Pidato Gus Yahya pada peluncuran program “Kado untuk Guru Ngaji” itu, kalau boleh jujur, terasa seperti pidato serius yang sengaja menyamar jadi obrolan santai. Bahasannya berat—reposisi organisasi, kesejahteraan nasional, konsolidasi bangsa—tapi dibungkus dengan tawa kecil, logat akrab, dan humor yang membuat hadirin lupa kalau mereka sedang diajak berpikir strategis.
Ibarat jamu pahit, pidato ini diberi madu. Bukan untuk menipu, tapi agar khasiatnya benar-benar tertelan.
Khidmah yang Tidak Cuma Dibaca di Spanduk
Biasanya, kata khidmah sering terdengar seperti slogan tahunan: indah, agung, tapi sulit dilacak wujudnya. Namun kali ini, Gus Yahya tampaknya ingin khidmah yang bisa dihitung, bukan hanya dihafal.
Buktinya sederhana tapi menggelitik: target awal 500 guru ngaji masuk BPJS, yang daftar malah lebih dari 10.700 orang. Ini seperti niat masak untuk satu panci, tahu-tahu yang datang satu kampung.
Di titik ini, NU tidak lagi tampil sebagai organisasi yang sibuk rapat, tetapi sebagai jaringan distribusi sosial. Dengan puluhan ribu ranting, NU berubah fungsi: dari sekadar tempat musyawarah menjadi jalur logistik kesejahteraan. Negara punya program, NU punya jalan tikus sampai gang paling ujung.
Kalau negara itu truk besar, NU adalah kurir motor yang hafal jalan pintas.
NU Turun dari Ring Tinju Politik
Bagian paling “nyentil tapi santun” dari pidato ini adalah penegasan bahwa NU tidak mau lagi ribut di ring politik. Gus Yahya seolah berkata, “Silakan yang lain berebut mikrofon dan baliho, NU mau pegang tangga.”
Reposisi ini menarik. NU tidak ingin jadi kontestan, tidak juga sok jadi wasit, apalagi provokator. NU memilih jadi jembatan. Bukan panggung orasi, tapi konstruksi baja yang kadang dilalui tanpa disadari, tapi runtuhnya bisa bikin semua jatuh.
Dengan posisi ini, NU tidak berhadap-hadapan dengan pemerintah, tapi juga tidak tenggelam di dalamnya. Pemerintah punya anggaran dan regulasi, NU punya jamaah dan kepercayaan. Kalau dua ini tidak disambungkan, ya masing-masing teriak di seberang sungai.
Dan sungai itu bernama “rakyat kecil”.
Mengakhiri Kebiasaan Membelah Dunia Jadi Dua
Gus Yahya juga tampaknya bosan dengan cara berpikir lama: pemerintah vs rakyat, negara vs masyarakat, sana vs sini. Dunia sudah cukup ribet tanpa perlu ditambah garis imajiner.
Di tengah ekonomi global yang batuk-batuk, geopolitik yang demam, dan media sosial yang mudah panas, NU memilih narasi konsolidasi. Energi bangsa jangan habis buat saling curiga, tapi dipakai buat bertahan hidup dan maju bersama.
Bahasanya sederhana: jangan sibuk berkelahi di dalam rumah, sementara atap bocor.
Humor sebagai Strategi, Bukan Sekadar Hiburan
Keistimewaan pidato ini bukan hanya isinya, tapi caranya. Gus Yahya menyelipkan humor tentang guru ngaji yang belum kenal BPJS—bukan untuk merendahkan, tapi untuk mengakui realitas dengan jujur. Ada pantun, ada bahasa Jawa, ada tawa kecil.
Ini bukan guyon kosong. Ini strategi komunikasi. Perubahan besar disampaikan tanpa membuat orang merasa ditinggalkan. NU diajak maju, tapi tidak dipaksa berlari meninggalkan sandal.
Modern, tapi tetap nyeker.
Jembatan Itu Harus Kuat, Bukan Sekadar Indah
Tentu, jadi jembatan bukan tanpa risiko. Jembatan bisa diinjak dari dua arah. Ia harus kuat, netral, dan tahan beban. Tantangannya jelas: menjaga jarak dari tarik-menarik politik, menjaga tata kelola agar tidak bocor, dan tetap berani bersuara jika arus terlalu deras.
Namun pidato ini sudah memberi fondasi penting: NU ingin dikenal bukan karena gaduhnya, tapi karena gunanya.
Akhirnya, “Kado untuk Guru Ngaji” bukan hanya tentang BPJS. Ia adalah simbol perubahan arah: dari wacana ke kerja, dari slogan ke layanan, dari menara ke jembatan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.