Di sebuah dunia yang begitu memuja layar—dari layar ponsel, layar tablet, hingga layar harapan hidup—tiba-tiba datang kabar dari Swedia yang membuat kita mengucek mata. Negara yang selama ini dianggap sebagai “ustaz digital” pendidikan modern, mendadak seperti santri yang baru sadar: “Eh, kitab itu ternyata penting ya?”
Ya, melalui sebuah tweet viral dari akun @Rainmaker1973, Swedia memutuskan menggelontorkan dana lebih dari €100 juta atau sekitar 1.998 triliun rupiah untuk mengembalikan buku cetak ke ruang kelas. Tablet yang sebelumnya dielu-elukan kini seperti mantan: masih ada, tapi posisinya sudah tidak utama lagi.
Plot twist pendidikan, kalau kata anak sekarang.
Dari “Digital First” ke “Paper Comeback Tour”
Dulu, Swedia adalah duta besar dunia untuk konsep digital-first
learning. Anak-anak dibekali tablet sejak dini, seolah-olah masa depan
ditentukan oleh seberapa cepat jari mereka bisa swipe, bukan seberapa dalam
mereka bisa berpikir.
Namun, setelah bertahun-tahun hidup bersama layar, Swedia
tampaknya mengalami fase introspeksi nasional. Mereka mulai bertanya:
“Kenapa anak-anak kita bisa fokus 3 jam main game, tapi 3
menit baca buku sudah seperti menjalani ujian hidup?”
Jawabannya sederhana: layar itu seperti warung kopi—banyak
godaan. Mau baca satu paragraf, tiba-tiba muncul notifikasi. Mau belajar
sejarah, malah terseret ke video kucing yang “bersejarah”.
Ilmu Pengetahuan vs Scroll Tanpa Akhir
Secara ilmiah, keputusan ini tidak datang dari mimpi
semalam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca di layar membuat otak
bekerja seperti sedang dikejar deadline: cepat, dangkal, dan penuh distraksi.
Sebaliknya, membaca buku cetak itu seperti jalan santai di
taman: pelan, dalam, dan—yang paling penting—tidak ada iklan tiba-tiba muncul
di tengah paragraf.
Buku tidak pernah bilang:
“Lanjutkan membaca setelah menonton 2 iklan.”
Ini keunggulan yang sulit ditandingi teknologi mana pun
Drama yang Terjadi: “Tablet Disalahkan!”
Namun, seperti biasa dalam kehidupan, kita suka mencari
kambing hitam. Dalam kasus ini, tablet hampir dijadikan tersangka utama
penurunan kualitas pendidikan.
Padahal, kalau mau jujur, masalahnya tidak sesederhana itu.
Ada pandemi, ada perubahan sosial, ada tantangan integrasi, dan ada juga faktor
klasik: malas belajar yang lintas zaman.
Dari zaman papan tulis hingga layar sentuh, satu hal tetap
konstan:
“PR tetap terasa berat.”
Jadi, menyalahkan tablet sepenuhnya itu seperti menyalahkan sendok karena kita makan terlalu banyak. Sendoknya cuma alat, bukan pelaku utama.
Swedia Tidak Mundur, Hanya “Revisi Strategi”
Yang menarik, Swedia sebenarnya tidak benar-benar
meninggalkan teknologi. Mereka hanya melakukan apa yang dalam bahasa halus
disebut “rekalibrasi”, dan dalam bahasa jujur disebut:
“Kayaknya kita kebablasan deh.”
Buku kembali jadi fondasi, sementara teknologi diturunkan
pangkatnya menjadi asisten—bukan lagi bos besar.
Ini seperti hubungan kerja yang sehat: teknologi membantu, tapi tidak mengambil alih seluruh kehidupan.
Pelajaran untuk Indonesia: Jangan Terlalu Cepat Jadi
Futuristik
Bagi Indonesia, yang sedang semangat-semangatnya
digitalisasi sekolah, kisah Swedia ini terasa seperti pesan dari masa depan:
“Tenang dulu, jangan semua anak dikasih tablet sebelum dia
bisa fokus membaca satu halaman.”
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang
paling canggih, tapi siapa yang paling memahami cara manusia belajar.
Dan manusia, sejauh ini, masih belum berevolusi menjadi makhluk yang bisa fokus sambil melihat notifikasi 17 kali per menit.
Buku Itu Boring, Tapi Setia
Swedia mengajarkan kita satu hal penting: kemajuan bukan
berarti meninggalkan masa lalu, tapi memilih yang terbaik dari keduanya.
Buku mungkin tidak interaktif, tidak berwarna-warni, dan
tidak bisa di-zoom. Tapi buku punya satu keunggulan yang tidak dimiliki
teknologi modern:
Ia tidak pernah mengalihkan perhatian kita dari berpikir.
Di dunia yang penuh distraksi, itu sudah seperti superpower.
Jadi mungkin, di masa depan, anak-anak akan berkata:
Dan Swedia, dengan segala kecanggihannya, akhirnya mengakui:
“Kadang, untuk maju, kita perlu membuka… halaman lama.”
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.