Padang pasir, kata orang, adalah tempat yang ideal untuk bertemu Tuhan. Tapi kisah Syeikh Abdul Qadir Al-Jaelani mengingatkan kita: padang pasir juga tempat favorit iblis membuka lapak spiritual instan. Lengkap dengan cahaya, suara megah, dan diskon syariat khusus musafir kelelahan.
Ceritanya sederhana, nyaris seperti adegan sinetron religi episode pamungkas. Syeikh Abdul Qadir dan muridnya tersesat, kehausan, dan kelelahan. Lalu—cling!—muncullah paket lengkap: awan peneduh, mata air jernih, pohon kurma subur, dan cahaya terang yang lebih kinclong dari lampu stadion. Bahkan ada suara gaib yang mengaku Tuhan dan berkata, “Tenang, haram hari ini halal. Darurat.”
Murid yang lapar tentu langsung mikir, “Masya Allah, Tuhan Mahabaik, bahkan paham kondisi perut.” Tapi di sinilah Syeikh Abdul Qadir justru curiga. Sebab pengalaman spiritual sejati, menurut beliau, tidak pernah disertai obral prinsip.
Dan benar saja, begitu sang Syeikh menolak—poof!—semua lenyap. Iblis pun muncul sambil mengakui kekalahannya. Moral ceritanya jelas: iblis kalah bukan karena kurang efek khusus, tapi karena kalah logika.
Iblis Itu Fleksibel, Sayangnya
Pelajaran pertama dari kisah ini: iblis itu adaptif. Jangan bayangkan ia selalu datang bertanduk dan berasap belerang. Kadang ia justru tampil seperti ustaz TED Talk: lembut, solutif, dan penuh empati. Ia paham betul bahwa manusia paling mudah tergelincir bukan saat senang, tapi saat capek dan kepepet.
Hari ini, iblis tidak perlu lagi muncul di padang pasir. Cukup muncul di grup WhatsApp, kanal YouTube, atau seminar “spiritual akseleratif”—yang menjanjikan surga tanpa antre, pencerahan tanpa disiplin, dan kedekatan dengan Tuhan tanpa repot taat aturan.
Ngaku Tuhan Itu Mudah, Verifikasinya yang Susah
Kisah ini juga mengajarkan paradoks penting: pengalaman belum tentu kebenaran. Cahaya bisa menyilaukan, suara bisa menggetarkan, tapi semua itu tidak otomatis ilahi. Di alam gaib, tidak ada KTP elektronik. Siapa pun bisa “ngaku”.
Logika Syeikh Abdul Qadir sederhana tapi mematikan: Tuhan tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan hukum-Nya sendiri. Kalau ada “Tuhan” yang fleksibel terhadap prinsip, itu bukan Tuhan—itu manajer pemasaran spiritual.
Analogi populernya pas sekali: kalau ada orang mengaku Rhoma Irama, meski suaranya mirip dan rambutnya kribo, kita tetap berhak curiga. Apalagi kalau tiba-tiba ia bilang, “Dangdut haram, tapi khusus kamu halal.”
Syariat Bukan Tombol Darurat
Godaan paling berbahaya dalam kisah ini bukan air atau kurma, melainkan tawaran untuk menegosiasikan hukum. Inilah jebakan halus: menjadikan prinsip sebagai opsi, bukan fondasi.
Syeikh Abdul Qadir menolak mentah-mentah. Bagi beliau, hukum Tuhan bukan terms and conditions yang bisa dicentang saat nyaman dan dilewati saat lapar. Justru di saat terdesak, prinsip itulah yang diuji.
Tasawuf yang Tidak Anti-Akal
Uniknya, kisah ini justru menunjukkan tasawuf yang sangat rasional. Tidak anti pengalaman batin, tapi juga tidak mabuk pengalaman. Spiritualitas yang dewasa bukan yang paling sering melihat cahaya, melainkan yang paling jarang tertipu olehnya.
Humor-humor ringan dalam narasi—tentang “ngaku-ngaku” dan verifikasi gaib—justru menegaskan pesan serius: iman tanpa akal sehat adalah undangan terbuka bagi penipuan.
Menjadi Murid, atau Menjadi Syeikh
Di padang pasir kehidupan modern, kita semua sering jadi murid yang kehausan: ingin solusi cepat, jawaban instan, dan agama yang tidak ribet. Tapi kisah ini mengajak kita naik level—menjadi seperti Syeikh Abdul Qadir: tenang, kritis, dan tidak silau oleh klaim spektakuler.
Sebab jalan spiritual sejati bukan tentang seberapa sering kita melihat keajaiban, melainkan seberapa jarang kita tertipu olehnya. Dan iman yang matang bukan yang paling mudah percaya, tapi yang berani bertanya—bahkan ketika yang berbicara mengaku Tuhan.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.