Jika diplomasi adalah seni berjalan di atas tali, maka isu Israel–Palestina adalah talinya, jurangnya, anginnya, sekaligus penonton yang siap berteriak, “Jatuh!” bahkan sebelum kaki melangkah. Dalam situasi se-rumit ini, Nahdlatul Ulama (NU) memilih sebuah pendekatan yang—meminjam istilah Gus Mus—tidak sekadar berteriak dari kejauhan, tetapi nekat mendekat sambil membawa mikrofon rahmah.
Tulisan Gus Mus tahun 2018, “Dari Khotbah Ied hingga Khotbah’nya Yahya”, sejatinya adalah kisah keluarga yang berubah menjadi kuliah diplomasi internasional. Seorang paman membela keponakannya yang dituduh macam-macam: dari “terlalu lembut” sampai “kebanyakan dialog”. Gus Yahya, yang sejak muda rajin membela Palestina, tiba-tiba dianggap berdosa karena memilih datang langsung ke Israel—bukan untuk liburan, tapi untuk ceramah. Ya, ceramah. Bukan lempar batu, bukan lempar status Facebook, tapi lempar ayat tentang kasih sayang.
Dalam versi Gus Mus, ini bukan pengkhianatan, melainkan nglurug—menyerbu dengan cara NU: sopan, berdoa dulu, lalu bicara pelan-pelan tapi mengena. Sebab, kata Gus Mus kira-kira, memaki dari jauh itu gampang, yang susah itu berdiri di depan orang yang kita benci, lalu berkata, “Mari kita bicara tentang kemanusiaan.” Ini seperti memilih berdakwah di sarang singa, sambil berharap singanya insaf.
Opini pendamping tulisan itu kemudian mengeluarkan kartu truf sejarah: Gus Dur. Ternyata, bertemu orang Israel bukan barang baru di NU. Gus Dur dulu sudah sering melakukannya, dan dulu juga dikritik. Bedanya, dulu belum ada Twitter. Kalau ada, mungkin linimasa Gus Dur sudah penuh dengan tagar #GusDurProIsrael (yang tentu saja salah kaprah). Logikanya sederhana: kalau musuh tidak mau mendengar dari jauh, ya dekati. Diplomasi jalur dua (track II diplomacy), bukan jalur emosi.
Masalahnya, niat baik jarang hidup sendirian. Ia tinggal serumah dengan persepsi publik, politik internal, dan bumbu konspirasi. Dalam konteks Indonesia, isu Palestina bukan sekadar sikap politik—ia sudah naik level menjadi ekspresi iman plus emosi. Maka, setiap langkah yang tidak terdengar seperti teriakan “lawan!” berisiko dianggap sebagai bisikan “kompromi”.
Lebih rumit lagi, isu ini ternyata laku keras sebagai senjata politik internal NU. Tuduhan “pro-Israel” bisa berubah menjadi pentungan wacana: ringan dibawa, berat dipukul. Kontroversi Akademi Kader NU (AKN) tahun 2025 hanyalah salah satu contoh bagaimana diplomasi global bisa terseret ke gelanggang lokal, lengkap dengan wasit, penonton, dan kartu merah. Nama-nama seperti Moqsith Ghazali, Nadirsyah Hosen, hingga aktivis muda ikut masuk ring—bukan untuk tinju fisik, tapi tinju narasi.
Di satu sisi, NU dituntut menjadi organisasi Islam moderat kelas dunia: proaktif, dialogis, dan rahmatan lil ‘alamin. Di sisi lain, NU juga hidup di tengah umat yang solid, emosional, dan alergi terhadap apa pun yang berbau “normalisasi”. Akibatnya, langkah Gus Yahya yang di panggung global bisa dibaca sebagai keberanian, di panggung domestik justru terdengar sebagai kesalahan nada.
Akhir cerita ini agak getir tapi realistis. Meski dibela oleh Gus Mus dengan kelembutan khas seorang sufi yang sudah kenyang kritik, isu Israel tetap menjadi salah satu batu sandungan politik bagi Gus Yahya. Khotbah rahmah di luar negeri harus berhadapan dengan khotbah politik di dalam negeri—yang volumenya lebih keras dan mikrofonnya lebih banyak.
Pelajaran besarnya sederhana tapi tidak mudah: dalam konflik sekompleks Israel–Palestina, niat baik saja tidak cukup. Ia perlu kepekaan politik, strategi komunikasi, dan kesiapan mental untuk disalahpahami. Gus Mus mengingatkan bahwa keberanian tidak selalu berbentuk teriakan; kadang ia hadir sebagai bisikan jujur di ruang yang penuh kebencian. Tapi realitas mengajarkan: bisikan sering kalah viral dibanding sumpah-serapah.
NU, seperti biasa, terus berjalan di jalan sempit antara prinsip dan pragmatisme—sambil sesekali tergelincir, bangkit lagi, lalu tersenyum pahit. Sebab, dalam dunia yang gemar hitam-putih, NU masih bersikeras membawa warna abu-abu. Dan di zaman sekarang, abu-abu itu sering dianggap mencurigakan, padahal justru di sanalah akal sehat biasanya bersembunyi.
abah-arul.blogspot.com., Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.