Sabtu, 21 Februari 2026

Tiga Orde Magnitudo: Ketika AI Makan Lebih Banyak dari Warteg Sekampung

Di zaman ketika kecerdasan buatan lebih sering diajak ngobrol daripada tetangga sebelah, para petingginya tentu butuh cara sederhana untuk menjelaskan hal rumit. Maka muncullah analogi manis dari Sam Altman: melatih AI itu seperti membesarkan manusia selama 20 tahun—lengkap dengan makanannya sampai jadi “pintar”.

Analoginya terdengar hangat. Hampir seperti nasihat ibu: “Nak, kalau mau pintar, makan yang banyak.” Bedanya, ibu kita tidak pernah bilang, “Nak, kalau mau jadi AI, kamu harus makan listrik setara satu kota.”

Masuklah seorang pengamat teknologi, Shanaka Anslem Perera, yang dengan penuh cinta—dan sedikit rasa tidak percaya—memeriksa analogi tersebut. Hasilnya? Analogi tadi ternyata bukan sekadar meleset. Ia meleset sejauh tiga orde magnitudo. Itu bukan lagi salah hitung, itu sudah seperti salah alamat… ke galaksi sebelah.

Manusia vs AI: Duel Makan yang Tidak Seimbang

Mari kita bayangkan duel sederhana: satu manusia vs satu AI.

  • Manusia makan nasi, tempe, mungkin sesekali ayam goreng.
  • AI makan listrik. Banyak. Sangat banyak.

Menurut perhitungan Perera, seorang manusia selama 20 tahun mengonsumsi sekitar 17 MWh energi dari makanan. Sementara itu, melatih model seperti GPT-4 membutuhkan sekitar 50.000–60.000 MWh.

Artinya, satu AI setara dengan 3.000 manusia.

Kalau ini lomba makan di kampung, manusia baru selesai satu piring nasi, AI sudah menghabiskan satu kecamatan—termasuk gardu listriknya.

Dan di titik ini, kita mulai curiga: jangan-jangan AI bukan “anak digital”, tapi “anak kos” yang meterannya nyala terus 24 jam.

AI dan Umur Pendek yang Boros

Masalahnya tidak berhenti di situ. Kalau manusia makan banyak, setidaknya umurnya panjang. Kita bisa menikmati hasilnya—jadi dokter, guru, atau minimal jadi panitia 17-an.

AI? Umurnya pendek.

Hari ini kita punya GPT-4. Besok muncul GPT-5. Lusa GPT-6. Minggu depan kita sendiri sudah lupa GPT-4 itu siapa—seperti mantan yang terlalu cepat digantikan.

Setiap model baru datang dengan satu pesan sederhana:
“Terima kasih atas listrik Anda. Kami akan menggunakannya lagi.”

Ini bukan inovasi. Ini lebih mirip langganan boros versi teknologi.

Infrastruktur: Ketika AI Minta Listrik Satu Kota

Puncak drama muncul ketika proyek-proyek besar mulai masuk. Salah satunya adalah proyek “Stargate” yang—dalam semangat ambisi luar angkasa—membutuhkan listrik hingga 10 gigawatt.

Sebagai perbandingan, itu setara dengan konsumsi listrik seluruh New York City.

Bayangkan Anda datang ke PLN dan berkata:

“Pak, saya mau bikin AI. Butuh listrik… ya, kira-kira satu New York saja.”

Petugasnya mungkin tidak akan marah. Tapi dia akan pelan-pelan mengambil kursi, duduk, dan mempertanyakan seluruh hidupnya.

Tagihan Listrik: Plot Twist yang Tidak Lucu

Masalah sebenarnya bukan pada AI yang lapar. Masalahnya adalah siapa yang akan membayar makanannya.

Perera menunjukkan bahwa jaringan listrik sudah mulai kewalahan. Kekurangan pasokan, lonjakan harga, dan ancaman krisis bukan lagi teori—ini sudah mulai terjadi.

Artinya, suatu hari nanti, kita membuka tagihan listrik dan menemukan angka yang membuat kita langsung bertobat.

Dan di sudut kecil tagihan itu, mungkin ada tulisan kecil:

“Terima kasih telah membantu melatih AI.”

Blind Spot: Gajah di Ruang Server

Dalam artikelnya, Perera menyebut adanya “blind spot” senilai 850 miliar dolar—biaya infrastruktur listrik yang jarang dibicarakan.

Ini seperti pesta besar di mana semua orang memuji makanannya, tapi tidak ada yang bertanya siapa yang mencuci piring.

Semua terpukau oleh AI yang bisa menulis puisi, membuat gambar, dan menjawab pertanyaan. Tapi jarang yang bertanya: “Listriknya dari mana?”

Jawabannya sederhana: dari kita semua.

Antara Kecerdasan dan Tagihan

Pada akhirnya, ini bukan soal menolak AI. Kita semua menikmati kemudahannya. AI membantu pekerjaan, mempercepat riset, bahkan kadang membantu kita terlihat lebih pintar dari yang sebenarnya.

Masalahnya hanya satu: AI ternyata tidak makan nasi. Ia makan listrik. Dan porsinya bukan satu piring, tapi satu pembangkit.

Analogi makanan dari Sam Altman memang puitis. Tapi seperti banyak puisi lainnya, ia lebih indah daripada akurat.

Dan ketika puisi bertemu dengan tagihan listrik, biasanya yang kalah adalah dompet kita.

Jadi pertanyaan sebenarnya bukan lagi:

“Apakah AI akan menjadi cerdas?”

Melainkan:

“Apakah kita siap membayar makan si jenius ini… setiap bulan?”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.