Pernah merasa hidup ini seperti sinetron yang rating-nya jeblok tapi tetap diputar ulang? Tokohnya ganti, setting-nya beda, tapi alurnya kok sama: deg-degan di tempat aman, curiga pada orang baik, dan refleks ingin kabur hanya karena seseorang bilang, “Kita perlu bicara.”
Tenang. Itu bukan karena Anda dramatis. Itu karena otak Anda terlalu rajin
kerja lembur.
Dalam sebuah unggahan yang beredar di media sosial (yang biasanya isinya antara
teori konspirasi dan diskon kopi), muncul penjelasan ilmiah yang justru masuk
akal: otak kita bukan kamera yang merekam dunia apa adanya. Ia lebih mirip
cenayang paranoid yang membaca masa depan memakai kartu tarot dari masa lalu.
I. Otak: Peramal yang Terlalu Percaya Diri
Dulu kita kira otak itu seperti spons—diam, menyerap informasi, lalu
memprosesnya dengan tenang. Ternyata tidak. Otak itu seperti komentator sepak
bola yang sudah menebak skor sebelum pertandingan dimulai.
Teori predictive processing mengatakan bahwa otak terus-menerus membuat tebakan
tentang apa yang akan terjadi. Ia tidak menunggu bukti lengkap. Ia menyusun
hipotesis dulu, baru mencari pembenaran. Efisien? Sangat. Akurat? Kadang.
Misalnya, Anda melihat jas hujan tergantung di pintu dan selama sepersekian
detik mengira itu hantu. Mata Anda tidak salah. Otak Anda hanya berkata,
“Bentuk tinggi gelap tak bergerak? Biasanya film horor. Siaga!”
Bagi nenek moyang kita, salah tebak semak-semak sebagai harimau lebih aman
daripada salah tebak harimau sebagai semak-semak. Jadi evolusi memilih otak
yang cepat panik ketimbang otak yang santai tapi jadi santapan.
Masalahnya, kita sudah tidak hidup di hutan. Tapi otak kita masih merasa rapat
kantor adalah savana.
II. Trauma: File Lama yang Terus Dibuka
Otak hanya 2% dari berat badan, tapi menghabiskan sekitar 20% energi. Ia tidak
punya kuota untuk memperlakukan setiap hari sebagai “episode perdana.” Maka ia
membuat folder: “Pengalaman Menyakitkan 2015,” “Hubungan Gagal 2019,”
“Presentasi Memalukan.”
Setiap ada situasi mirip, walau cuma 3%, otak membuka file lama dan berkata,
“Oh, saya tahu ini. Ending-nya jelek.”
Padahal belum tentu.
Sering kali belum tentu.
Tapi otak bukan tipe yang suka ambil risiko.
Akibatnya, kita merasa sedang menghadapi orang baru, padahal yang kita ajak
bicara sebenarnya adalah bayangan masa lalu. Kita melihat kanvas putih, tapi
memakainya sebagai alas proyektor kenangan.
Hidup jadi seperti PowerPoint lama yang dipresentasikan ulang dengan font
berbeda.
III. Otak Tidak Percaya Motivator
Kabar baiknya: otak bisa berubah.
Kabar buruknya: ia tidak percaya pada poster kutipan motivasi.
Anda bisa berdiri di depan cermin dan berkata, “Saya aman. Saya tenang. Saya
berharga.”
Otak Anda mungkin menjawab, “Sumber datanya mana?”
Otak adalah ilmuwan konservatif. Ia hanya mau mengubah teori jika ada bukti
empiris. Dan bukti itu bukan berupa kata-kata, melainkan pengalaman sensorik
baru.
Langkah kecil ke tempat yang tidak menakutkan.
Percakapan yang hangat dan tidak berujung drama.
Pelukan yang tidak ditarik tiba-tiba.
Rutinitas pagi yang damai dan diulang-ulang sampai otak bosan curiga.
Inilah yang disebut fresh sensory evidence. Data baru untuk memperbarui sistem
operasi lama.
Neuroplastisitas ternyata tidak datang dengan efek petir dan musik latar epik.
Ia datang seperti pembaruan aplikasi: kecil, rutin, kadang tidak terasa—tapi
lama-lama bug berkurang.
IV. Hidup atau Siaran Ulang?
Pertanyaan paling menohok adalah ini:
Apakah kita benar-benar hidup, atau hanya memutar ulang masa lalu dengan aktor
berbeda?
Sering kali kita hadir secara fisik, tapi mental sedang berkunjung ke arsip
kenangan. Duduk di kafe, tapi yang terasa adalah rasa ditinggalkan
bertahun-tahun lalu. Mendengar tawa, tapi yang teringat adalah ejekan lama.
Mindfulness bukan sekadar teknik pernapasan ala video lima menit sebelum tidur.
Ia adalah keberanian untuk memberi kesempatan pada detik ini menjadi sesuatu
yang belum pernah ada sebelumnya.
Untuk merasakan suhu udara hari ini, bukan suhu konflik lama.
Untuk melihat wajah di depan kita sebagai wajahnya sendiri, bukan topeng
seseorang dari masa lalu.
Itu artinya memberi otak kesempatan berkata,
“Hmm. Prediksiku ternyata salah. Dunia tidak selalu seperti dulu.”
V. Rahmat dari Otak yang Terlalu Setia
Jika Anda merasa sulit berubah, sulit percaya, atau sulit lepas dari pola lama,
mungkin masalahnya bukan pada niat Anda. Mungkin Anda hanya memiliki otak yang
terlalu setia pada tugasnya: melindungi Anda.
Ia menyimpan data lama karena dulu data itu menyelamatkan. Ia waspada karena
dulu kewaspadaan itu penting. Ia bukan musuh. Ia satpam yang belum diberi kabar
bahwa gedung sudah direnovasi.
Penyembuhan bukan berarti memecat satpam itu.
Penyembuhan berarti mengajaknya keliling gedung baru, pelan-pelan, sambil
berkata,
“Lihat, sekarang pintunya lebih kuat. Orang-orangnya berbeda. Kita aman.”
Dan suatu hari, tanpa drama, tanpa pengumuman besar, otak akan memperbarui
prediksinya. Detak jantung tidak lagi lomba lari. Dada tidak lagi terasa
seperti alarm kebakaran.
Hidup pun berhenti menjadi episode ulangan.
Ia kembali menjadi siaran langsung—dengan kemungkinan salah, benar, canggung,
indah—yang semuanya benar-benar baru.
Dan untuk pertama kalinya, cenayang di kepala Anda belajar satu hal yang
mengejutkan:
masa depan tidak selalu harus meniru masa lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.