Di zaman ketika manusia bisa memesan kopi lewat aplikasi, jatuh cinta lewat algoritma, dan bahkan merasa lelah lewat notifikasi, kita dikejutkan oleh sebuah kabar yang nyaris terdengar seperti lelucon: umur panjang ternyata tidak ditemukan di startup kesehatan berbasis AI, melainkan di pangkuan nenek—lebih tepatnya, di keranjang rajutannya.
Sebuah studi dari University of Helsinki menemukan bahwa perempuan yang rajin melakukan apa yang secara penuh kasih disebut sebagai “hobi nenek”—merajut, menjahit, menyulam, dan berkebun—bisa hidup hingga delapan tahun lebih lama.
Delapan tahun.
Itu bukan sekadar bonus waktu; itu cukup untuk menamatkan satu serial drama panjang, mencoba diet yang gagal tiga kali, dan tetap punya waktu untuk menyesalinya.
Ketika Jarum Rajut Mengalahkan Meditasi Digital
Mari kita jujur. Di era modern, untuk menenangkan diri, kita biasanya membuka aplikasi meditasi, memakai headphone mahal, lalu mendengarkan suara seseorang berbisik:
“Tarik napas… lepaskan stres…”
Lima detik kemudian, kita malah memikirkan cicilan, deadline, dan kenapa mantan kita masih bahagia.
Bandingkan dengan nenek.
Ia duduk, mengambil benang, dan mulai merajut. Tidak ada aplikasi. Tidak ada notifikasi. Hanya gerakan sederhana: masuk, tarik, simpul, ulangi.
Ajaibnya, gerakan repetitif ini secara ilmiah menurunkan hormon stres seperti kortisol. Jadi, sementara kita sibuk “mencari ketenangan” lewat teknologi, nenek sudah lebih dulu menemukannya—tanpa Wi-Fi, tanpa langganan premium.
Jika meditasi modern adalah guided, maka merajut adalah guided by pengalaman hidup dan sedikit kesabaran.
Kebahagiaan yang Bisa Dipakai (dan Dipamerkan)
Salah satu masalah terbesar manusia modern adalah kita sering merasa tidak menghasilkan apa-apa—meskipun sibuk sepanjang hari.
Kita mengetik, mengklik, menggulir, dan pada akhirnya… ya, kita hanya memindahkan data dari satu layar ke layar lain.
Nenek tidak punya masalah itu.
Ia mulai dari sehelai benang, dan beberapa jam kemudian—boom—sebuah syal.
Syal itu nyata. Bisa disentuh. Bisa dipakai. Bahkan bisa diwariskan, lengkap dengan cerita:
“Ini dibuat waktu listrik mati tiga hari.”
Bayangkan kepuasan itu. Kita di dunia modern mendapatkan dopamine dari notifikasi “like”, sementara nenek mendapatkan kepuasan dari sesuatu yang benar-benar ada.
Dan lebih hebat lagi, kalau hasil rajutannya jelek, nenek tinggal bilang:
“Ini motif baru.”
Selesai. Percaya diri tetap utuh.
Gym untuk Otak (Tanpa Membership dan Tanpa Selfie)
Kita hidup di zaman di mana orang pergi ke gym bukan hanya untuk sehat, tapi juga untuk foto.
Namun, nenek melakukan “latihan” yang jauh lebih kompleks tanpa perlu cermin besar.
Merajut butuh pola. Menyulam butuh ketelitian. Berkebun butuh strategi menghadapi hama, cuaca, dan tetangga yang suka memetik tanpa izin.
Semua itu melatih otak.
Sementara kita sibuk melatih jempol untuk scrolling, nenek melatih memori, fokus, dan kesabaran.
Jika otak adalah otot, maka nenek sudah melakukan full-body workout sejak sebelum istilah itu populer.
Terapi Tanah vs Terapi Timeline
Ada satu lagi rahasia besar dari “hobi nenek”: hubungan dengan dunia nyata.
Berkebun, misalnya, mengharuskan kita menyentuh tanah, memahami musim, dan menerima satu fakta pahit kehidupan:
Tidak semua yang kita tanam akan tumbuh.
Sebuah pelajaran eksistensial yang dalam.
Bandingkan dengan timeline media sosial, di mana semua orang tampak sukses, bahagia, dan punya tanaman yang selalu berbunga.
Di kebun, realitas lebih jujur. Dan justru karena itu, ia lebih menenangkan.
Kekalahan Telak Peradaban Digital
Temuan dari University of Helsinki ini secara tidak langsung adalah pukulan halus bagi peradaban modern.
Kita membangun teknologi untuk membuat hidup lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien.
Namun ternyata, untuk hidup lebih lama dan lebih bahagia, kita justru perlu melakukan sesuatu yang:
-
Lambat
-
Sederhana
-
Berulang
-
Dan… sedikit membosankan
Dengan kata lain, kita harus menjadi sedikit seperti nenek.
Kesimpulan: Menuju Revolusi Nenekisme
Mungkin sudah saatnya kita mempertimbangkan sebuah gerakan baru:
Nenekisme.
Sebuah filosofi hidup yang percaya bahwa kebahagiaan tidak ditemukan di layar, melainkan di tangan yang sibuk mencipta.
Bahwa ketenangan tidak datang dari notifikasi yang dimatikan, tetapi dari benang yang disimpul.
Dan bahwa umur panjang bukan hasil dari biohacking yang rumit, melainkan dari kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan penuh kesabaran.
Jadi, jika suatu hari Anda merasa hidup terlalu cepat, terlalu bising, dan terlalu melelahkan—cobalah bertanya pada diri sendiri:
“Apa yang akan dilakukan nenek?”
Kemungkinan besar, jawabannya bukan membuka aplikasi.
Melainkan… mengambil benang.
Dan mungkin, tanpa kita sadari, merajut sedikit demi sedikit umur panjang kita sendiri.
abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.