Rabu, 04 Februari 2026

Buku: Teman Setia yang Tidak Pernah Minta Ditraktir

Ada dua jenis orang saat penerbangan delay enam jam di bandara.

Yang pertama: mondar-mandir seperti zombie kehilangan WiFi.
Yang kedua: duduk tenang, senyum tipis, seolah baru saja menemukan pintu rahasia menuju Narnia.

Orang kedua itu biasanya… bawa buku.

Kutipan dari Joaquín Sabina yang dibagikan Paola Medina itu sebenarnya sederhana, tapi efeknya seperti kopi hitam jam tiga pagi: bikin melek jiwa. Sabina bilang buku menyelamatkannya dari kesepian. Dan jujur saja, buku memang satu-satunya teman yang kalau kita cuekin tidak ngambek, tidak kirim chat “kamu berubah ya”, dan tidak pernah minta traktiran.

Bandara: Ujian Kesabaran atau Pintu ke 1000 Kehidupan

Bayangkan suasana bandara saat delay:
Anak kecil menangis, bapak-bapak menghela napas seperti sedang menanggung dosa satu RT, dan pengumuman berbunyi setiap 10 menit hanya untuk bilang, “Mohon menunggu dengan sabar,” yang ironisnya membuat semua orang semakin tidak sabar.

Di tengah kekacauan itu, seorang pembaca membuka buku.

Secara fisik dia masih duduk di kursi plastik dekat colokan rusak.
Tapi secara mental?
Dia sudah di Roma Kuno, ikut debat filsuf berjanggut, atau mungkin sedang menyaksikan drama Yunani yang semua tokohnya punya masalah keluarga tingkat dewa.

Orang lain terjebak di bandara.
Dia terjebak… di dalam petualangan epik.
Dan anehnya, dia justru tidak ingin cepat-cepat “dibebaskan”.

Kesepian Itu Bukan Soal Sendiri, Tapi Soal Kosong

Sabina paham satu hal penting: kesepian itu bukan karena tidak ada orang. Buktinya, bandara penuh manusia—tapi rasanya tetap seperti ruang tunggu eksistensial.

Kesepian itu datang ketika pikiran tidak punya teman ngobrol.

Nah, buku itu cerewet.
Dia ngobrol tentang cinta, perang, pengkhianatan, filsafat, bahkan tentang orang yang berubah jadi serangga raksasa (kita lihat kamu, Kafka 🐛).

Saat membaca, kita sebenarnya sedang menyewa otak orang lain untuk ditumpangi sementara. Kita hidup sebagai detektif, penyair, jenderal perang, atau nenek-nenek pemilik toko roti di kota kecil yang penuh rahasia. Satu buku saja bisa membuat kita mengalami lebih banyak drama daripada grup WhatsApp keluarga saat Lebaran.

Di Era Scroll Tanpa Jiwa

Sekarang ini kita hidup di zaman di mana jempol lebih atletis daripada kaki. Scroll, scroll, scroll… tahu-tahu dua jam hilang dan yang kita dapat cuma video kucing jatuh dari meja (yang tetap kita tonton tiga kali).

Media sosial itu seperti camilan: enak, cepat, tapi lima menit kemudian lapar lagi.
Buku itu seperti makan nasi lengkap lauk: butuh waktu, tapi kenyangnya sampai ke jiwa.

Buku tidak berisik. Tidak ada notifikasi. Tidak ada yang teriak, “Breaking news!” padahal beritanya cuma artis potong poni. Buku hadir pelan, tapi dalam. Dia tidak hanya mengisi waktu—dia mengisi ruang kosong di dalam diri yang sering tidak kita sadari.

Tapi… Buku Bukan Barang Gaib yang Turun dari Langit

Di balik romantisme “buku mengusir kesepian”, ada kenyataan yang tidak boleh di-skip seperti iklan YouTube: tidak semua orang punya akses mudah ke buku. Tidak semua orang punya waktu luang. Tidak semua orang dibiasakan akrab dengan bacaan sejak kecil.

Jadi kalau kita setuju buku adalah teman setia, tugas kita bukan cuma membaca diam-diam sambil terlihat intelek, tapi juga ikut bikin lebih banyak orang bisa kenal “teman” ini. Perpustakaan, donasi buku, ruang baca, atau sekadar membiasakan cerita ke anak—itu semua cara memperluas lingkaran pertemanan… antara manusia dan halaman kertas.

Anti-Kesepian Tanpa Baterai

Akhirnya, Sabina benar. Dengan buku di tangan, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Kita ditemani tokoh-tokoh yang mungkin fiktif, tapi emosinya nyata. Kita diajak masuk ke kehidupan yang mungkin tidak pernah kita jalani, tapi diam-diam membentuk cara kita memahami dunia.

Dan yang paling hebat:
Buku tidak perlu di-charge.
Tidak ada sinyal hilang.
Tidak ada password salah.

Cukup buka halaman pertama—dan tiba-tiba, kursi bandara berubah jadi mesin waktu, kapal bajak laut, atau bangku taman tempat dua tokoh novel jatuh cinta dengan dialog yang terlalu indah untuk terjadi di dunia nyata.

Jadi lain kali hidup terasa sepi, mungkin solusinya bukan cari keramaian…
tapi cari rak buku terdekat.

Karena ternyata, obat kesepian itu bukan selalu seseorang.
Kadang… cuma 300 halaman dan sedikit imajinasi. 📖✨

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.