Rabu, 11 Februari 2026

Bayi: Auditor Moral Berpopok

Di tengah dunia orang dewasa yang penuh drama—rapat yang tak selesai-selesai, grup WhatsApp yang lebih berisik dari pasar, dan resolusi hidup yang selalu “mulai Senin”—hadirlah satu makhluk mungil yang sering diremehkan: bayi. Ia terlihat polos, pipinya tembam, kerjanya cuma minum, tidur, dan… yah, urusan domestik yang aromanya cukup mengguncang iman. Namun jangan tertipu. Di balik gumaman “agu-agu”-nya, tersembunyi seorang pengamat ulung. Bayi bukan makhluk kosong. Ia adalah auditor moral dengan popok sebagai seragam kebesaran.

Orang dewasa sering merasa aman di hadapan bayi. “Ah, dia belum ngerti apa-apa.” Kalimat ini biasanya diucapkan sambil memasang wajah manis palsu, padahal lima menit sebelumnya baru saja menggerutu karena macet. Kita kira bayi itu seperti tembok—diam, tak bereaksi. Padahal, menurut berbagai penelitian psikologi perkembangan, bayi sudah memiliki semacam “kompas moral” dasar. Mereka cenderung menyukai tokoh yang menolong dan menghindari yang menghalangi. Artinya, bahkan sebelum bisa mengeja “ma-ma”, mereka sudah bisa membedakan “orang baik” dan “orang rese.”

Coba perhatikan: ada orang yang baru masuk ruangan, bayi langsung tersenyum lebar seolah menemukan investor masa depan. Tapi pada orang lain, ia mendadak manyun, lalu menangis dramatis seperti aktor sinetron jam tujuh malam. Orang dewasa biasanya tersinggung. “Lho, kok sama saya nangis?” Padahal mungkin bayi itu cuma sedang berkata dalam bahasa batin, “Maaf, aura Anda butuh upgrade.”

Bayi adalah detektor keaslian paling canggih. Ia tidak peduli jabatan, gelar, atau jumlah pengikut media sosial Anda. Anda bisa jadi manajer, dosen, atau ketua panitia kurban. Tapi jika hati Anda sedang panas, nada suara Anda tegang, dan senyum Anda sekadar tempelan, bayi akan menangkapnya. Mereka membaca mikro-ekspresi, getaran suara, dan sentuhan tangan seperti ilmuwan membaca grafik saham. Bedanya, ilmuwan butuh data. Bayi cukup satu lirikan.

Lucunya, kita yang sudah dewasa justru sering gagal membaca sesama manusia. Kita tertipu kemasan, terpukau pencitraan, dan terkadang terjebak basa-basi. Bayi? Tidak. Ia hidup di level kejujuran mentah. Jika ia nyaman, ia akan rebah manja. Jika tidak, ia akan protes tanpa diplomasi. Tangisannya adalah “press release” paling jujur yang pernah ada.

Di sinilah letak filsafatnya: bayi adalah cermin berjalan. Di hadapannya, kita tak bisa sepenuhnya berakting. Kita boleh saja berpura-pura sabar di depan kamera, tetapi ketika menggendong bayi dengan hati kesal, ia tahu. Dan ia akan memberi “review” instan—biasanya dalam bentuk tangisan bernada tinggi yang sanggup menggetarkan jendela.

Kalimat sederhana, “Mereka sedang belajar siapa diri kita yang sebenarnya,” terasa seperti teguran halus. Bayi tidak hanya belajar menyebut kata pertama. Ia sedang merekam dunia. Setiap senyum tulus, setiap pelukan hangat, juga setiap gerutuan dan bentakan, masuk ke dalam arsip batinnya. Kita mungkin lupa pernah bersikap kasar di hari yang melelahkan. Tapi bagi bayi, momen itu adalah satu bab penting dalam buku pertamanya tentang manusia.

Ironisnya, justru makhluk yang belum bisa berbicara itu mengajarkan kita tentang integritas. Ia memaksa kita untuk selaras antara wajah dan hati. Tidak ada gunanya berkata lembut jika batin kita sedang menyumpah dalam diam. Bayi seakan berbisik, “Tolong jadi versi asli Anda. Saya bisa membedakan.”

Maka, memahami bayi sebagai makhluk yang cerdas secara emosional bukan hanya soal teknik pengasuhan. Ini soal introspeksi. Setiap kali kita menatap mata beningnya, sebenarnya kita sedang bercermin. Dan cermin itu tidak bisa disuap, tidak bisa diyakinkan dengan alasan, tidak bisa dibohongi dengan pencitraan.

Pada akhirnya, bayi adalah saksi bisu yang paling jujur. Dalam diamnya, ia seperti berkata, “Saya belum bisa bicara, tapi saya tahu.” Dan mungkin, di dunia yang terlalu ramai oleh kepura-puraan, kita semua butuh satu auditor kecil.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.