Jumat, 06 Februari 2026

Tujuh Nafsu dan Sebuah Lukisan: Ketika Jiwa Manusia Ternyata Lebih Ramai dari Timeline Media Sosial

Jika manusia modern merasa hidupnya rumit karena terlalu banyak notifikasi, Ada kabar yang sedikit menenangkan sekaligus menohok: keramaian itu bukan hanya di ponsel, tapi sudah lama menetap di dalam diri kita—bernama nafsu. Tepatnya, bukan satu, melainkan tujuh. Dan semuanya punya watak, warna, alamat tubuh, bahkan “alamat alam”.

Dalam  7 Nafsu Manusia (Ngaji Lukisan), kita diajak menyelami tasawuf dengan metode yang tidak biasa: ngaji sambil melihat lukisan. Ini semacam Google Maps spiritual—lengkap dengan titik warna, rute zikir, dan peringatan keras: “Anda sedang berada di nafsu ammarah, harap putar balik.”

Nafsu: Bukan Musuh, Tapi Tetangga yang Kurang Sopan

Nafsu bukanlah iblis berkedok manusia. Ia lebih mirip tetangga yang sebenarnya satu keluarga, tapi hobi parkir sembarangan. Nafsu adalah alam batin manusia: ada kalbu, ruh, fikrah—dan tentu saja si nafsu yang kadang bikin status WA kita disesali lima menit kemudian.

Tasawuf, dalam versi ini, tidak memusuhi nafsu. Ia mendidik nafsu. Seperti orang tua sabar menghadapi anak yang masih belajar makan tanpa menumpahkan sambal ke mana-mana.

Nafsu Ammarah: CEO Keserakahan

Tahap pertama adalah nafsul ammarah, berlokasi di pusar dan berwarna biru. Di sinilah kantor pusat sifat-sifat favorit netizen: pelit, ambisius, sombong, dengki, lalai, dan oportunis. Ini nafsu yang kalau diberi mikrofon, akan berkata, “Yang penting saya untung.”

Alamnya adalah alam syahadah, dunia nyata—tempat diskon, kekuasaan, dan drama hidup berseliweran. Obatnya? Syariah dan zikir panjang “la…”. Ya, memanjangkan “la” seolah-olah dosa-dosa itu perlu diberi tahu dengan jelas: “La—bukan itu hidup yang benar.”

Nafsu Lawwamah: Si Penyesal Produktif

Naik sedikit ke dada, kita bertemu nafsul lawwamah, berwarna kuning. Ini nafsu yang hobi menyesal. Setelah marah, ia merenung. Setelah pamer, ia overthinking. Setelah posting, ia hapus.

Sayangnya, lawwamah juga punya penyakit khas: ujub—bangga karena merasa sudah sadar. Ini fase di mana seseorang berkata, “Saya memang bukan orang suci, tapi saya lebih sadar daripada kalian.” Alamnya barzakh: setengah dunia, setengah batin. Jalannya lillah—mulai belajar berbuat bukan demi ego, tapi demi Allah. Obatnya: ikhlas dan cinta. Dua hal yang mudah diucapkan, sulit dipraktikkan, dan sering disalahpahami.

Nafsu Mulhamah: Inspirasi yang Bikin Repot Tapi Indah

Lalu muncullah nafsul mulhamah, berwarna merah, beralamat di roh. Di sini orang mulai ringan tangan, qanaah, sabar, tawadhu, dan—yang paling berbahaya—suka menanggung beban orang lain. Ini tipe manusia yang kalau ditanya kenapa capek, jawabannya, “Gak apa-apa.”

Alamnya makin tinggi, istilahnya pun makin berat: malakut, jabarut, lahut. Mulai muncul rindu, isyq, dan ma’rifah. Hati mulai sensitif, bukan baper, tapi peka. Dunia tidak lagi hanya soal “apa yang saya dapat”, tapi “apa yang bisa saya pikul”.

Nafsu Mutmainnah: Tenang, Tapi Bukan Pensiun

Puncak bagian pertama adalah nafsul mutmainnah, berwarna putih, berlokasi di sirr. Di sini manusia mulai benar-benar tenang. Tawakal, rida, tegas, dan ibadahnya penuh syukur. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tapi karena ia tahu kepada siapa ia bersandar.

Namun tasawuf selalu punya cara membuyarkan rasa puas. Mutmainnah bukan garis finis. Ini baru rest area. Masih ada radhiyah, mardhiyah, kamilah—yang akan dibahas di bagian dua. Karena dalam tasawuf, selesai itu hanya milik kematian, dan bahkan itu pun masih berlanjut.

 Lukisan yang Sebenarnya Cermin

Pada akhirnya, lukisan dalam ngaji ini bukan sekadar gambar titik warna. Ia cermin. Kita mungkin datang untuk belajar tasawuf, tapi pulang dengan perasaan curiga pada diri sendiri: “Jangan-jangan yang sering update itu bukan pencerahan, tapi ammarah yang pakai baju religius.”

Pesan ini sederhana tapi menampar lembut: membersihkan nafsu bukan proyek manusia, melainkan anugerah Allah. Tugas kita bukan merasa suci, tapi terus mau dibersihkan.

Dan jika perjalanan spiritual terasa panjang, jangan khawatir. Bahkan nafsu pun butuh waktu untuk belajar sopan. Yang penting, jangan berhenti zikir—dan jangan lupa, kadang memanjangkan “la” itu lebih sulit daripada memanjangkan daftar kesalahan orang lain.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.