Foto, Fakta, dan FOMO
Di zaman ketika notifikasi lebih sering muncul daripada
kesadaran diri, sebuah foto bisa berubah dari sekadar momen biasa menjadi
“wahyu parenting” dalam hitungan jam. Kali ini, panggungnya adalah pertemuan
antara Elon Musk dan Narendra Modi. Tapi yang bikin heboh bukan
obrolan geopolitik, melainkan anak-anak Musk yang… membaca buku.
Ya, membaca. Aktivitas yang kini terasa seperti hobi
eksotis, setara dengan menenun atau beternak lebah.
Lalu muncullah Reno Omokri, membawa tafsir ala kitab
motivasi: “Ini dia rahasia orang kaya! Anak miliarder tidak pegang gadget,
mereka pegang buku!”
Dan tiba-tiba, jutaan orang tua di seluruh dunia menatap
anaknya yang sedang nonton YouTube sambil makan keripik dengan rasa bersalah
yang mendalam.
Narasi Viral: Ketika Buku Jadi Status Sosial Baru
Dalam narasinya, Omokri menggambarkan dunia menjadi dua
kubu:
- “Ayah
kaya” → anaknya membaca buku
- “Ayah
miskin” → anaknya pegang gadget
Referensinya jelas: Rich Dad Poor Dad karya Robert
Kiyosaki. Seolah-olah masa depan anak bisa ditentukan hanya dari apakah dia
memegang buku atau iPad saat difoto.
Ditambah lagi bumbu dramatis:
- Steve
Jobs katanya melarang anak pakai iPad
- Mark
Zuckerberg katanya tidak punya TV
Kesimpulannya sederhana, tegas, dan sangat cocok untuk
caption Instagram:
“Kalau anakmu tidak suka membaca, siap-siap saja dia tidak
sukses.”
Kalimat yang cukup kuat untuk membuat orang tua langsung
membeli 12 buku sekaligus… yang nanti tetap dibungkus plastik.
Realitas: Ketika Fakta Tidak Sekeren Narasi
Masalahnya, seperti banyak kisah viral lainnya, kenyataan
sedikit lebih… membumi.
Buku yang dibaca anak Musk ternyata bukan “Secrets of Mental
Math” yang terdengar sangat jenius itu. Lebih ke buku hadiah budaya India
seperti karya Rabindranath Tagore atau kisah klasik seperti Panchatantra.
Artinya, adegan tersebut bukan hasil strategi “ayah
miliarder mendidik anak jadi genius”, tapi lebih ke:
“Ini loh, hadiah dari tuan rumah. Tolong dipegang, nanti
difoto.”
Logika Viral: Kalau Begitu Semua Perpustakaan Sudah Penuh
Miliarder
Di sinilah letak humor sekaligus masalahnya.
Kalau benar membaca buku otomatis membuat seseorang jadi
kaya, maka:
- penjaga
perpustakaan adalah calon miliarder
- mahasiswa
skripsi sudah jadi CEO sebelum wisuda
- dan
tukang fotokopi kampus adalah Warren Buffett versi lokal
Nyatanya, hidup tidak sesederhana itu.
Kesuksesan bukan hanya soal membaca buku, tapi juga:
- akses
pendidikan
- lingkungan
- kesempatan
- jaringan
- dan
sedikit keberuntungan (plus WiFi stabil)
Membaca itu penting, tapi bukan tombol cheat code kehidupan.
Gadget vs Buku: Pertarungan yang Salah Sasaran
Narasi viral sering memaksa kita memilih:
Tim Buku vs Tim Gadget
Padahal, ini seperti memilih:
Mau makan nasi atau minum air?
Dua-duanya penting.
Masalahnya bukan gadgetnya, tapi bagaimana digunakan:
- Gadget
bisa bikin anak belajar coding, bahasa, atau sains
- Tapi
juga bisa bikin anak hafal semua suara notifikasi TikTok
Buku juga sama:
- Bisa
membuka wawasan
- Tapi
juga bisa jadi pajangan estetik di rak IKEA
Yang menentukan bukan medianya, tapi kebiasaannya.
Psikologi Orang Tua: Antara Edukasi dan Rasa Bersalah
Salah satu efek samping konten seperti ini adalah “parental
guilt”—rasa bersalah orang tua.
Setelah membaca thread viral, biasanya muncul pikiran:
“Wah, anak saya tadi main game 2 jam. Masa depannya hancur.”
Padahal, realitasnya lebih kompleks:
- Banyak
orang tua bekerja dan butuh gadget sebagai alat bantu
- Tidak
semua keluarga punya akses buku berkualitas
- Waktu
mendampingi anak juga terbatas
Menjadikan gadget sebagai “simbol kegagalan orang tua”
adalah simplifikasi yang tidak adil.
Filosofi di Balik Viralitas: Kita Suka Cerita yang
Sederhana
Kenapa konten seperti ini viral?
Karena manusia suka cerita sederhana:
- “Baca
buku = sukses”
- “Main
gadget = gagal”
Padahal hidup lebih mirip:
“Baca buku + kerja keras + kesempatan + doa + keberuntungan
+ jaringan + timing + kadang random.”
Tapi tentu saja, itu tidak muat jadi caption Instagram.
Antara Buku, Gadget, dan Akal Sehat
Pada akhirnya, foto anak Elon Musk membaca buku bukanlah
wahyu parenting. Itu hanya foto. Kita yang menambahkan makna berlebihan di
atasnya.
Pesan yang bisa kita ambil tetap berharga:
- membaca
itu penting
- gadget
perlu dikontrol
- kebiasaan
belajar harus dibangun
Namun, yang lebih penting adalah satu hal yang sering
dilupakan di era viral:
Jangan lebih cepat terinspirasi daripada berpikir.
Dan kalau kita tidak hati-hati, kita bisa lebih sibuk
membeli buku untuk anak… daripada benar-benar membacanya bersama mereka.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.