Sabtu, 14 Februari 2026

Ketika Swedia “Tobat Digital” dan Buku Kembali Jadi Selebriti Kelas

Di sebuah dunia yang begitu memuja layar—dari layar ponsel, layar tablet, hingga layar harapan hidup—tiba-tiba datang kabar dari Swedia yang membuat kita mengucek mata. Negara yang selama ini dianggap sebagai “ustaz digital” pendidikan modern, mendadak seperti santri yang baru sadar: “Eh, kitab itu ternyata penting ya?”

Ya, melalui sebuah tweet viral dari akun @Rainmaker1973, Swedia memutuskan menggelontorkan dana lebih dari €100 juta atau sekitar 1.998 triliun rupiah  untuk mengembalikan buku cetak ke ruang kelas. Tablet yang sebelumnya dielu-elukan kini seperti mantan: masih ada, tapi posisinya sudah tidak utama lagi.

Plot twist pendidikan, kalau kata anak sekarang.

Dari “Digital First” ke “Paper Comeback Tour”

Dulu, Swedia adalah duta besar dunia untuk konsep digital-first learning. Anak-anak dibekali tablet sejak dini, seolah-olah masa depan ditentukan oleh seberapa cepat jari mereka bisa swipe, bukan seberapa dalam mereka bisa berpikir.

Namun, setelah bertahun-tahun hidup bersama layar, Swedia tampaknya mengalami fase introspeksi nasional. Mereka mulai bertanya:

“Kenapa anak-anak kita bisa fokus 3 jam main game, tapi 3 menit baca buku sudah seperti menjalani ujian hidup?”

Jawabannya sederhana: layar itu seperti warung kopi—banyak godaan. Mau baca satu paragraf, tiba-tiba muncul notifikasi. Mau belajar sejarah, malah terseret ke video kucing yang “bersejarah”.

Akhirnya, pemerintah Swedia mengambil langkah drastis: kembalikan buku!
Karena ternyata, buku itu seperti teman lama—diam, setia, dan tidak pernah minta notifikasi.

Ilmu Pengetahuan vs Scroll Tanpa Akhir

Secara ilmiah, keputusan ini tidak datang dari mimpi semalam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca di layar membuat otak bekerja seperti sedang dikejar deadline: cepat, dangkal, dan penuh distraksi.

Sebaliknya, membaca buku cetak itu seperti jalan santai di taman: pelan, dalam, dan—yang paling penting—tidak ada iklan tiba-tiba muncul di tengah paragraf.

Buku tidak pernah bilang:

“Lanjutkan membaca setelah menonton 2 iklan.”

Ini keunggulan yang sulit ditandingi teknologi mana pun 

Drama yang Terjadi: “Tablet Disalahkan!”

Namun, seperti biasa dalam kehidupan, kita suka mencari kambing hitam. Dalam kasus ini, tablet hampir dijadikan tersangka utama penurunan kualitas pendidikan.

Padahal, kalau mau jujur, masalahnya tidak sesederhana itu. Ada pandemi, ada perubahan sosial, ada tantangan integrasi, dan ada juga faktor klasik: malas belajar yang lintas zaman.

Dari zaman papan tulis hingga layar sentuh, satu hal tetap konstan:

“PR tetap terasa berat.”

Jadi, menyalahkan tablet sepenuhnya itu seperti menyalahkan sendok karena kita makan terlalu banyak. Sendoknya cuma alat, bukan pelaku utama.

Swedia Tidak Mundur, Hanya “Revisi Strategi”

Yang menarik, Swedia sebenarnya tidak benar-benar meninggalkan teknologi. Mereka hanya melakukan apa yang dalam bahasa halus disebut “rekalibrasi”, dan dalam bahasa jujur disebut:

“Kayaknya kita kebablasan deh.”

Buku kembali jadi fondasi, sementara teknologi diturunkan pangkatnya menjadi asisten—bukan lagi bos besar.

Ini seperti hubungan kerja yang sehat: teknologi membantu, tapi tidak mengambil alih seluruh kehidupan.

Pelajaran untuk Indonesia: Jangan Terlalu Cepat Jadi Futuristik

Bagi Indonesia, yang sedang semangat-semangatnya digitalisasi sekolah, kisah Swedia ini terasa seperti pesan dari masa depan:

“Tenang dulu, jangan semua anak dikasih tablet sebelum dia bisa fokus membaca satu halaman.”

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang paling canggih, tapi siapa yang paling memahami cara manusia belajar.

Dan manusia, sejauh ini, masih belum berevolusi menjadi makhluk yang bisa fokus sambil melihat notifikasi 17 kali per menit.

Buku Itu Boring, Tapi Setia

Swedia mengajarkan kita satu hal penting: kemajuan bukan berarti meninggalkan masa lalu, tapi memilih yang terbaik dari keduanya.

Buku mungkin tidak interaktif, tidak berwarna-warni, dan tidak bisa di-zoom. Tapi buku punya satu keunggulan yang tidak dimiliki teknologi modern:

Ia tidak pernah mengalihkan perhatian kita dari berpikir.

Di dunia yang penuh distraksi, itu sudah seperti superpower.

Jadi mungkin, di masa depan, anak-anak akan berkata:

“Dulu, sebelum AI dan VR, ada benda ajaib bernama buku.
Dan anehnya… dari situlah kita benar-benar belajar berpikir.”

Dan Swedia, dengan segala kecanggihannya, akhirnya mengakui:

“Kadang, untuk maju, kita perlu membuka… halaman lama.”

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.