Manusia modern punya satu keyakinan yang nyaris tak tertulis: kalau sudah capek bekerja, berarti semua hasilnya murni milik kita. Keyakinan ini tumbuh subur di tengah jadwal padat, target karier, dan notifikasi saldo masuk. Kita merasa rezeki adalah hasil keringat sendiri—lengkap dengan bonus lembur dan stres gratisan. Sayangnya, di sinilah masalah sering dimulai.
Dalam pandangan tauhid, rezeki sejatinya bukan hasil produksi pribadi, melainkan pemberian. Usaha hanyalah jalan, bukan sumber. Namun banyak orang terjebak membalik urutannya: jalan dianggap sumber, sementara Pemberi sekadar formalitas. Akibatnya, lahirlah dua tipe manusia. Yang satu merasa cukup meski sederhana, yang lain merasa kurang meski berlimpah.
Mobil Mewah, Tapi Ditarik Sapi
Bayangkan seseorang membeli mobil sport mahal, mengilap, dan penuh fitur canggih—lalu menariknya dengan sapi. Lucu? Aneh? Tapi begitulah gambaran orang yang mendapat rezeki, namun menggunakannya tanpa mengikuti petunjuk Pemiliknya. Harta ada, tapi ketenangan tidak ikut dibeli.
Rezeki tanpa tuntunan ibarat teknologi tanpa manual: canggih, mahal, tapi bikin frustasi. Bukannya sampai tujuan, malah sering mogok di tengah jalan hidup.
Azab yang Tidak Terlihat di Rekening
Mengabaikan hakikat rezeki jarang langsung berbuah kemiskinan dramatis. Justru azabnya sering halus dan licin: hilangnya rasa cukup. Orang tetap punya penghasilan, bahkan besar, tapi hidupnya penuh cemas. Uang cepat habis, masalah datang silih berganti, dan hati seperti ember bocor—diisi berapa pun tetap kosong.
Inilah penderitaan batin yang tidak tercatat di laporan keuangan. Rezeki yang seharusnya menjadi penenang, berubah menjadi sumber kegelisahan. Tidur tak nyenyak, pikiran penuh skenario buruk, dan masa depan selalu terasa mengancam.
Ironisnya, kondisi ini sering menimpa mereka yang “secara angka” tampak aman. Azabnya bukan kekurangan, tapi ketidaktenangan.
Titipan yang Sering Diklaim Milik
Harta dalam pandangan iman sebenarnya mirip uang di tangan petugas bank. Ia memegang banyak, tapi bukan pemiliknya. Selama sadar status, hidup aman. Begitu merasa memiliki sepenuhnya, masalah dimulai.
Harta yang benar-benar aman justru yang sudah dilepas: dibelanjakan untuk kebaikan, dibagikan, dan disyukuri. Yang masih digenggam erat selalu rawan hilang—kalau bukan oleh waktu, oleh rasa takut.
Namun semua ini bukan ajakan untuk berhenti berusaha. Tawakal bukan sinonim kemalasan. Usaha tetap wajib, profesionalitas tetap penting, kejujuran tetap nomor satu. Bedanya, hati tidak menggantung pada hasil, melainkan pada Yang Mengatur hasil.
Dari Pemilik Menjadi Pengelola
Inti persoalan rezeki bukan pada jumlah, tapi pada sudut pandang. Saat seseorang merasa sebagai pemilik mutlak, hidup menjadi berat karena semuanya harus dijaga sendiri. Saat ia sadar hanya pengelola titipan, hidup terasa lebih ringan—karena ada tempat bersandar.
Ketika rasa syukur hadir, rezeki yang biasa terasa istimewa. Ketika keikhlasan tumbuh, harta yang sedikit terasa cukup. Dan ketika ketergantungan pada Sang Pemberi diakui, kegelisahan perlahan kehilangan alasan.
Karena pada akhirnya, rezeki sejati bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa tenang hati saat menjalaninya.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.