Minggu, 25 Januari 2026

Kerajaan Diri: Drama Kolosal di Dalam Dada

Kalau kamu merasa hidupmu ribet, tenang. Bukan kamu saja. Di dalam dirimu sendiri saja sebenarnya sudah berdiri satu kerajaan lengkap dengan konflik politik, pengkhianatan, dan kudeta diam-diam.

Namanya: Kerajaan Diri.
Lokasinya: di balik tulang dada, agak ke kiri.

👑 Raja yang Baperan tapi Menentukan Segalanya

Di kerajaan ini, Hati adalah rajanya. Sayangnya, raja kita ini tipikal pemimpin yang… sensitif. Dikasih pujian sedikit, langsung berbunga-bunga. Dikasih komentar pedas sedikit, langsung mendung tujuh hari tujuh malam.

Padahal keputusan raja ini krusial:

  • Mau sabar atau ngamuk?

  • Mau memaafkan atau menyimpan dendam sampai kiamat kecil?

  • Mau bangun tahajud atau bangun… buat cek notifikasi?

Masalahnya, raja kita kadang gampang disuap. Bukan pakai uang, tapi pakai:
✨ validasi
✨ pujian palsu
✨ diskon 70% yang sebenarnya tidak butuh-butuh amat

🧠 Perdana Menteri yang Hobi Rapat tapi Jarang Eksekusi

Di samping raja ada Pikiran, sang perdana menteri. Kerjanya mikir. Hobinya juga mikir. Keahliannya? Overthinking.

Dia ini pintar, tapi sering kebanyakan simulasi:

“Bagaimana kalau aku mulai hidup sehat?”
“Tapi bagaimana kalau nanti capek?”
“Bagaimana kalau capeknya bikin stres?”
“Bagaimana kalau stres bikin makan banyak?”
“Sudahlah, makan sekarang saja.”

Akhirnya kerajaan cuma punya rencana pembangunan jangka panjang tanpa pembangunan.

🍟 Para Menteri Nafsu: Licik tapi Kreatif

Nah ini dia kabinet paling berisik: Nafsu dan Keinginan.

Mereka ini sebenarnya bisa jadi pegawai teladan kalau diarahkan. Tapi kalau dibiarkan, mereka berubah jadi:

  • Menteri Urusan Rebahan Nasional

  • Menteri Konsumsi Tanpa Kontrol

  • Menteri Scroll Tanpa Henti

  • Menteri “Besok Aja Taubatnya”

Mereka juga ahli propaganda:

“Hidup cuma sekali, makanlah.”
“Self reward itu penting.”
“Kamu pantas bahagia.”
(terjemahan internal: ayo kita hancurkan disiplin pelan-pelan)

🏰 Saat Gerbang Dibuka Diam-Diam

Masalah mulai serius ketika raja lelah, perdana menteri bingung, dan para menteri nafsu pegang kendali.

Gerbang kerajaan pun dibuka. Masuklah para penjajah batin:

  • Cemas berlebihan

  • Marah tanpa rem

  • Iri hati profesional

  • Sedih tanpa sebab tapi tetap update status

Kerajaan jadi kacau. Rakyat (tangan, kaki, mulut) ikut-ikutan:

  • Mulut jadi pedas

  • Jari jadi rajin komentar nyinyir

  • Kaki rajin ke tempat yang… ya begitulah

Istana megah berubah jadi negara berkembang yang penuh utang emosi.

✨ Datangnya Pasukan Pembebas

Di saat situasi genting, datang bala bantuan dari Kerajaan Cahaya. Mereka kirim tiga pasukan elit:

⚔️ Iman – bikin raja ingat siapa pemilik takhta sebenarnya
🗺️ Ilmu – kasih peta biar nggak nyasar terus
🔨 Amal – bukan cuma wacana, tapi gerak nyata

Masalahnya… saat pasukan ini datang, para menteri nafsu panik.

Mereka teriak:

“Wah ini ekstrem!”
“Nggak usah terlalu serius hidup!”
“Nanti kamu berubah loh!”

Padahal yang berubah cuma dari berantakan jadi terarah.

🤝 Kerajaan Sekutu

Untungnya, kerajaan diri tidak sendirian. Ada kerajaan sekutu:

  • Guru yang mengingatkan

  • Teman saleh yang ngajak baik

  • Lingkungan yang bikin malu kalau mau macam-macam

Mereka ini seperti aliansi internasional, tapi versi hati. Bukan kirim senjata, tapi kirim nasihat dan contoh hidup waras.

🕊️ Mimpi Akhir: Negeri yang Tenang

Tujuan akhirnya bukan jadi kerajaan paling kaya sedunia, tapi jadi negeri dengan status:

“Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”
Alias:
Hati adem ✔
Pikiran jernih ✔
Tindakan nggak bikin nyesel ✔

Di sini raja tidak lagi dikendalikan nafsu, perdana menteri tidak hanya rapat, dan para menteri keinginan sudah dilatih jadi pegawai profesional, bukan provokator.

🎭 Plot Twist Terbesar

Ternyata…
Kudeta terbesar dalam hidup bukan dari orang lain.
Bukan dari mantan.
Bukan dari netizen.

Tapi dari dalam kerajaan sendiri.

Dan perjuangan paling heroik dalam hidup bukan terlihat di Instagram, tapi terjadi diam-diam saat seseorang berkata dalam hati:

“Kayaknya yang salah bukan dunia deh… tapi sistem pemerintahanku.”

Di situlah revolusi dimulai.
Bukan revolusi berdarah.
Tapi revolusi niat, pikir, dan langkah.

Dan percayalah, ketika kerajaan diri mulai tertata, hidup di luar ikut pelan-pelan rapi.

Meski kadang… menteri rebahan masih coba kudeta tiap habis makan siang. 😌

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.