Jumat, 06 Februari 2026

Kebaikan Sepotong Roti: Ketika Lapar Masih Punya Hati

Di tengah linimasa media sosial yang dipenuhi foto kopi estetik, kutipan motivasi berfont sans-serif, dan debat kusir yang tak kunjung selesai, sebuah unggahan sederhana tiba-tiba muncul membawa kejutan: puisi tentang roti dan lukisan tentang anak miskin bersama anjing. Bukan promo roti gandum bebas gluten, bukan pula iklan makanan anjing—melainkan puisi “La tranche de pain” karya Maurice Carême dan lukisan “Une part de la croûte” karya Augustus Edward Mulready. Dua karya ini seolah berbisik pelan, “Hei, sebelum kamu scroll lagi, ingatlah bahwa kebaikan kadang cuma butuh sepotong roti.”

Puisi Carême tampil dengan gaya yang bersahaja, nyaris seperti catatan harian anak SD yang jujur dan polos. Tokohnya seorang anak, sendirian, lapar, dan hanya punya satu harta berharga: sepotong roti bermentega tebal. Di dunia modern, ini setara dengan punya satu porsi ayam geprek level 10 dan belum makan seharian. Lalu datanglah seekor anjing—makhluk berbulu yang menatap roti itu seolah berkata, “Wahai manusia, engkau pemilik surga dan neraka.” Dan di sinilah drama batin dimulai: makan sendiri atau berbagi?

Yang mengejutkan—dan agak menampar ego orang dewasa—anak itu memilih berbagi. Padahal ia lapar. Padahal rotinya cuma satu. Padahal tidak ada kamera, tidak ada likes, tidak ada caption “berbagi itu indah ”. Namun Carême, dengan nada tenang tapi licik secara moral, menyatakan bahwa tindakan kecil itu “disaksikan oleh seluruh dunia”. Sebuah pengingat halus bahwa kebaikan sejati justru paling lantang ketika tidak dipamerkan.

Lukisan Mulready lalu datang memperjelas situasi, seperti versi visual dari puisi tersebut. Anak lusuh duduk di tangga kota, anjing kecil di sampingnya, dan sepotong roti dibagi dua—tanpa presentasi plating, tanpa saus tambahan. Di belakang mereka, kota terus berjalan: orang-orang sibuk, toko-toko berdiri, dunia berputar tanpa peduli. Ironisnya, justru di sudut termiskin itulah kita menemukan kemewahan yang paling langka: hati yang masih mau memberi.

Detail-detail lukisan itu seolah sengaja mengolok kita. Kupu-kupu di latar? Simbol harapan. Tangga batu yang dingin? Simbol kerasnya hidup. Anak miskin yang berbagi roti? Simbol bahwa empati tidak memerlukan rekening saldo besar. Lukisan ini seperti berkata, “Jika anak ini bisa berbagi, apa alasanmu yang sudah makan tiga kali hari ini?”

Ketika puisi dan lukisan ini disandingkan dalam satu unggahan, efeknya mirip tamparan lembut berlapis estetika. Kita diajak merenung, tapi tidak dengan ceramah. Kita disentuh, tapi tidak dengan khotbah. Pesannya sederhana: kebaikan sering lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari rasa kekurangan yang dipahami bersama. Anak itu tidak berbagi karena ia kaya, tetapi karena ia tahu rasanya lapar—dan memilih tidak sendirian dalam rasa itu.

Di balik semua ini, unggahan tersebut juga seperti sindiran sosial yang santun. Di dunia yang semakin individualistis, di mana kata “copain” (teman) secara etimologis berarti “orang yang berbagi roti”, kita justru sering lupa berbagi—bahkan saat roti kita berlimpah. Anak dan anjing itu, tanpa seminar motivasi atau kelas pengembangan diri, justru mengajarkan definisi persahabatan yang paling dasar.

Akhirnya, puisi Carême, lukisan Mulready, dan unggahan yang mempertemukan keduanya, sama-sama menyampaikan satu kebenaran yang sulit dibantah: kemanusiaan tidak diukur dari seberapa banyak yang kita miliki, tetapi dari seberapa rela kita berbagi—terutama ketika kita sendiri kekurangan. Dan ya, jika sepotong roti saja bisa membuat dunia “menyaksikan”, mungkin kebaikan kecil kita juga lebih berdampak daripada yang kita kira. 🍞🐶
abah-arul.blogspot.com., Feberuari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.