Sabtu, 07 Februari 2026

AI dan Utang Kognitif: Ketika Otak Mulai Cicil, Lalu Galbay

Di zaman serba AI ini, menulis esai terasa seperti naik ojek online: cepat, praktis, dan kadang kita lupa jalan pulang. Tinggal ketik perintah, cling!—jadilah paragraf rapi, penuh istilah akademik, dan tampak lebih pintar dari penulisnya sendiri. Namun, sebuah studi dari MIT Media Lab tahun 2025 datang membawa kabar kurang sedap: ternyata, di balik kemudahan itu, otak kita diam-diam sedang mengajukan pinjaman. Namanya keren: utang kognitif.

Konsepnya sederhana tapi menohok. Setiap kali kita menyerahkan proses berpikir kepada AI—mulai dari menyusun argumen, memilih kata, sampai menyimpulkan—otak kita seperti berkata, “Sudahlah, biar mesin saja yang mikir.” Awalnya enak. Tapi lama-lama, otak yang jarang dipakai itu mulai ngambek. Studi ini bahkan menunjukkan penurunan konektivitas otak hampir setengahnya. Ibarat otot, otak yang jarang diajak kerja bukan jadi santai, tapi malah kempes.

Yang lebih tragis (dan agak lucu, kalau bukan kita korbannya), sebagian besar peserta penelitian tidak mampu mengingat satu kalimat pun dari esai yang baru saja mereka “tulis” dengan bantuan AI. Esainya ada, nilainya mungkin ada, tapi ingatannya nihil. Ini seperti memesan makanan mahal, memotretnya untuk Instagram, lalu lupa rasanya karena ternyata yang makan adalah tetangga.

Paradoks besar pun muncul. AI memang efisien—pekerjaan selesai lebih cepat, energi mental lebih hemat. Tapi hemat di sini seperti hemat belajar: yang disimpan bukan uang, melainkan pemahaman. Para pendidik menyebut hasilnya rapi tapi hambar: esai yang benar, namun terasa dingin, robotik, dan tak punya rasa kepemilikan. Seolah-olah penulisnya ada, tapi pikirannya sedang cuti.

Untungnya, studi ini tidak serta-merta menyuruh kita mematikan Wi-Fi dan kembali menulis dengan pena bulu angsa. Justru, solusi terbaik datang dari kelompok yang menggunakan strategi cerdas: Brain-to-LLM. Mereka berpikir dulu, menulis dulu, lalu memanggil AI sebagai editor, bukan sebagai dukun peramal ide. Hasilnya? Otak tetap aktif, ingatan tetap lengket, dan esai tetap bernyawa. AI pun bahagia, karena akhirnya diperlakukan sebagai asisten, bukan otak cadangan.

Pesan besarnya sederhana tapi penting: AI itu pelayan yang sangat rajin, tapi majikan yang buruk. Kalau semua urusan berpikir kita serahkan padanya, jangan kaget kalau suatu hari kita punya banyak output tapi minim insight. Utang kognitif ini bukan ditagih oleh bank, melainkan oleh realitas—saat kita diminta berpikir mandiri dan otak kita malah loading.

Maka, gunakan AI dengan niat yang waras. Biarkan ia membantu saat kita buntu, mempercepat yang mekanis, dan merapikan yang semrawut. Tapi untuk urusan inti—bertanya, meragukan, menyusun makna—biarlah otak kita tetap bekerja. Sebab masa depan yang benar-benar cerdas bukanlah masa depan di mana manusia digantikan AI, melainkan masa depan di mana manusia masih ingat cara berpikir… tanpa harus bertanya dulu ke ChatGPT.

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.