Dahulu kala, China dikenal sebagai bengkel dunia: tempat segala barang lahir, mulai dari sendok plastik sampai ide bahwa “murah itu indah”. Kini, bengkel itu tidak lagi sunyi. Ia ramai oleh rapat geopolitik, debat karbon, dan bisik-bisik tarif impor yang lebih tebal dari tembok gudang. Manufaktur China tak lagi sekadar urusan pabrik dan buruh, melainkan sudah naik kelas menjadi urusan siapa mengatur dunia.
Kalau dulu ekonomi global seperti pasar pagi—siapa rajin buka lapak, dia laku—sekarang ia mirip arena catur raksasa. Dan China, tampaknya, bukan pion lagi.
Fondasi Kekuatan: Dari WTO hingga Stopkontak Nasional
Kebangkitan manufaktur China sering disederhanakan: “Ah, karena batu bara.” Seolah-olah pabrik China digerakkan oleh jin hitam dari tambang. Padahal ceritanya lebih rumit dan—jujur saja—lebih rapi.
Sejak masuk WTO tahun 2001, China tidak sekadar ikut arus globalisasi; ia membawa papan selancar sendiri. Program “Made in China 2025” bukan slogan tempelan, melainkan peta jalan industrial yang dibaca serius—sesuatu yang di banyak negara sering berhenti di baliho.
Hasilnya? Pada 2024, China menyumbang sekitar 27,7% nilai tambah manufaktur dunia. Artinya, dari setiap empat barang yang “punya otak industri”, satu lahir di China. Ini bukan dominasi, ini sudah kos-kosan permanen di ekonomi global.
Rahasia lainnya ada di hal yang sering diremehkan: listrik. China membangun jaringan listrik batu bara “paling bersih sedunia”, lengkap dengan transmisi ultratinggi. Ini membuat biaya energi rendah, stabil, dan tidak drama. Barat berbicara tentang masa depan energi; China memastikan stopkontak hari ini tetap menyala.
Transisi Hijau ala China: Hijau di Atas, Hitam di Bawah
Di sinilah komedi mulai terasa.
China adalah juara dunia energi terbarukan: 80% panel surya, turbin angin, dan baterai global berasal dari sana. Penambahan kapasitas surya dan angin terbesar? China juga. Investasi energi hijau paling besar? Lagi-lagi China.
Namun, di balik panel surya yang berkilau, masih berdiri PLTU batu bara yang bekerja setia seperti paman tua: tidak modis, tapi selalu ada saat dibutuhkan.
China tidak melihat kontradiksi di sini. Mereka menyebutnya strategi. Energi terbarukan dikembangkan secepat mungkin, tapi batu bara tetap dipelihara demi stabilitas. Transisi hijau ala China bukan lompat jauh, melainkan jalan cepat sambil membawa payung cadangan.
Bagi aktivis iklim Barat, ini membingungkan. Bagi insinyur China, ini pragmatis. Bagi dunia, ini realitas.
Mobil, Baja, dan Kesadaran bahwa Tidak Semua Harus Bertambah
Puncak kejenakaan terjadi di industri otomotif. Pada 2025, produsen mobil China diproyeksikan menyalip Jepang dalam penjualan global. Negara yang dulu terkenal meniru, kini memimpin—terutama di mobil listrik, di mana China bermain di kandang sendiri.
Namun, bahkan raksasa pun tahu kapan harus mengerem. Di sektor baja, China justru membatasi produksi. Pemerintah mengakui masalah kelebihan kapasitas, permintaan domestik yang melemah, dan tekanan emisi. Produksi baja turun, bukan karena kalah, tetapi karena kelebihan menang.
Ini menarik: narasi “pertumbuhan tanpa batas” ternyata punya rem tangan. Dan China, yang sering dituduh rakus, justru mulai belajar seni menahan diri—setidaknya di atas kertas kebijakan.
Jika Dihalangi Tarif, Maka Dirikan Pabrik
Ketika Barat menaikkan tarif setinggi langit—bahkan sampai ratusan persen—perusahaan China tidak marah. Mereka pindah alamat.
Sebanyak 114 fasilitas produksi didirikan di luar negeri hanya dalam satu tahun. Jika tidak boleh masuk lewat pintu, masuk lewat jendela. Jika jendela ditutup, bangun rumah di sebelah.
Didukung Belt and Road Initiative, China membangun rantai pasok paralel: tidak frontal, tidak ribut, tapi efektif. Ini bukan sekadar strategi dagang; ini geopolitik versi pabrik.
Kontradiksi Internal: Ketika Mesin Besar Perlu Disetel Ulang
Tentu saja, mesin sebesar China tidak selalu mulus. Sektor properti melemah, permintaan domestik goyah, dan pabrik sempat delapan bulan batuk-batuk sebelum kembali ekspansi.
Bahkan di sektor hijau pun muncul ironi: skandal kredit karbon yang diduga fiktif. Proyek lama dijual sebagai baru, emisi lama dicat hijau. Transisi energi, rupanya, juga bisa tergoda akrobat administrasi.
Ini pengingat penting: teknologi boleh canggih, tapi integritas tetap manual.
Penutup: Dunia Tanpa Bengkel Tunggal
Kisah manufaktur China bukan dongeng hitam-putih. Ini cerita tentang perencanaan panjang, pragmatisme ekstrem, dan kontradiksi yang dikelola, bukan disembunyikan.
Dunia kini bergerak menuju fase baru: tidak ada lagi satu bengkel dunia. Yang ada adalah jaringan pabrik, teknologi, dan kepentingan yang saling terkait. Barat harus memilih: menghalangi dengan tarif, atau mengejar dengan inovasi. China sendiri harus berdamai dengan batas pertumbuhannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.