Minggu, 22 Februari 2026

Gym Otak di Era Scroll: Ketika Kita Lebih Jago Menggeser daripada Mengerti

Di zaman ketika ibu jari lebih terlatih daripada akal budi, kita hidup dalam keyakinan mulia: “Aku membaca, maka aku pintar.” Padahal, kalau jujur, yang kita lakukan sering kali bukan membaca, melainkan olahraga ekstrem bernama scrolling tanpa tujuan. Kita membuka artikel panjang, menatap paragraf pertama, lalu—tanpa dosa—melompat ke bawah, mencari kalimat yang bisa dijadikan status WhatsApp. Selesai. Kita merasa tercerahkan, meski sebenarnya baru membaca judul dan satu kata yang kebetulan tebal.

Seorang pemikir (yang mungkin sedang lelah melihat kita semua) pernah mengingatkan bahwa membaca itu seperti melatih otot. Bukan otot perut—yang tetap saja tidak jadi six-pack meski sudah baca 10 thread motivasi—melainkan “otot kognitif.” Dahulu, membaca adalah aktivitas berat. Kita duduk diam, membuka buku tebal, dan berusaha memahami isi kepala orang lain yang bahkan sudah wafat ratusan tahun lalu. Itu bukan sekadar membaca—itu sparring intelektual.

Sekarang? Kita lebih sering sparring dengan notifikasi.

Dari Membaca Linier ke Membaca “F”—F untuk “Fokus? Tidak.”

Dulu, membaca itu linier. Kita mulai dari awal, lalu setia sampai akhir, seperti hubungan yang sehat. Kita mengikuti alur, memahami argumen, bahkan bersedia tersesat dalam kalimat panjang yang berliku-liku seperti jalan menuju mantan.

Kini, kita mengenal pola baru: F pattern. Mata kita bergerak seperti drone yang kehabisan baterai—melintas sebentar di atas, turun sedikit, lalu jatuh di sisi kiri. Kita tidak lagi membaca; kita mengintai. Kita tidak memahami; kita mengendus.

Teks panjang kini diperlakukan seperti prasmanan: ambil yang enak, tinggalkan yang rumit. Kalau ada paragraf yang lebih dari lima baris, kita anggap itu ujian kesabaran, bukan pengetahuan.

Masalahnya, otak kita mulai beradaptasi. Ia belajar bahwa berpikir lama itu tidak perlu. “Kenapa harus memahami satu buku,” kata otak kita, “kalau bisa membaca 30 judul artikel dalam 10 menit dan tetap merasa pintar?”

Ini seperti merasa atlet hanya karena rajin nonton pertandingan.

Ilusi Literasi: Pintar Membaca, Gagal Mengerti

Lahirlah generasi baru: generasi yang bisa membaca, tapi tidak tahan membaca. Mereka fasih mengeja kata, tapi gagap menghadapi paragraf. Mereka cepat memberi opini, tapi lambat memahami persoalan.

Ini seperti orang yang hafal menu restoran, tapi tidak tahu rasa makanan.

Kita bisa membaca judul berita dan langsung punya pendapat. Kita bisa membaca satu kutipan dan langsung merasa jadi filsuf. Bahkan, kadang kita belum selesai membaca kalimat pertama, tapi sudah siap berdebat di kolom komentar. Ini bukan lagi membaca—ini refleks.

Dan refleks, sebagaimana kita tahu, jarang menghasilkan kebijaksanaan.

Dunia yang Semakin Biner: Antara “Setuju” dan “Salah Kamu!”

Dunia ini sebenarnya rumit. Masalah sosial, politik, bahkan kehidupan pribadi, jarang sekali hitam-putih. Banyak abu-abu. Banyak nuansa. Banyak “tergantung konteks.”

Tapi otak yang terbiasa scroll cepat tidak punya waktu untuk nuansa. Ia ingin kesimpulan instan: benar atau salah, kawan atau lawan, like atau skip.

Akhirnya, diskusi berubah menjadi lomba reaksi. Siapa paling cepat marah, dia menang. Siapa paling keras berpendapat, dia terlihat benar. Padahal, mungkin dia hanya paling cepat membaca setengah paragraf.

Di dunia seperti ini, argumen panjang menjadi barang langka. Yang laku adalah slogan. Yang viral adalah emosi. Yang menang adalah yang paling singkat.

Kalau Plato hidup sekarang, mungkin dia akan disuruh “ringkas jadi thread 5 poin.”

Apakah Kita Harus Kembali ke Zaman Buku?

Tenang. Ini bukan ajakan untuk membakar gadget dan pindah ke hutan sambil membaca novel klasik di bawah pohon kelapa. Teknologi itu bukan musuh. Ia hanya alat.

Masalahnya, kita sering lupa bahwa alat juga membentuk penggunanya.

Kalau kita terus melatih diri dengan membaca cepat, otak kita akan jadi pelari sprint—cepat, tapi tidak tahan lama. Padahal, untuk memahami dunia, kita butuh pelari maraton—lambat, tapi dalam.

Maka mungkin solusi paling sederhana bukan revolusi digital, tapi revolusi kecil: sesekali membaca tanpa loncat. Duduk dengan satu teks. Menyelesaikan satu argumen. Bertahan dalam kebingungan tanpa buru-buru mencari ringkasan.

Anggap saja itu gym otak.

Awalnya berat. Kita akan gelisah. Tangan gatal ingin scroll. Pikiran ingin kabur. Tapi kalau dilatih, pelan-pelan kita akan menemukan kembali satu kemampuan yang mulai langka: menikmati berpikir.

Antara Scroll dan Sadar

Di tengah banjir informasi, tantangan kita bukan kekurangan bacaan, tapi kekurangan kedalaman. Kita tidak kekurangan pengetahuan, tapi kekurangan kesabaran untuk memahaminya.

Kita hidup di zaman di mana semua orang bisa membaca, tapi tidak semua orang mau mengerti.

Maka mungkin pertanyaan terpenting hari ini bukan, “Sudah berapa banyak yang kamu baca?” tetapi, “Sudah berapa lama kamu benar-benar berpikir?”

Karena pada akhirnya, peradaban tidak dibangun oleh orang yang paling cepat membaca, tetapi oleh mereka yang paling lama merenung.

Dan kalau kita terus begini, jangan-jangan di masa depan, manusia tidak lagi dikenal sebagai homo sapiens—makhluk yang berpikir—melainkan homo scrollingensis: makhluk yang pandai menggeser, tapi lupa mengerti.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.