Di zaman ketika kecerdasan buatan lebih sering diajak ngobrol daripada tetangga sebelah, para petingginya tentu butuh cara sederhana untuk menjelaskan hal rumit. Maka muncullah analogi manis dari Sam Altman: melatih AI itu seperti membesarkan manusia selama 20 tahun—lengkap dengan makanannya sampai jadi “pintar”.
Analoginya terdengar hangat. Hampir seperti nasihat ibu:
“Nak, kalau mau pintar, makan yang banyak.” Bedanya, ibu kita tidak pernah
bilang, “Nak, kalau mau jadi AI, kamu harus makan listrik setara satu kota.”
Masuklah seorang pengamat teknologi, Shanaka Anslem
Perera, yang dengan penuh cinta—dan sedikit rasa tidak percaya—memeriksa
analogi tersebut. Hasilnya? Analogi tadi ternyata bukan sekadar meleset. Ia
meleset sejauh tiga orde magnitudo. Itu bukan lagi salah hitung, itu sudah
seperti salah alamat… ke galaksi sebelah.
Manusia vs AI: Duel Makan yang Tidak Seimbang
Mari kita bayangkan duel sederhana: satu manusia vs satu AI.
- Manusia
makan nasi, tempe, mungkin sesekali ayam goreng.
- AI
makan listrik. Banyak. Sangat banyak.
Menurut perhitungan Perera, seorang manusia selama 20 tahun
mengonsumsi sekitar 17 MWh energi dari makanan. Sementara itu, melatih model
seperti GPT-4 membutuhkan sekitar 50.000–60.000 MWh.
Artinya, satu AI setara dengan 3.000 manusia.
Kalau ini lomba makan di kampung, manusia baru selesai satu
piring nasi, AI sudah menghabiskan satu kecamatan—termasuk gardu listriknya.
Dan di titik ini, kita mulai curiga: jangan-jangan AI bukan
“anak digital”, tapi “anak kos” yang meterannya nyala terus 24 jam.
AI dan Umur Pendek yang Boros
Masalahnya tidak berhenti di situ. Kalau manusia makan
banyak, setidaknya umurnya panjang. Kita bisa menikmati hasilnya—jadi dokter,
guru, atau minimal jadi panitia 17-an.
AI? Umurnya pendek.
Hari ini kita punya GPT-4. Besok muncul GPT-5. Lusa GPT-6.
Minggu depan kita sendiri sudah lupa GPT-4 itu siapa—seperti mantan yang
terlalu cepat digantikan.
Ini bukan inovasi. Ini lebih mirip langganan boros versi
teknologi.
Infrastruktur: Ketika AI Minta Listrik Satu Kota
Puncak drama muncul ketika proyek-proyek besar mulai masuk.
Salah satunya adalah proyek “Stargate” yang—dalam semangat ambisi luar
angkasa—membutuhkan listrik hingga 10 gigawatt.
Sebagai perbandingan, itu setara dengan konsumsi listrik
seluruh New York City.
Bayangkan Anda datang ke PLN dan berkata:
“Pak, saya mau bikin AI. Butuh listrik… ya, kira-kira satu
New York saja.”
Petugasnya mungkin tidak akan marah. Tapi dia akan
pelan-pelan mengambil kursi, duduk, dan mempertanyakan seluruh hidupnya.
Tagihan Listrik: Plot Twist yang Tidak Lucu
Masalah sebenarnya bukan pada AI yang lapar. Masalahnya
adalah siapa yang akan membayar makanannya.
Perera menunjukkan bahwa jaringan listrik sudah mulai
kewalahan. Kekurangan pasokan, lonjakan harga, dan ancaman krisis bukan lagi
teori—ini sudah mulai terjadi.
Artinya, suatu hari nanti, kita membuka tagihan listrik dan
menemukan angka yang membuat kita langsung bertobat.
Dan di sudut kecil tagihan itu, mungkin ada tulisan kecil:
“Terima kasih telah membantu melatih AI.”
Blind Spot: Gajah di Ruang Server
Dalam artikelnya, Perera menyebut adanya “blind spot”
senilai 850 miliar dolar—biaya infrastruktur listrik yang jarang dibicarakan.
Ini seperti pesta besar di mana semua orang memuji
makanannya, tapi tidak ada yang bertanya siapa yang mencuci piring.
Semua terpukau oleh AI yang bisa menulis puisi, membuat
gambar, dan menjawab pertanyaan. Tapi jarang yang bertanya: “Listriknya dari
mana?”
Jawabannya sederhana: dari kita semua.
Antara Kecerdasan dan Tagihan
Pada akhirnya, ini bukan soal menolak AI. Kita semua
menikmati kemudahannya. AI membantu pekerjaan, mempercepat riset, bahkan kadang
membantu kita terlihat lebih pintar dari yang sebenarnya.
Masalahnya hanya satu: AI ternyata tidak makan nasi. Ia
makan listrik. Dan porsinya bukan satu piring, tapi satu pembangkit.
Analogi makanan dari Sam Altman memang puitis. Tapi seperti
banyak puisi lainnya, ia lebih indah daripada akurat.
Dan ketika puisi bertemu dengan tagihan listrik, biasanya
yang kalah adalah dompet kita.
Jadi pertanyaan sebenarnya bukan lagi:
“Apakah AI akan menjadi cerdas?”
Melainkan:
“Apakah kita siap membayar makan si jenius ini… setiap
bulan?”
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.