Jumat, 13 Februari 2026

Tiga Wajah Kekuasaan: Antara Dompet, Negara, dan Siapa yang Sebenarnya Bayar Tagihan

(Catatan Santai Setelah Membaca Cuitan Panjang yang Terasa Seperti Skripsi Geopolitik)

Di zaman ketika orang lebih sering membaca caption daripada kitab, muncul satu cuitan panjang dari Angelo Giuliano yang panjangnya hampir menyaingi doa qunut. Bedanya, ini bukan permohonan kepada Tuhan, melainkan semacam doa agar dunia berhenti dikuasai oleh orang-orang yang rekening banknya lebih tebal daripada kitab undang-undang.

Cuitan itu mencoba menjelaskan satu hal sederhana yang sebenarnya rumit: siapa yang benar-benar berkuasa di dunia ini—negara, rakyat, atau... dompet?

Dan seperti biasa, jawabannya tidak sederhana. Bahkan cenderung seperti diskon di marketplace: terlihat jelas di depan, tapi syarat dan ketentuannya ada di bawah, kecil, dan bikin pusing.

Amerika: Demokrasi atau Marketplace Premium?

Mari kita mulai dari Amerika Serikat, negeri yang sering disebut sebagai “tanah kebebasan,” meskipun kebebasan itu kadang tampak seperti paket berlangganan—gratis di awal, tapi fitur lengkapnya berbayar.

Dalam versi Giuliano, Amerika bukan sekadar negara demokrasi. Ia lebih mirip “startup politik” di mana investor (alias miliarder) punya saham besar dalam arah kebijakan.

Ada fenomena yang disebut revolving door—pintu putar. Tapi ini bukan pintu mall. Ini pintu karier: dari pejabat negara masuk ke perusahaan, lalu balik lagi ke negara, seperti orang yang lupa bawa dompet dan harus bolak-balik rumah.

Di sini, politisi dan pebisnis tidak bertengkar. Mereka makan malam bersama, tertawa bersama, dan mungkin kadang saling kirim meme.

Bagi rakyat biasa, ini seperti menonton sinetron: kita tahu ceritanya agak janggal, tapi tetap ditonton karena tidak ada channel lain.

Rusia: Dari Oligarki Bebas ke Oligarki Berizin

Berikutnya, kita mampir ke Rusia, yang dalam cerita ini tampil seperti film dengan dua season.

Season pertama: era Boris Yeltsin.
Ini adalah masa ketika oligarki tumbuh subur seperti rumput liar setelah hujan. Semua orang kaya, tapi negara seperti tamu di rumah sendiri.

Season kedua: era Vladimir Putin.
Di sini, plot twist terjadi.

Oligarki tidak dihapus. Mereka hanya di-upgrade statusnya: dari “bos bebas” menjadi “bos dengan pengawasan.”

Kalau dulu mereka bebas, sekarang mereka bebas... selama tidak lupa siapa yang pegang remote.

Giuliano menyebut mereka seperti berada dalam “sangkar emas.”
Saya lebih suka menyebutnya: “VIP room dengan CCTV.”

Mereka tetap kaya. Kapal pesiar tetap ada. Rumah di London tetap berdiri.
Hanya saja, sekarang ada satu aturan sederhana:

“Silakan kaya, asal jangan merasa lebih penting dari negara.”

China: Negara sebagai Admin Grup

Lalu kita sampai pada bintang utama narasi ini: China.

Dalam versi Giuliano, China adalah grup WhatsApp yang adminnya tidak bisa di-remove.

Di sini, negara bukan sekadar pemain. Negara adalah wasit, penonton, sekaligus pemilik lapangan.

Pengusaha boleh kaya—bahkan sangat kaya—tapi tidak boleh jadi “influencer politik.”

Kalau di Amerika, miliarder bisa berbisik ke politisi.
Di China, yang berbisik itu negara—dan semua orang harus mendengarkan.

Kasus Jack Ma sering dijadikan contoh.
Ketika ia terlalu vokal, negara tidak berdebat panjang. Tidak ada talk show. Tidak ada polling.

Yang ada hanya satu pesan halus:

“Istirahat dulu, ya.”

Dan tiba-tiba semua orang jadi lebih hemat bicara.

Di China, oligarki bukan tidak ada.
Ia hanya tidak diberi kesempatan untuk percaya diri.

Membalik Narasi: Siapa yang Sebenarnya Mengontrol?

Giuliano mencoba membalik narasi global.

Katanya, Barat itu demokratis tapi dikuasai uang.
Sementara Timur itu otoriter tapi lebih “bersih.”

Ini seperti perdebatan klasik:

  • Mau kebebasan tapi berisik?
  • Atau ketertiban tapi sunyi?

Masalahnya, hidup tidak sesederhana memilih menu paket.

Di Amerika, uang memang punya suara.
Tapi rakyat masih bisa protes, memilih, bahkan mengganti pemimpin.

Di Rusia, kekuasaan lebih rapi.
Tapi rapi bukan berarti semua orang boleh mengatur.

Di China, sistemnya efisien.
Tapi efisien sering kali berarti: tidak ada ruang untuk “tidak setuju.” 

Kita Semua Punya “Tuan” Masing-Masing

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan lagi “mana yang paling benar,” tapi:

“Siapa yang sebenarnya kita biarkan memegang kendali?”

Apakah itu uang?
Apakah itu negara?
Atau kombinasi keduanya yang berpura-pura berbeda?

Karena jujur saja, dalam banyak kasus, rakyat sering kali hanya seperti pelanggan Wi-Fi:

  • Bayar tiap bulan,
  • Kadang lemot,
  • Tapi tetap dipakai karena tidak ada pilihan lain.

Cuitan Giuliano, dengan segala puitika dan dramanya, pada dasarnya sedang menawarkan satu ide sederhana:

“Bagaimana kalau negara saja yang pegang semua kendali?”

Kedengarannya aman.
Seperti menyerahkan dompet ke satpam karena takut copet.

Masalahnya, kalau satpamnya baik, kita selamat.
Kalau tidak… kita bahkan tidak tahu ke mana harus mengadu.

Dan di situlah ironi terbesar kekuasaan:

Kita selalu ingin dikendalikan oleh yang “baik,”
padahal sejarah berulang kali mengingatkan bahwa “yang baik” itu… sering datang tanpa garansi.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.