Di zaman sekarang, jika seorang guru mengirim 234 pesan pribadi kepada satu murid selama dua tahun, besar kemungkinan ia akan dipanggil oleh HRD, komite etik, atau minimal grup WhatsApp orang tua murid. Namun di abad ke-18, tindakan serupa justru melahirkan sebuah mahakarya pendidikan. Pelakunya bukan guru les biasa, melainkan Leonhard Euler—manusia yang bagi matematika posisinya mirip Indomie bagi anak kos: selalu relevan, di mana-mana, dan sulit digantikan.
Euler menulis 234 surat kepada seorang putri Jerman
berusia 15 tahun, Friederike Charlotte von Brandenburg-Schwedt. Bukan surat
cinta, bukan pula surat motivasi ala “kamu pasti bisa”, melainkan tutorial
serius tentang geometri, fisika, astronomi, hingga filsafat. Bayangkan
seorang remaja menerima surat berisi penjelasan hukum gerak planet, sementara
remaja abad ke-21 menerima notifikasi: “Video ini mungkin Anda sukai.”
Yang membuat kisah ini makin absurd—dalam arti yang
mengagumkan—adalah kondisi Euler sendiri. Saat itu ia sudah kehilangan
penglihatan di satu mata dan kemudian buta total. Artinya, ketika
kebanyakan orang mengeluh tidak bisa fokus karena baterai ponsel 5%, Euler
justru berpikir, “Baiklah, mari kita jelaskan kosmos kepada seorang putri.”
Produktivitas level dewa, tutorial privat level mitologi.
Lebih jenaka lagi, Euler tidak mengajar dengan gaya “ini
rumus, hafalkan”. Ia menjelaskan sains dengan bahasa yang ramah, seolah
berkata, “Tenang, kita pelan-pelan. Alam semesta ini memang rumit, tapi masih
bisa dijelaskan sambil minum teh.” Hasilnya? Surat-surat itu dibukukan dengan
judul Letters to a German Princess, dan—tanpa niat viral, tanpa
algoritme—menjadi buku populer di Era Pencerahan. Sebuah thread panjang,
tapi versi kertas dan tanpa drama kolom komentar.
Akun @Math_files yang mengangkat kisah ini di media sosial
tampaknya paham betul bahwa matematika butuh sentuhan manusia. Dengan moto
“Life is nonlinear. So handle it using Math,” mereka mengingatkan kita bahwa di
balik simbol-simbol rumit, ada cerita tentang mentoring, kesabaran, dan
keberanian melawan kebiasaan zaman. Mengajarkan fisika kepada perempuan
muda di abad ke-18 bukan hal netral—itu cukup radikal, bahkan tanpa spanduk
demonstrasi.
Tentu, klaim bahwa buku Euler menjadi teks wajib di setiap
akademi perempuan mungkin agak dilebihkan—maklum, gaya media sosial. Namun
esensinya tetap sahih: Euler membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Ia
tidak sekadar mengajar satu putri, tetapi ikut menggeser anggapan tentang siapa
yang “layak” belajar sains.
Dari kisah ini, kita belajar satu hal penting: ilmu
pengetahuan tidak selalu maju karena teori baru, tetapi karena kesediaan
seseorang untuk menjelaskan dengan sabar. Di era digital yang serba cepat,
kisah Euler terasa seperti sindiran halus. Kita punya video berdurasi 30 detik,
tapi kehilangan kesabaran. Euler punya 234 surat tulisan tangan—dan waktu.
Jadi, dari seorang matematikawan buta di abad ke-18 hingga sebuah tweet di abad ke-21, pesannya tetap sama: ilmu yang paling rumit pun seharusnya bisa dibagi. Dan jika Euler bisa menjelaskan tata surya tanpa bisa melihatnya, barangkali kita juga bisa menjelaskan sesuatu—tanpa harus berkata, “Cari saja di Google.”
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.