(Catatan Santai Setelah Membaca Cuitan Panjang yang Terasa Seperti Skripsi Geopolitik)
Di zaman ketika orang lebih sering membaca caption daripada
kitab, muncul satu cuitan panjang dari Angelo Giuliano yang panjangnya hampir
menyaingi doa qunut. Bedanya, ini bukan permohonan kepada Tuhan, melainkan
semacam doa agar dunia berhenti dikuasai oleh orang-orang yang rekening banknya
lebih tebal daripada kitab undang-undang.
Cuitan itu mencoba menjelaskan satu hal sederhana yang
sebenarnya rumit: siapa yang benar-benar berkuasa di dunia ini—negara, rakyat,
atau... dompet?
Dan seperti biasa, jawabannya tidak sederhana. Bahkan cenderung seperti diskon di marketplace: terlihat jelas di depan, tapi syarat dan ketentuannya ada di bawah, kecil, dan bikin pusing.
Amerika: Demokrasi atau Marketplace Premium?
Mari kita mulai dari Amerika Serikat, negeri yang sering
disebut sebagai “tanah kebebasan,” meskipun kebebasan itu kadang tampak seperti
paket berlangganan—gratis di awal, tapi fitur lengkapnya berbayar.
Dalam versi Giuliano, Amerika bukan sekadar negara
demokrasi. Ia lebih mirip “startup politik” di mana investor (alias miliarder)
punya saham besar dalam arah kebijakan.
Ada fenomena yang disebut revolving door—pintu putar.
Tapi ini bukan pintu mall. Ini pintu karier: dari pejabat negara masuk ke
perusahaan, lalu balik lagi ke negara, seperti orang yang lupa bawa dompet dan
harus bolak-balik rumah.
Di sini, politisi dan pebisnis tidak bertengkar. Mereka
makan malam bersama, tertawa bersama, dan mungkin kadang saling kirim meme.
Bagi rakyat biasa, ini seperti menonton sinetron: kita tahu ceritanya agak janggal, tapi tetap ditonton karena tidak ada channel lain.
Rusia: Dari Oligarki Bebas ke Oligarki Berizin
Berikutnya, kita mampir ke Rusia, yang dalam cerita ini
tampil seperti film dengan dua season.
Oligarki tidak dihapus. Mereka hanya di-upgrade statusnya:
dari “bos bebas” menjadi “bos dengan pengawasan.”
Kalau dulu mereka bebas, sekarang mereka bebas... selama
tidak lupa siapa yang pegang remote.
“Silakan kaya, asal jangan merasa lebih penting dari negara.”
China: Negara sebagai Admin Grup
Lalu kita sampai pada bintang utama narasi ini: China.
Dalam versi Giuliano, China adalah grup WhatsApp yang
adminnya tidak bisa di-remove.
Di sini, negara bukan sekadar pemain. Negara adalah wasit,
penonton, sekaligus pemilik lapangan.
Pengusaha boleh kaya—bahkan sangat kaya—tapi tidak boleh
jadi “influencer politik.”
Yang ada hanya satu pesan halus:
“Istirahat dulu, ya.”
Dan tiba-tiba semua orang jadi lebih hemat bicara.
Membalik Narasi: Siapa yang Sebenarnya Mengontrol?
Giuliano mencoba membalik narasi global.
Ini seperti perdebatan klasik:
- Mau
kebebasan tapi berisik?
- Atau
ketertiban tapi sunyi?
Masalahnya, hidup tidak sesederhana memilih menu paket.
Kita Semua Punya “Tuan” Masing-Masing
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan lagi “mana yang
paling benar,” tapi:
“Siapa yang sebenarnya kita biarkan memegang kendali?”
Karena jujur saja, dalam banyak kasus, rakyat sering kali
hanya seperti pelanggan Wi-Fi:
- Bayar
tiap bulan,
- Kadang
lemot,
- Tapi
tetap dipakai karena tidak ada pilihan lain.
Cuitan Giuliano, dengan segala puitika dan dramanya, pada
dasarnya sedang menawarkan satu ide sederhana:
“Bagaimana kalau negara saja yang pegang semua kendali?”
Dan di situlah ironi terbesar kekuasaan:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.