Selasa, 03 Februari 2026

Melangkah dalam Cahaya: Perjalanan Rohani yang Ternyata Bukan Paket Wisata Instan

Di zaman ketika kesuksesan sering diukur dari jumlah followers, saldo rekening, dan seberapa sering kita bilang “lagi sibuk banget nih”, jiwa manusia diam-diam kayak tanaman hias yang lupa disiram: layu tapi tetap difoto buat Instagram. Nah, di tengah kegersangan batin ini, nasihat sang kyai datang seperti air zamzam di tengah gurun—bedanya, ini bukan buat diminum doang, tapi buat nyiram ego juga.

Masalah Utama: Hati Kita Terlalu Ramai Penghuni

Kyai dengan lembut tapi menusuk mengingatkan bahwa yang bikin kita jauh dari Allah itu bukan jarak geografis (Allah nggak pindah kok), tapi jarak ego. Hati kita sering penuh oleh makhluk-makhluk kecil bernama:
“Pengen dipuji”,
“Pengen dianggap alim”,
“Pengen kelihatan paling sabar padahal mendidih”.

Ibarat mau nyalain lampu, tapi stopkontaknya penuh colokan duniawi: colokan gengsi, terminal ambisi, charger pencitraan. Ya jelas cahaya Ilahi susah masuk. Bukan karena Allah pelit cahaya, tapi hati kita sudah kayak gudang flash sale—penuh barang nggak penting tapi tetap dipertahankan.

Makrifat Itu Bukan Ilmu Sulap

Sering orang mengira kedekatan dengan Allah itu identik dengan “kesaktian spiritual”: mimpi aneh, firasat tajam, atau aura bergetar 5G. Padahal kata sang kyai, pintu makrifat bukan dibuka dengan jurus “Tenaga Dalam Level Dewa”, tapi dengan jurus yang lebih berat: mengalahkan diri sendiri.

Plot twist-nya: musuh terberat ternyata bukan setan, tapi “aku”.
Dan “aku” ini licin. Bisa muncul pakai jubah ibadah.

“Aku paling ikhlas.”
Nah, kalau sudah bilang begitu… ya batal lagi 😅

Ikhlas: Kata Sederhana, Praktik Level Legenda

Ikhlas itu sering disangka mode hemat energi: pasrah, diem, nggak usah mikir. Padahal justru kebalikannya. Ikhlas itu hasil dari paham. Dari sadar betul siapa kita dan siapa Allah. Jadi bukan ibadah sambil mikir, “Semoga ada yang lihat story shalat tahajudku.”

Kyai menggambarkan ibadah yang benar itu mengalir alami—kayak angin berhembus, air mengalir, waktu berjalan. Bukan kayak orang diet yang tiap lima menit update:
“Masih kuat nggak makan gorengan, ya Allah…”

Ibadah yang tulus itu nggak berisik. Yang berisik biasanya… nafsunya.

Bersih Luar Dalam, Bukan Cuma Feed Instagram

Kita rajin wudhu, mandi, pakai baju bersih. Tapi hati?
Masih nyimpen:

  • Iri level profesional
  • Dendam edisi terbatas
  • Ujub premium package

Padahal kata kyai, membersihkan batin itu sama wajibnya dengan bersihin badan. Kalau badan bau, orang menjauh. Kalau hati bau… malaikat yang menjauh. Dan malaikat nggak bisa dibohongi pakai parfum kasturi.

Orang Bercahaya Itu Nggak Perlu Spotlight

Orang dekat Allah itu diibaratkan lampu. Dia nggak perlu teriak, “PERHATIKAN SAYA SEDANG BERSINAR!”
Dia cuma ada… tapi bikin terang.

Sementara kita kadang kayak lampu disko: nyala-mati, nyala-mati, plus berisik. Hari ini semangat ibadah, besok ngambek sama takdir, lusa debat kusir di komentar.

Kyai mengingatkan, hidup ini pendek. Jangan habisin waktu buat ribut, baper, dan debat yang ujungnya cuma nambah dosa jempol. Lebih baik duduk dekat “cahaya” daripada lama-lama nongkrong di kegelapan sambil merasa paling benar.

Soal Rezeki: Kita Panik, Allah Santai

Manusia sering stres mikirin rezeki masa depan, sampai lupa menikmati rezeki hari ini: masih bisa napas gratis, jantung berdetak tanpa langganan premium, dan masih bisa sujud.

Kyai menegaskan: rezeki itu bukan cuma uang. Bisa ibadah enak, hati tenang, badan sehat—itu juga rezeki. Bahkan tidur pun tetap dapat jatah hidup. Coba bayangin kalau napas pakai token listrik. Panik kita tiap malam.

Tawakal bukan berarti rebahan sambil nunggu uang jatuh dari langit. Itu mah namanya rebahan kreatif tanpa hasil. Tawakal itu usaha maksimal, hati tetap tenang. Kayak sudah kirim lamaran kerja: setelah itu ya doa, bukan refresh email tiap 30 detik sambil curiga ke takdir.

Akhirnya: Pulang dengan Ringan

Inti perjalanan rohani ini sederhana tapi berat dijalankan:
Kurangi beban yang bukan milik kita—gengsi, iri, haus pujian—supaya langkah menuju Allah jadi ringan.

Karena ternyata, yang bikin perjalanan terasa jauh itu bukan Allah yang jauh…
tapi kita yang bawa koper ego ukuran jumbo, plus tas tenteng berisi drama masa lalu.

Nasihat sang kyai mengajak kita jadi hamba yang wajar: ibadah tanpa pamer, hidup tanpa berlebihan, berharap tanpa cemas berlebihan. Pelan-pelan hati dibersihkan, sampai cahaya itu datang sendiri.

Dan saat cahaya itu sudah menyala…
kita nggak perlu bilang apa-apa.
Orang lain akan merasa hangat tanpa tahu kenapa.

Itulah tanda perjalanan pulang sudah dimulai. 🌿✨

abah-arul.blogspot.com., Februari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.