi. NHM harus bicara bahasa mereka: bukan
cuma “ini syariah”, tapi juga “ini etis, berkelanjutan, dan tidak merusak bumi
yang kamu pakai buat foto senja.”
Pada akhirnya, NHM adalah babak baru dalam kisah NU. Dari
organisasi sosial-keagamaan menjadi pemain ekonomi global—tanpa kehilangan ruh
kemaslahatan. Ini seperti pesantren yang tiba-tiba punya divisi venture
capital, tapi tetap mulai rapat dengan doa.
Kalau berhasil, NHM akan membuktikan bahwa sarung dan
setelan jas tidak harus berseberangan. Bahwa zikir dan strategi bisnis bisa
berjalan seiring. Dan bahwa di era globalisasi, iman tidak harus menyingkir
dari pasar—ia bisa masuk, duduk manis, lalu berkata:
“Baik, kita bicara profit… tapi jangan lupa pahala.”
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.